<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999</id><updated>2012-01-10T10:14:22.266+07:00</updated><title type='text'>Blognya KangAid</title><subtitle type='html'>Sedikit catatan untuk mengisi kekosongan waktu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6194243252747900197</id><published>2008-12-14T04:18:00.004+07:00</published><updated>2008-12-14T11:50:15.337+07:00</updated><title type='text'>Siapa Nama Tuhan Kita?</title><content type='html'>Semalam chatting sama teman. Dan tumben sekali kita bahas masalah dalam ranah filsafat. Tidak tanggung-tanggung lagi, kita bicara masalah Tuhan. Tapi ini hanya diskusi sekedar. Berikut penggalan diskusinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Teman) : ada info rid bwat menambah keyakinan kita pada kebesaran Allah&lt;br /&gt;(Teman) : kmarin baca republika&lt;br /&gt;(Teman) : tim peliput haji curhat &lt;br /&gt;(Teman) : bahwa mereka sedang melakukan thowaf ifadhah ada lafaz kalimatullah di    atas masjidil haram&lt;br /&gt;(Teman) : subhanallah&lt;br /&gt;(Teman) : jadi ingin sekali pergi kesana&lt;br /&gt;kang_aid: terekam?&lt;br /&gt;(Teman) : hanya bacaan, tapi gw sangat meyakininya berita itu benar&lt;br /&gt;kang_aid: lafaz allah itu dari bentuk awan?&lt;br /&gt;(Teman) : ia, kejadiannya pukul kira kira jam sembilan pagi, disaat cuaca sedang cerah diselimuti awan biru&lt;br /&gt;(Teman) : trus reporter itu curhat bahwa dia tidak bisa merekam kejadian tersebut &lt;br /&gt;(Teman) : karena jamaah sedang melakukan thowaf, jadi ga bisa berhenti&lt;br /&gt;(Teman) : padahal dia sudah berniat ingin sekali meliput lafaz Allah yang terbentuk awan&lt;br /&gt;(Teman) : dari pergi dia sudah siap merekam duduk dipinggir bagian pesawat &lt;br /&gt;(Teman) : tapi Allah tidak mengizinkannya&lt;br /&gt;(Teman) : dia melihatnya ketika sedang thowaf&lt;br /&gt;(Teman) : jadi tambah keyakinan ma kebesaran Allah&lt;br /&gt;(Teman) : walaupun hanya dengan membaca tulisan itu&lt;br /&gt;(Teman) : loh kok panjang banget ya gw nulis&lt;br /&gt;kang_aid: hahaha..... jadi inget, pernah lihat brosur atau pamflet di mana gitu lupa.... informasi tentang acara dialog... judulnya... "Mengapa Nama Tuhan Kita adalah ALLAH?"&lt;br /&gt;(Teman) : jawabannya apa&lt;br /&gt;kang_aid: yah ngga tahu... kan ngga ikut dialognya...&lt;br /&gt;(Teman) : wkwkwk&lt;br /&gt;kang_aid: kira2 jawabannya apa yah?? &lt;br /&gt;(Teman) : mang ada jawabannya ???????????????????&lt;br /&gt;(Teman) : gw rasa otak manusia ga mampu kali mikirnya&lt;br /&gt;kang_aid: iyah.... wong tuhan sendiri yang menyebut namannya dalam alquran&lt;br /&gt;kang_aid: ya kan pan??&lt;br /&gt;kang_aid: bahwa namannya adalah ALLAH&lt;br /&gt;(Teman) : ia tuh uztadz hebat banget klo bisa jawab ya&lt;br /&gt;kang_aid: tapi kalau gw baca di SEJARAH TUHAN nya Karen Amstrong, kalo ngga salah, ditinjau dari segi bahasa.... bahwa ALLAH itu artiya Tuhan yang Khusus...&lt;br /&gt;kang_aid: terdiri dari dua kata, AL menunjukkan kekhususan, sedangkan (I)lah artinya adalah (satu) Tuhan....&lt;br /&gt;(Teman) : tapi lebih tepatnya klo kita kaji surat AL IKHLASH dari awal sampai akhir&lt;br /&gt;(Teman) : kayanya disitu lebih akurat dan jelas banget ya&lt;br /&gt;kang_aid: Tapi orang2 sebelum islam menyebut tuhannya dengan sebutan Alihah... itu menunjukkan mereka menyembah banyak tuhan... alihah itu bentuk jamak dari ILAH&lt;br /&gt;kang_aid: Betul, di ayat ayat tauhid, salah satunya adalah al ihlas, memang di situ Tuhan kita mengenalkan dirinya dengan sebutan ALLAH&lt;br /&gt;kang_aid: bukan yang lain...&lt;br /&gt;kang_aid: kemungkinan di sini adalah, Tuhan kita, ALLAH, ingin mengatakan dan memberikan kabar bahwa Tuhan itu hanya satu.... tidak banyak seperti yang dipercayai orang2 sebelum islam...&lt;br /&gt;(Teman) : ia benar rid&lt;br /&gt;(Teman) : luw dapet darimana buku Karen Amstrong&lt;br /&gt;kang_aid: punya...&lt;br /&gt;kang_aid: emang dia itu seorang oreantalis&lt;br /&gt;kang_aid: tapi sering kali orang2 orientalis seperti dia, menilai islam dengan sangat objektif.... &lt;br /&gt;kang_aid: kira2 setuju ngga??&lt;br /&gt;(Teman) : ga tau ah rid&lt;br /&gt;(Teman) : ia iyalah&lt;br /&gt;kang_aid: paling ngga itu yang baru sampai infonya ke gw pan... jadi paling ngga kalo ada yang tanya jawaban gw sekitar itu.... paling ngga kita punya jawaban... tidak melulu yakin tapi tidak memiliki jawaban pendukung tentang keyakinan kita &lt;br /&gt;kang_aid: coba lihat surat thaha &lt;br /&gt;(Teman) : gw ga pegang alqur'an rid&lt;br /&gt;kang_aid: cari aja di internet&lt;br /&gt;(Teman) : udah bahas aja, males nyarinya&lt;br /&gt;kang_aid: emang ga kepingin tahu yah.... ngga penasaran yah?&lt;br /&gt;(Teman) : ia pingin lah rid&lt;br /&gt;kang_aid: di ayat 14 ada artinya gini "SUNGGUH, AKU INI ALLAH, tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat aku”&lt;br /&gt;kang_aid: terbukti.... dan ini jawabannya.... bahwa Allah mengenalkan dirinya sendiri kepada manusia dengan nama ALLAH&lt;br /&gt;kang_aid: tentang kenapa dia menamakan dirinya adalah allah.... itu terlalu dalam.... kalau kita analogikan dengan bayi yang dinamakan oleh orang tuanya... itu jelas analogi yang tidak bisa disematkan pada allah yang mukhalafatu lilhawadits&lt;br /&gt;(Teman) : rid, thanks dah ada tambahan ilmunya&lt;br /&gt;(Teman) : rid pamit dulu ya&lt;br /&gt;(Teman) : dah ngantuk kayanya nih&lt;br /&gt;kang_aid: siap... thx atas advice nya&lt;br /&gt;(Teman) : mo tidur dulu ah, ngantukk&lt;br /&gt;(Teman) : walaupun masih ada yang main&lt;br /&gt;(Teman) : tapi gw dah ngantuk, bobo dulu sekejap&lt;br /&gt;kang_aid: ga papa&lt;br /&gt;(Teman) : ok deh wassalamu'alaikum&lt;br /&gt;kang_aid: alaikum salam&lt;br /&gt;kang_aid: (kapan2 bahas tentang salam)&lt;br /&gt;(Teman) : insya allah&lt;br /&gt;(Teman) : ok deh&lt;br /&gt;(Teman) sudah sign out. (12/14/2008 2:41 AM)&lt;br /&gt;------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6194243252747900197?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6194243252747900197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6194243252747900197&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6194243252747900197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6194243252747900197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/12/diskusi-sekedar-dari-masalah-hukum.html' title='Siapa Nama Tuhan Kita?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6301311468224825658</id><published>2008-12-12T00:13:00.004+07:00</published><updated>2008-12-12T00:23:01.084+07:00</updated><title type='text'>Menulis, Kopi, Iwan Fals, dan Konsep Hidup</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mulai dari mana yah? huuh…. bingung. Sudah lama sekali soalnya tidak menulis. Untuk memulai lagi itu rasanya sulit, setelah sekian lama absen mengisi blog ini. Tapi coba dipaksakan deh…. Walau mungkin tulisan ini akan sedikit membosankan. Karena, paling hanya berisi curhatan seorang yang sedang bingung. Kebingungan yang bukan saja hanya pada pencarian ide untuk menulis, tetapi juga kebingungan untuk mencari IDE sebuah kehidupan. Ah, terlalu berat rasanya untuk bicara sebuah IDE kehidupan, apalagi pada sebuah keberanian menulis yang baru lagi muncul.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja buat kopi dulu untuk menemani menulis. Yang kebetulan ide kesengajaan itu timbul karena gambar sebuah cangkir kopi di head blog ini dan juga warna coklatnya yang sangat membuat hati saya selalu tenang dan sebuah warna kesukaan saya. Yah, sengaja memang. Tapi itu harus dihargai, karena itu juga sebuah ide, meski sederhana. Dengan sebuah harapan sih tentunya. Yaitu penemuan sebuah ide untuk menulis. Walau sampai baris ini, belum juga ada ide yang merasuki imaji saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srup…srup… nikmatnya kopi ini. Tapi saya tidak ingin membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah peran pentingnya dalam membimbing keberanian saya untuk menulis saat ini adalah Iwan Fals yang terus saja dan tak berhenti  menyanyikan lagunya. Musiknya yang sederhana seperti menghantarkan saya pada sebuah kehidupan lain. Kehidupan di luar sombongnya  rutinitas yang masih saja tak pernah berhenti. Kehidupan yang hampir-hampir berhasil membuat saya merasa nyaman dan tak mau pergi dari kemapanan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srup…srup… nikmatnya kopi ini. Tapi, lagi-lagi, saya tidak ingin membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= = = = = = = =&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita menjalani hidup ini, seperti tidak memiliki konsep. Padahal konsep itu sejatinya ada, tapi kita hanya tidak menyadarinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saja contohnya. Ada sebuah dialog menarik dengan teman baru -rumah kos- di atas sebuah sepeda motor usang. Ide dialog itu bermula dari sebuah warung kumuh yang menjual nasi uduk dengan sepasang tua renta yang menjadi pemilik sekaligus pelayannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Penjualnya itu sepertinya orang betawi bekasi yah, rid”.&lt;/em&gt; Sebuah dialog bermula. Pertanyaan ini muncul karena, mungkin, teman saya merasa heran perihal keakraban saya dengan sepasang tua renta penjual nasi uduk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Iyah. Orang betawi. Kebetulan udah lama ngga makan di sana”. &lt;/em&gt;Saya menerangkan tentang sudah jarangnya saya makan di tempat enyak, sebutan untuk penjualnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Oh….Iyah. Aku dah ngira sih kayaknya betawi banget. Betawi bekasi gitu”&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kalau makan di sana, seperti terasa di kampung sendiri, Jadi, dulu saya sering makan di sana.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Oh…”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Nikmat kalau sudah ngobrol sama mereka, tidak perlu mikir”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hahaha”&lt;/em&gt;  Teman  saya hanya tertawa ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali kalau lagi sendirian dan sedang merasakan hati yang kesepian di malam hari, saya datang ke sana.  Walau hanya makan kue lopisnya saja, sebagai alasan, saya mengobrol dengan “nyak” dan “baba” – panggilan untuk sepasang suami-istri tua renta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog di atas terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Dan setelahnya, saya berpikir kembali tentang ucapan saya pada kalimat terakhir. Yang agak sedikit terasa menyepelakan orang tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya pikir-pikir lagi ucapan saya itu, karena memang dalam hati ini tidak ada niat menyepelekan mereka. Dan tiba-tiba sebuah konsep perjalanan hidup saya dengan sendirinya menguak dan muncul ke permukaan dengan sangat jelas dengan diawali sebuah pertanyaan. Mengapa saya sangat senang saling bercerita dengan sepasang tua renta itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya mulai menyadari, dan berani menjawab sendiri pertanyaan di atas. Kalau mengobrol dengan sepasang tua renta itu memang tidak perlu berpikir dengan otak, karena  mereka mengajak berdialog dengan hati. Dan hati adalah pusat ketenangan. Dan ketenangan adalah sebab dari kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin saya lanjutkan kalimat terakhir saya dari sebuah dialog di atas dan ini menurut saya sebuah konsep kesenangan bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Nikmat kalau sudah ngobrol sama mereka, tidak perlu mikir, &lt;strong&gt;karena mereka bercerita dengan HATI&lt;/strong&gt;”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= = = = = = = = =&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srup…srup… tegukan terakhir. Nikmatnya kopi ini. Alhamdulilah, saya tidak membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6301311468224825658?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6301311468224825658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6301311468224825658&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6301311468224825658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6301311468224825658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/12/menulis-kopi-iwan-fals-dan-konsep-hidup.html' title='Menulis, Kopi, Iwan Fals, dan Konsep Hidup'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6173259268282705500</id><published>2008-12-03T00:36:00.002+07:00</published><updated>2008-12-03T00:39:15.515+07:00</updated><title type='text'>Tuhan (pun) Berlogika</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa minggu lalu, saya dengan beberapa teman  mendapat panggilan untuk mengikuti ujian dinas kenaikan pangkat.  Sebuah ujian yang kelulusannya dapat membuat golongan kami menanjak lebih tinggi. Ujian ini juga seringkali menjadi sebuah “hantu” bagi para pesertanya. Banyak orang yang tertunda kenaikan pangkatnya karena tidak lulus dalam ujian ini. Walaupun banyak juga yang berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ujian selesai dilaksanakan. Beberapa hari  setelahnya.  Salah seorang teman saya pernah nyeletuk kepada saya, ketika saya keluar, setelah berada agak lama di dalam mesjid untuk berdoa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Rid…rid…. Percuma kalau doa minta lulus ujian dinas sekarang. Ngga ngaruh. Harusnya doa minta kelulusannya sebelum ujian… ngga setelah ujian. Ngga logis.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Saya hanya tersenyum membalasnya, walau hati sedikit bergejolak. Kalau dipikir secara logika, itu bisa dibenarkan.  Usaha kita, belajar sekaligus berdoa, itu memang seharusnya berada di awal. Wong ujiannya sudah. Sejatinya hasilnya sudah ada. Minta atau tidak minta, yah tidak akan pengaruh, karena memang  hasilnya, sejatinya, telah ada.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam hati saya, entah kenapa, ada keyakinan lain. Sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa logikanya  itu salah. Logika manusia hanya sebuah logika yang partikular. Logika person per person. Dan saya juga yakin bahwa ada logika yang lebih tinggi dari logika manusia yang sifatnya partikular, yaitu logika yang universal.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika pikiran nalar manusia telah kehilangan “benang”-nya, karena terbatasi (dibaca: terputus)  oleh tingkat kecerdasan dan pengalamannya  yang mengharuskan ada “titik” yang tak bisa dihindari. Namun, logika universal  tak akan pernah kehabisan “benang”-nya dan dapat mengganti “titik” menjadi hanya sebuah “koma”. Tapi tentunya, sebagai manusia,  hal ini membutuhkan sebuah “keyakinan” atau “iman” untuk menerima logika tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;   &lt;br /&gt; Dengan nada yang sedikit rendah, mungkin tak terdengar, saya menjawab &lt;em&gt;“Ah…, Tuhan juga punya logika, Kang.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6173259268282705500?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6173259268282705500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6173259268282705500&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6173259268282705500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6173259268282705500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/12/tuhan-pun-berlogika.html' title='Tuhan (pun) Berlogika'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-5144378771478932098</id><published>2008-05-19T09:02:00.001+07:00</published><updated>2008-05-19T09:04:22.525+07:00</updated><title type='text'>Belajar Hidup untuk Sukses</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saat lari pagi bersama teman-teman, saya didatangi oleh seorang wanita. Nampak ia membawa sebuah buku. Dari gelagatnya sepertinya wanita ini ingin menawarkan sebuah buku yang berada di tangannya itu. Yah, seorang sales wanita dengan warna pakaian persis sama dengan bukunya. Ternyata ia adalah tim sukses atas penerbitan buku itu. Begitu akunya. Dia khusus mendatangi saya, padahal saya sedang bersama teman-teman yang lain saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menawarkan sebuah buku motivasi untuk menjadi orang sukses. Dengan berbagai cara ia menjelaskan dan menceritakan buku itu. Akhirnya, saya langsung meminta wanita itu untuk menyimpulkan bukunya dengan kalimat yang singkat. Dan ia menjawab dengan mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan singkat buku itu, “Ku tahu yang ku mau!” Entah maksudnya apa(?).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu bilang kepada saya bahwa buku itu menjelaskan seberapa pentingnya kita belajar dari orang-orang besar. Entah mengapa saya tertarik untuk berpikir menyalahkan persepsinya, mungkin tepatnya persepsi dari buku itu. Padahal kalau saja wanita itu tahu, saya banyak belajar darinya. Bagaimana ia begitu kuat dan ulet ketika ia berusaha menjual buku itu kepada beragam orang dan bagaimana pandainya ia berbicara dengan santun juga kepada setiap orang yang ditemuinya, termasuk saya. Dan itu terbukti saya bisa mengambil pelajaran bukan dari orang-orang besar saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat juga dengan perkataan teman saya di suatu malam saat kita berdiskusi masalah arti sukses di sebuah warung makan nasi goreng di kawasan selatan Jakarta. Kebetulan dia adalah seorang penjaga toko. Dia bilang kepada saya bahwa seharusnya ia banyak belajar kepada orang-orang hebat untuk menjadi pribadi yang sukses. Ia malu pada keadaan dirinya. Ia merasa malu karena teman-temannya telah banyak yang, menurutnya, telah sukses dengan pekerjan yang layak. Sedangkan ia belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat itu ada benarnya, namun saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, kita bisa belajar dari siapa saja, tidak terkecuali dari seorang pengamen jalanan atau tukang koran dijalan atau bahkan dari anak kecil sekalipun. Dan saya tak habis pikir kenapa sales wanita dan teman saya itu tidak berpikir sama dengan saya bahwa kita tidak mesti selalu belajar dari orang-orang besar, toh dari orang-orang lemah pun kita bisa banyak mengambil pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata jelas mengapa mereka dan saya berbeda pendapat. Hal itu karena sukses menurut mereka adalah sebuah materi yang banyak dan berlimpah. Menurut mereka kesuksesan itu berarti uang banyak, rumah besar, mobil mewah, ekerjaan layak dan lain sebagainya. Sedangkan menurut saya sukses itu sangat erat kaitannya dengan “kekayaan hati”. Ketika saya merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang saya punya itu berarti kesuksesan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang harus mereka dan saya pelajari adalah bagaimana caranya bisa senang dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Keadaan bersyukur disini bukan berarti kita harus puas dan tidak perlu meningkatkannya. Karena agama, sejalan dengan sosial-budaya, memerintahkan kita untuk selalu ikhtiar dalam hidup, baik ikhtiar yang sifatnya mengumpulkan materi maupun ikhtiar yang sifatnya menguatkan hati.&lt;br /&gt; Saya jadi ingat ketika seorang sahabat, yang sangat dekat dan mengenal saya, tiba-tiba menegur bahwa seharusnya saya banyak belajar dari anak-anak kecil. Saat itu saya tidak tahu apa maksud dari perkataannya itu. Ketika saya tanyakan maksud dari kalimatnya itu, dia hanya menjawab nanti kamu juga akan mengerti.  Dan ketika saya pikirikan, ternyata anak kecil itu sangat ikhlas, tulus, total dan jujur dalam melakukan sesuatu. Sangat berbeda dengan saya yang masih sering tidak tulus dan jujur dalam bertindak. Ternyata saya belum sukses dalam hidup. Mungkin saya cukup dalam meteri, tapi tidak dengan hati. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-5144378771478932098?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/5144378771478932098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=5144378771478932098&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5144378771478932098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5144378771478932098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/05/belajar-hidup-untuk-sukses.html' title='Belajar Hidup untuk Sukses'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4064836758970897680</id><published>2008-05-16T10:08:00.001+07:00</published><updated>2008-05-16T10:08:56.702+07:00</updated><title type='text'>Bapak, Malam Ini...</title><content type='html'>Malam membidani kerinduan&lt;br /&gt;Sosok pahlawan yang telah lama hilang&lt;br /&gt;Bersama debu yang menutupi&lt;br /&gt;Dengan sebongkah nisan yang mematri&lt;br /&gt;Sunyi menusuk memori&lt;br /&gt;Kenangan indah dimanja dan dikasihi&lt;br /&gt;Dibuai, digendong, dan dipeluk erat&lt;br /&gt;Dan sebuah dongeng pengantar lelap&lt;br /&gt;Senyap memeras air mata&lt;br /&gt;Terngiang suara berat dalam nasehat&lt;br /&gt;Seyuman yang tak hilang dalam marah&lt;br /&gt;Dihiasi bau hangat tubuh yang jumawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak, malam ini aku rindukanmu…&lt;br /&gt;Dan entah pada malam yang mana lagi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4064836758970897680?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4064836758970897680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4064836758970897680&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4064836758970897680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4064836758970897680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/05/bapak-malam-ini.html' title='Bapak, Malam Ini...'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8496613361837964292</id><published>2008-05-16T10:06:00.001+07:00</published><updated>2008-05-16T10:06:59.686+07:00</updated><title type='text'>Diam: Hubungan Bathin dan Lahir</title><content type='html'>Rasul pernah menegur seseorang yang anggota tubuhnya banyak bergerak di dalam shalat, beliau berkata setelah orang itu shalat, “Apabila hatimu khusyuk ketika shalat tadi, maka khusyuk pula seluruh anggota tubuhmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn ‘Atha’illah pernah berkata, “Apa yang tersimpan dalam kegaiban hati, akan teraktualisasikan (termanifestasikan) di dunia nyata”. Dalam kesempatan lain dia menuliskan, juga termaktub dalam magnum opus-nya -al-Hikam, “Setiap ucapan yang keluar pasti menunjukkan kondisi hati yang mengucapkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ‘Atha’illah menyatakan bahwa apa yang tersimpan dalam hati itu akan dimengerti lewat sikap dan ucapan seseorang, tentunya secara tidak langsung ia percaya bahwa tingkat kearifan, kedewasaan, atau kejumawaan seorang terhadap ilmu dapat terukur atau diukur. Hal ini tidak jauh berbeda dengan teguran Rosul pada seseorang yang banyak menggerakkan anggota tubuhnya dalam shalatnya dengan memberikan sebuah nlai atau ukuran terhadap shalatnya. Khusyuk dan ketidak khusyuk-an seseorang dalam shalat ternyata bisa dilihat dan dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang atas apa yang dikatakan sang maestro hikmah (dibaca: ‘arif),  Ibn ‘Atha’illah, di atas, sepertinya beliau ingin mengajak supaya manusia itu seharusnya lebih banyak diam dan bersikap tenang. Hal ini senada dengan ungkapan “silent is golden”. Diam itu adalah bagai sebuah emas permata. Namun saya masih sepakat dengan pendapat sebagian orang, bahwasanya diam itu tidak berarti tak mengerti. Dan tenang itu bukan berarti pasif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaludin Rumi, seorang penyair sufi, pernah menuliskan sebuah kalimat,&lt;br /&gt;“Hatiku penuh dengan kata-kata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena itu tak kuucapkan sepatah pun suara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menebak atau mengartikan kalimat penyair sufi itu. Karena kalau dilihat secara tekstual, kalimat dan anak kalimat di atas tidak sejalan. Tapi barangkali kalimat itu mengandung kedalaman pikiran seseorang yang selalu dan lama dalam sebuah perenungan tasawuf. Atau barangkali itu adalah pernyataan seseorang arif  yang berada dalam suatu zaman yang tidak mudah. Namun yang pasti, ketika Rumi tidak bersuara atau diam, tidak berarti ia tak punya kata-kata atau pandangan terhadap sesuatu. Terbukti dengan banyaknya buah pemikiran dari Rumi melalui kitab-kitab yang dituliskannya. Mungkin dia berpendapat bahwa tidak semua kata-kata dan pandangan terhadap sesuatu itu harus dituliskan dan dijadikan sebuah kitab. Lagi-lagi semua itu adalah sebab atas perlakuan zaman yang berbeda. Mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Persia, pernah ada seseorang yang bernama Omar Khayyam. Seorang yang terkenal dengan sajak-sajaknya dalam bentuk rubayyat. Meskipun ia lebih dikenal karena sajak-sajaknya, bukan berarti dia hanya pandai pada sastra. Sebenarnya dia adalah seorang ahli matematika, juga astronom. Dia adalah seorang pengikut dari Ibnu Sinna. Namun ia memilih tidak menunjukkannya atau lebih memilih diam. Rumi pernah berkata tentangnya, “hatinya penuh dengan isi, tapi ia tak mencoba mengundang orang lain bertukar pikiran”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang berbeda sekali pribadi Socrates dengan Khayyam. Ketika Khayyam lebih banyak diam dan lebih memilih menuliskan segala macam pikirannya lewat sajak-sajaknya, berbeda dengan Socrates, ia seorang yang tidak pernah menuliskan buah pikirannya. Ia lebih suka berdiskusi. Namun diskusi yang ia lakoni bermula dari seringnya ia mendengar pendapat-pendapat yang menurutnya tidak sesuai. Benar adanya bahwa Socrates pernah mengatakan,  Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Itu artinya seharusnya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu hasfah pernah berkata, “Indahnya adab secara lahir mencerminkan apa yang tersembunyi di dalam batin”. Dengan perkataan itu kita sepertinya dapat mengambil hikmah bahwa yang tersembunyi pada hati dan pikiran, yaitu berupa cahaya ilahi, makrifat, dan ilmu, akan mempengaruhi gerak-gerik pada anggota tubuh atau lahiriah seseorang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8496613361837964292?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8496613361837964292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8496613361837964292&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8496613361837964292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8496613361837964292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/05/diam-hubungan-bathin-dan-lahir.html' title='Diam: Hubungan Bathin dan Lahir'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-7293248427790598151</id><published>2008-05-16T10:04:00.000+07:00</published><updated>2008-05-16T10:06:01.417+07:00</updated><title type='text'>"Transaksi" Sebuah Maaf</title><content type='html'>Ibunda Malin Kundang sejatinya tak pernah tega, dan mungkin ada rasa penyesalan, ketika mengutuk anaknya menjadi sebuah batu.  Atau sebenarnya kutukan itu adalah sebuah kasih sayang dalam bentuk lain yang diberikannya kepada sang anak, Malin Kundang. Namun, kutukan sang ibu itu hanyalah sebuah reaksi dari “transaksi” maaf-memaafkan yang “sulit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga ingat ketika Musa membawa para budak fir’aun yang dibebaskan ke negeri yang dijanjikan Tuhannya. Disaat sebagian kaum yang dijanjikan merasa tidak puas dengan Tuhan yang tidak berbentuk atau, paling tidak, ter-representasi-kan oleh sesuatu, Musa dalam hati kecilnya, sebagai manusia yang manusiawi, tak pernah merestui perbuatannya membunuh sebagian dari pada mereka, padahal mereka dalam keadaan sudah kalah dan berlutut, karena telah melakukan kesyirikan dan pelanggaran setelah janjinya. Tetap ada air mata ketika eksekusi. Namun, pebunuhan itu hanyalah sebuah reaksi dari “transaksi” maaf-memaafkan yang “sulit”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan itu lebih sulit dari pada meminta maaf. Ah, atau terbalik. Sebenarnya, lebih sulit meminta maaf dari pada memaafkan. Tapi mungkin jawaban dari semuanya adalah tergantung. Karena memang hidup dalam dunia yang fana ini tak pernah ada yang pasti dalam keterikatan yang kuat. Semuanya selalu menggantung, tergantung, atau digantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pernyataan diatas akan sangat berbeda ketika kita mendengar perkataan ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam, “Engkau merdeka dari segala yang engkau berlepasdiri darinya, dan engkau adalah budak dari segala sesuatu yang engkau tamak terhadapnya”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-7293248427790598151?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/7293248427790598151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=7293248427790598151&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7293248427790598151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7293248427790598151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/05/transaksi-sebuah-maaf.html' title='&quot;Transaksi&quot; Sebuah Maaf'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-5996196704001514709</id><published>2008-05-16T10:02:00.000+07:00</published><updated>2008-05-16T10:04:09.319+07:00</updated><title type='text'>Kuntoyo</title><content type='html'>Akhirnya saya melihat lagi Pak Kuntoyo, satpam kantor, setelah hampir dua minggu tidak menjenguknya. Sebenarnya kemarin saya sempat datang ke rumah sakit umum di Bekasi untuk menjenguknya, sekalian menjenguk orang tua dari teman lama yang kebetulan dirawat di tempat yang sama. Apa mau dikata, ternyata saya tidak tahu kabar bahwa beliau sudah kembali ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kuntoyo adalah satpam di gedung kantor saya sejak pertama kali kantor saya pindah. Dia adalah seseorang yang sangat berusaha friendly terhadap siapa saja. Walau asli jawa, tapi sudah sangat medok logat betawinya. Di Bekasi, ia tinggal bertiga dengan istri dan seorang putri di sebuah rumah petak yang ia sewa per bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah termasuk seorang satpam senior. Pengalamannya telah banyak sekali menjadi seorang pengaman gedung. Pernah dahulu, menurut ceritanya, ia menjadi satpam di suatu bioskop di bekasi. Jaringannya sangat luas. Teman-temannya sangat banyak. Itulah bukti bahwa dia sangat friendly terhadap siapa saja. Tertawanya sangat khas, walau kadang berlebihan. Tapi itulah salah satu kelebihannya sehingga kita tak pernah bosan berbicara dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====================   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi otak. Penyakit itu yang menjadi diagnosa dokter. Namun kabar pertama yang saya dengar dari teman-teman cleaning, dua minggu lalu, adalah serangan gejala stroke. Ketika mendengar kabar tersebut, yang pertama kali saya dengar dari Pak Kurniadi, hari itu juga saya langsung bergegas untuk menjenguknya bersama teman-teman cleaning dan security kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan tangan saya tak kunjung dilepasnya saat awal bertemu dengannya. Namun genggaman tangannya dihiasi dengan tatapan mata yang kosong. Ia sempat merintih kesakitan. Namun tetap jabatan tangan saya sulit sekali untuk dilepaskan. Dia terus menggenggam tangan saya. Dalam hati saya menangis mendengar rintihannya. Ingin sekali melepaskan tanganya dan berbalik meninggalkannya karena saya sangat tidak kuat menghadapi tatapan dan rintihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, apakah Engkau tidak punya rasa kasihan memberikan penyakit ini untuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, apakah ujian ini tidak terlalu berat untuk ditanggung keluargnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, tidakkah Engkau punya mata, telinga, dan hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau apakah cobaan ini adalah jalan terbaikMu untuk dia dan keluarganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau apakah sebenarnya ujian ini semata bukan hanya untuknya, melainkan juga untuk orang-orang disampingnya, teman-temannya, dan para atasannya untuk saling berbagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, saat ini pintaku hanya satu, berilah kesabaran dan keikhlasan atasnya dan keluarganya. Karena saya yakin inilah sejatinya hidup, Sabar dan Ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat dalam hati tak terhindarkan sesaat setelah genggaman tangannya terlepas. Ada rasa menggugat, walaupun pada akhirnya saya berusaha mengerti takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan. Karena memang itu tugas kita sebagai manusia di dunia ini. berusaha mengerti dalam setiap takdirNya. Itulah hakikat sabar dan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selasa, 13 Mei 2008. Saya di telepon oleh Pak Kurniadi. …Id, mau jenguk Pak Kuntoyo? Dia mau pulang ke Jawa jam 9 pagi ini… Kabar kepulangannya yang sebenarnya telah saya ketahui sejak kemarin. Jam saat itu menunjukkan pukul 8 lebih. Akhirnya saya mengiyakan ajakan Pak Kurniadi, kepala seksi saya. Kembali seperti jengukan sebelumnya, teman-teman claning dan security kantor pun ikut turut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua naik sepeda motor, karena rumahnya berada di suatu gang dengan jalan yang tidak besar. Ketika sampai di rumah kontrakannya, terlihat begitu banyak orang. Sepertinya mereka telah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu  kami menyapa dan bersalaman dengan Pak Kuntoyo. Tubuhnya semakin terlihat kurus dan lusuh. Matanya yang sangat cekung memberikan tatapan yang kosong. Dia tidak kenal kami. Ingatannya seperti menghilang. Ia seperti kembali menjadi bayi, tanpa suara tak bisa bicara. Gerakannya pun dibantu oleh sang istri. Walau akhirnya tersurat senyum di bibirnya, namun masih terlihat memaksa, karena tatapannya kembali kosong. Kembali hati saya terasa sakit. Melihat seorang teman ngobrol disaat lembur saya, tidak mengenali saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah yang terjadi. Pak Kuntoyo akhirnya memang harus menjalani tahap ini. Tahap dimana memang terasa sulit untuk menerimanya. Infeksi Otak. Penyakit yang, mungkin, tak pernah terpikirkan oleh dia dan keluarganya, namun akhirnya menjadi sesuatu yang harus mereka hadapi. Entah ini sebuah sandungan atau ini sebuah lubang besar, tergantung dari sudut apa mereka atau kita ingin memandangnya. Yang saya yakini adalah bahwa baik atau tidaknya af’al Tuhan itu tergantung atas bagaimana kita memandangnya dan meyakininya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan rasa berat hati, kami semua akhirnya kembali dan berpisah dengannya, entah untuk waktu yang berapa lama. Dan hidup serta waktu harus tetap bergulir seperti daun-daun yang tak henti berguguran dari pohonnya. Lekas sembuh, Pak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya persembahkan untuk Pak Kuntoyo. Karena, mungkin, itu adalah pertemuan terakhir saya dengannya. Dia  telah pulang ke kampung halamannya, entah untuk waktu yang sebentar, lama, atau sangat lama, atau bahkan untuk selamanya. Tapi saya berharap kita dapat bertemu kembali, walau entah kapan dan dimana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-5996196704001514709?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/5996196704001514709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=5996196704001514709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5996196704001514709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5996196704001514709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/05/kuntoyo.html' title='Kuntoyo'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-1059836809948040709</id><published>2008-01-28T17:10:00.001+07:00</published><updated>2008-01-28T17:10:23.567+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Pak Harto…</title><content type='html'>Akhirnya kita, rakyat Indonesia, berkabung – bagi yang merasa berkabung. Innalillahi Wa Innailaihi Raaji’uun. Tanggal 27 Januari 2008, tepat pukul 13.10 WIB, menjadi hari yang sangat bersejarah. Mudah-mudahan semua amal kebaikannya menjadi pengawal bagi kehidupannya yang abadi kelak. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis, saya sengaja sambil mendengar radio yang sedang membahas tentang kematian mantan presiden Soeharto, dan saya sedikit terenyuh. Bagaimana saya tidak merasa terenyuh, ketika penyiar radio tersebut membacakan beberapa pesan singkat dari para pendengarnya. Banyak yang ikut berduka, tetapi lebih banyak lagi yang menyatakan kebenciannya. Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, Bagaimanakah seharusnya kita menyikapinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia memang kita mesti mempunyai pandangan subyektif. Ketika saya bertanya kepada hati saya, ada jawaban subyektif yang menjawabya. Saya lebih memilih memaafkannya. Jawaban subyektif itu muncul tentunya tidak begitu saja muncul. Ada beberapa pandangan yang bersifat moral-religi-humanis sebagai nafasnya. Ketika saya memandang hukum, yang sejatinya hanya menjadi perangkat dalam menegakkan kebenaran, tidak bisa ditegakkan, saya lebih memilih perangkat lain. Perangkat itu adalah kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dikesempatan lain saya setuju dengan pendapat Cak Nun yang menyatakan bahwa dalam menegakkan kebenaran, sejatinya, tidak bisa dengan Cinta, yang memiliki kesan subyektif. Namun penegakan kebenaran seharusnya dengan objektivitas, bukti-bukti, dan tentu saja perangkat hukum. Tapi, sayang sekali, sering kali hukum dikalahkan oleh Subyekivitas, lebih-lebih jika hukum itu tidak pernah ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban subjektif saya tentu saja didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman saya tentang kehidupan mantan presiden Soeharto. Apalagi dengan kenyataan sekarang ini yang saya rasakan tidak pernah se-sejahtera rakyat miskin di zaman Soeharto. Banyak prestasi yang ia dapatkan atas semua kebijakan dan keputusan beliau, walau sebagian masyarakat menganggap semua itu adalah suatu kebijakan dan keputusan diktatoris atau otoritatoris. Tapi tentu saja, sebagai manusia, beliau memiliki kesalahan dan kekurangan. Tentu yang paling kita sadari adalah kesalahan atau pelanggaran atas Hak Asasi Manusia (HAM) yang sampai sekarang ini masih saja dituntut kejelasan hukumnya dari keluarga dan kerabat para korban, namun belum berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari keharusan kita untuk memaafkannya atau tidak memaafkannya, karena itu adalah hak masing-masing orang, Di sebuah stasiun TV ada sebuah wawancara dengan seorang ibu bernama “Bu Siti”. Ibu Siti adalah seorang yang berasal dari purwokerto. Ketika dia ditanya tujuannya datang ke Jakarta, ia menjawab, bahwa ia ingin sekali menjenguk Mantan Presiden Soeharto yang sedang dirawat di RSPP, walau setelah itu ia juga ingin kerumah saudaranya. Namun ketika ia datang ke RSPP untuk menjenguk atau melihat suasana di sana, dia hanya mendengar bahwa Pak Harto telah meninggal dan telah dipulangkan ke Cendana. Lalu dengan niat yang mantap, berbeda dengan niat semula yang hanya ingin menjenguk, beliau langsung pergi ke Cendana untuk melayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia ditanya kesan-kesan masa kepemimpinan Pak Harto ia menjawab bahwa saat Pak Harto memimpin yang ia tahu adalah bahwa Pak Harto itu sangat peduli dengan rakyat miskin. Wajar saja jawaban dari Ibu Siti yang memang dari kalangan orang kecil juga. Lalu ia lanjutkan jawabannya dengan menyatakan bahwa sebagai orang kecil yang ia tahu adalah murah beli beras, beli tempe tidak mahal, atau beli minyak tidak mengantri. Dia menambahkan bahwa hal itu berbeda sekali dengan sekarang yang tempe sudah sangat mahal, beras banyak yang oplosan dan mahal, serta minyak sudah jarang sekali sehingga seringkali untuk mendapatkannya harus antri beberapa jam. Tapi itu hanya sebuah dialog kecil dengan salah satu orang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga tidak akan pernah mengenyampingkan orang-orang yang pernah menjadi korban atau salah satu keluarganya atau saudaranya yang pernah jadi korban rezim Orde Baru. Saya yakin pendapat mereka sangat bertolak belakang dari pendapat Ibu Siti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini yang saya yakini adalah bahwa kesalahan ini bersifat kolektif. Kesalahan tidak semata-mata milik Pak Harto. Kesalahan adalah milik bersama, milik bangasa Indonesia yang selama 32 tahun tidak berani menentang dan membiarkan setiap kebijakan dan tindakan negatif Pak Harto. Walau saya tahu bahwa sangat berat tantangannya saat itu jika kita berani bersuara dan bilang “tidak” atas tindakan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memaafkan beliau, tapi saya tidak memaksakan yang lain untuk memaafkannya. Kalau memang harus diselesaikan secara hukum, ya monggo. Karena saya tahu pengalaman dan pengetahuan kita berbeda. Wajar saja kalau tindakan kita berbeda. Yang penting kita bisa ambil pelajaran dari peristiwa ini. Itu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Soeharto telah tutup usia. Sekarang marilah kita mengambil pelajaran dari kejadian ini. Bahwa kita seharusnya tidak mencintai seseorang dengan sangat mencintai, bahkan sampai mengkultuskan, dan juga tidak membenci seseorang dengan sangat membencinya. Kesalahan ini terbukti dengan menjabatnya Soeharto selama 32 tahun menjadi Presiden Ri dan ketika ia diturunkan dari singgasana kepemimpinan hingga wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Kita harus berubah. Karena zaman akan terus berubah. Dan semua pendapat juga akan terus berubah. Karena yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-1059836809948040709?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/1059836809948040709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=1059836809948040709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1059836809948040709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1059836809948040709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-pak-harto.html' title='Selamat Jalan Pak Harto…'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6900143965538496182</id><published>2008-01-28T17:09:00.001+07:00</published><updated>2008-01-28T17:09:49.990+07:00</updated><title type='text'>Aliran (sesat)</title><content type='html'>Seorang yang sudah saya anggap seperi orang tua saya sendiri suatu saat datang menghampiri saya. Dari mulutnya saya mendengar sebuah pertanyaan yang sangat tidak terduga. Dia menanyakan tentang bagaimana menyikapi terhadap banyaknya aliran-aliran yang muncul saat ini. Dia merasa tidak nyaman dengan peristiwa ini. Pertanyaan yang sebenarnya juga pernah mengusik ketenangan dalam diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa sekarang ini banyak sekali aliran-aliran yang bermunculan. Dari alilran yang menganggap suci kalangannya sendiri sampai aliran yang mengatakan ada nabi terakhir setelah nabi Muhammad. Dan aliran-airan itu masih menganggap bahwa aliran-aliran mereka masih dalam koridor agama Islam.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dari orang tua saya itu memang sangat diwajarkan. Namun saya mengerti bahwa orang tua saya itu merasa tidak nyaman bukan dengan munculnya aliran-aliran itu -walaupun munculnya aliran-aliran itu juga harus menjadi koreksi bagi keberagamaan kita-,  tetapi dengan banyaknya reaktif yang berlebihan dari masyarakat islam. Beliau tidak merasa nyaman dengan adaya kekerasan dan pertengkaran antar muslim akibat terciptanya perbedaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu memang harus kita pikirkan. Dan memang seharusnya membuat kita tidak merasa nyaman. Kalau saja yang bertengkar itu pernah menghayati sebuah hadis yang memiliki isi bahwa sayangilah saudaramu sepeti kamu menyayangi dirimu sendiri, pertengkaran dan keonaran seharusnya tidak pernah terjadi. Namun sayang yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka masih sangat menyayangi diri dan golongan mereka sendiri dari pada harus berbagi kasih sayang dengan yang lain. Dalam kaitannya di sini, kita jangan mengartikan Saudara itu hanya teman seliran atau seagama, namun lebih dari itu. Kita hidup di dunia ini semuanya bersaudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ibadah vertikal atau ibadah horizontal kita menjadi terganggu dengan adanya alliran-alliran itu. Disaat dia tidak mengganggu kegiatan shalat kita, puasa kita, atau malah ikut bergotong royong membangun sebuah rumah ibadah atau jembatan, apa yang dapat membuat kita merasa tidak nyaman dengan munculnya aliran-aliran itu. Rasa tidak nyaman itu yang menurut saya adalah reaktif yang berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah saja pernah berkata bahwa Dia memang menghendaki adanya perbedaan di dunia ini. Mengapa kita tidak ridho, dan malah melawan, atas kehendak Allah. Seharusnya kita yakin bahwa perbedaan itu adalah semata-mata untuk fastabiqul khoiraat atau suatu ajang lomba dalam memperbanyak kebaikan-kebaikan. Sikap inilah yang seharusnya ditonjolkan, bukan sikap fastabiqul sayyiat (istilah penulis sendiri) atau berlomba-lomba untuk saling mengkasari dan saling memfatwakan sesat atas aliran yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat menjawab pada orang tua saya bahwa yang penting itu Quu Anfusakum Wa Ahliikum Naaro atau menjaga diri kita dan keluarga kita untuk selalu berada dalam jalan yang kita anggap adalah yang terbaik dan benar. Maksudnya adalah seharusnya kita rajin-rajn membentengi aqidah dan keyakinan kita serta anak-anak dan saudara kita dengan ajaran-ajaran quran dan hadis yang kita anggap terbaik dan benar. Kita tidak perlu merasa tidak nyaman dengan adanya aliran diluar kepercayaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting itu adalah penanaman aqidah dan kepercayaan dari internal pribadi dan internal lingkungan terdekat. Dengan bekal itu, banyaknya aliran yang muncul dengan berbagai cara “merketing”-nya tidak akan membuat kita merasa terganggu karena aqidah kita dan keluarga kita telah terbentengi. Bahkan kita bisa lebih bijak lagi dalam menyikapi perbedan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak memungkiri dan melarang orang lain, juga kepada orang tua saya, untuk merasa tidak nyaman dengan banyaknya aliran-aliran yang muncul atau dengan sikap kasar antar muslim sendiri. Hidup itu adalah pilihan. Tergantung mana atau apa yang kita pilih. Yang pasti atau seharusnya adalah kita selalu merasa tenang dalam beragama. Karena tenang dalam beragama akan membawa kita pada pengenalan arti hidup yang sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6900143965538496182?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6900143965538496182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6900143965538496182&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6900143965538496182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6900143965538496182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/01/aliran-sesat.html' title='Aliran (sesat)'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-1227841968201122673</id><published>2008-01-28T17:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T17:09:00.747+07:00</updated><title type='text'>Haji: Gelar dan Amanah</title><content type='html'>Suasana mendadak berubah. Sepi tak lagi terlihat. Semua dikejutkan oleh dentuman. Dentuman petasan berantai. Dar, dar, dar. Semuanya menyunggingkan senyum. Tidak ada rasa takut. Dentuman petasan itu tidak membuat masyarakat khawatir, namun sebaliknya. Semua merasa senang dan bahagia. Dentuman petasan itu memang tidak berbahaya. Petasan itu hanya sebuah tanda. Sebuah pertanda kebahagiaan. Suatu sambutan atas datangnya seorang yang istimewa. Seorang tokoh masyarakat, seorang ayah dari anak-anaknya dan juga seorang paman dari para keponakannya baru saja kembali dari tanah suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saling menebar senyum. Semuanya merasakan kebahagian. Tak terkecuali saya. Semua terasa menyatu. Menyatu dalam sebuah ekstasi. Kebahagian yang teramat sangat karena terpenuhinya nafsu rindu. Peluk mesra menjadi tontonan biasa dengan dibubuhi ciuman rasa sayang. Ciuman pipi kanan dan kiri. Bahkan air mata yang menjadi identitas kesedihan bercampur baur mengiringi kebahagiaan yang teramat sangat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senda gurau dan tawa mesra yang sempat hilang kembali lahir. Cerita-cerita mulai diorasikan dengan balutan canda. Semuanya dahaga akan cerita-cerita yang akan keluar. Semuanya mengharapkan keberkahan. Semuanya ingin berbaur dan merasakan kebahagian. Semuanya tak ingin hanya melihat. Mereka ingin memegang. Mereka ingin memeluk. Bahkan mereka ingin mencium. Semuanya ingin merasakan kebahagiaan dalam sebuah pesta penyambutan seorang ulama kampung, seorang ayah, dan juga seorang paman yang kembali ke tanah kelahiran dari tanah haram dengan raga sehat dan telah lama mereka rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang namanya telah berubah. Bertambah, tepatnya. Ada satu kata yang mulai disematkan pada setiap penulisan namanya. Gelar “HAJI”. Paling tidak itu yang membuat perbedaan setelah ia pulang dari tanah haram. Semuanya hampir terlihat tidak  berubah. Wajahnya masih seperti dahulu. Senyumnya tak kehilangan manisnya. Perawakannya yang kecil juga tidak bertambah tinggi. Suaranya masih saja berat dan merdu. Matanya tidak kehilangan cahaya kasih sayang. Hanya ada sedikit yang berbeda ketika memandang rambutnya dan jenggotnya yang hampir habis terpangkas. Selain itu semuanya sama. Tidak berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semua itu hanya sebuah perayaan. Itu baru permulaan. Ada yang terpenting dari itu semua. Dan itu tidak semudah penyematan gelar haji yang kini akan terus mendampingi namanya. Haji, bukan saja sebuah gelar, ia adalah sebuah amanah yang harus diemban dan dipertanggungjawabkan. Haji, bukan saja bagai sebuah mesin cuci  yang ketika telah selesai kita merasa suci dan bersih seperti bayi, namun ia adalah sebuah awal untuk menyucikan diri dari kotoran-kotoran yang dulu pernah ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat atas hajinya*. Semoga ibadah hajinya tidak hanya diterima (mabrur) oleh Allah, namun lebih dari itu. Yaitu menjadi seorang yang mampu peduli terhadap orang lain. Menjadi orang yang peka terhadap kesusahan tetangganya dan lingkungannya. Senantiasa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena haji adalah penyempurna keislaman, maka secara tidak langsung ibadah itu juga menginginkan kedewasaan dan kebajikan kita menjadi sempurna. Sekarang ini yang dibutuhkan negeri ini adalah orang-orang kecil yang berlaku baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Selamat untuk paman saya dan semua jemaah haji indonesia yang telah kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-1227841968201122673?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/1227841968201122673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=1227841968201122673&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1227841968201122673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1227841968201122673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/01/haji-gelar-dan-amanah.html' title='Haji: Gelar dan Amanah'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-3427479202752065970</id><published>2008-01-28T17:07:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T17:08:18.186+07:00</updated><title type='text'>Drama Eksistensi</title><content type='html'>Apakah ada di dunia ini kebenaran mutlak? Atau yang seharusnya dipertanyakan tidak demikian bunyinya. Apakah kita, manusia yang telah dianugerahi dengan akal, dapat menemukan kebenaran mutlak di dunia ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pertanyaan di atas sepertinya tidak ada perbedaan. Keduanya sama-sama ingin mengatakan bahwa di dunia ini manusia bisa menemukan kebenaran mutlak. Saya jadi teringat Aristoteles dan Hegel dengan filsafat Idealismenya. Filasafat yang ingin mengatakan bahwa sesungguhnya kebenaran mutlak itu dapat diformulasikan secara sistematis melalui pencarian yang sungguh-sungguh. Aliran ini tidak ubahnya dengan apa yang diusung oleh Socrates secara umum, namun Hegel lebih kepada eksistensialis idealis. Pemikiran yang terkonsentrasi dengan eksistensi. Hegel pernah mengatakan bahwa ada roh semesta yang mendampingi para subjek atau manusia dikehidupan ini. Roh semesta yang, mungkin, ingin disampaikan olehnya adalah sebentuk kebenaran mutlak. Dan manusia atau subjek-subjek dengan akalnya suatu saat nanti, seharusnya, dapat menemukan dan memformulasikan secara sistematis kebenaran mutlak itu. Wajarlah jika akhirnya Hegel dikatakan sebagai pembawa aliran filsafat Idealis. Karena hal itu menunjukkan bahwa ia menginginkan adanya idealisasi pada manusia dalam menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya Hegel sedang bermimpi. Keinginan ia dengan idealismenya memang sangat brilian. Tetapi bagaimana jika ia ditanya dengan, bagaimana memformulasikan kesedihan, putus asa, patah hati, kebahagian, atau jatuh cinta? Apakah itu semua bisa diformulasikan secara sistematis atau didefinisikan? Apakah sama definisi jatuh cinta yang Dewi rasakan kepada Rudi dengan yang dirasakan Rani kepada Rudi? Saya yakin definisi mereka berbeda walaupun pada dasarnya jatuh cinta itu adalah suatu kebahagiaan. Namun tak jarang pula jatuh cinta itu menjadi sebuah racun bagi sang pencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin lebih tertarik untuk mengatakan bahwa manusia menilai suatu kebenaran berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah ia dapatkan. Dalam kata lain, saya ingin mengatakan bahwa, kebenaran objektif atau kebenaran mutlak seperti yang dikatakan Hegel, itu tidak akan bisa diraih apalagi diformulasikan dengan sistematis di kehidupan dunia ini. Yang ada adalah kebenaran subjektif. Mungkin yang seharusnya dikatakan adalah bahwa manusia seharusnya, dengan akalnya, membuat komitmen dan menjaga konsistensi dengan kebenaran-menurutnya. Kebenaran-menurutnya di sini adalah suatu penilaian atas pengalaman-pengalaman atau budaya yang telah ia dapatkan atau mungkin sedang dijalani. Dan ini yang disebut dengan kebenaran subjektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya yang diajarkan oleh Aristoteles maupun Hegel tidak seluruhnya keliru. Saya juga yakin bahwa ada Roh semesta, menurut istilah Hegel, atau Kebenaran mutlak yang mendampingi perjalanan kehidupan di dunia ini. Mereka mungkin lupa, atau mereka memang tidak tahu, bahwa ada kitab suci dalam agama-agama. Itu bukti adanya petunjuk tentang kebenaran mutlak. Namun ketika kitab suci itu berinteraksi dengan manusia, akhirnya pandangan tentang suatu kebenaran menjadi subjektif. Hal itu dikarenakan penafsiran yang berbeda atas ayat-ayat dalam kitab suci yang dilakukan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik sekali dengan pendapat Kierkegaard, seorang filosof Kopenhagen, Denmark, bahwa manusia dalam tindakannya terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah manusia yang bertindak spontanitas (tindakan esteteis). Yang kedua adalah kelompok manusia yang betindak dengan menilai terlebih dahulu baik dan buruk (tindakan etis). Dan yang terakhir adalah manusia yang bertindak atas pertimbangan agama (tindakan relijius). Dari golongan-golongan manusia tersebut di atas, kita dapat menyimpukan bahwa penilaian atas kebenaran akan sangat berbeda adanya pada tiap subjek. Coba kita renungkan itu. Itulah drama eksistensi yang terjadi di dunia ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-3427479202752065970?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/3427479202752065970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=3427479202752065970&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3427479202752065970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3427479202752065970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/01/drama-eksistensi.html' title='Drama Eksistensi'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6314981744613454994</id><published>2008-01-28T16:40:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T17:07:21.149+07:00</updated><title type='text'>Pesta Kesombongan</title><content type='html'>Kemarin saya ikut sebuah pesta pernikahan seorang *teman masa sekolah dulu. Sebuah perayaan sederhana dengan menu ketupat sayur dan sate ayam. Namun yang hadir di sana tidak sesederhana pergelaran pestanya. Pakaian bermerek asing, kendaraan-kendaraan keluaran terbaru, kilauan-kilauan emas yang sengaja menempel dan menggantung, serta yang tak kalah pentingnya adalah ucapan-ucapan penuh kesombongan dan pamer kepintaran. Mungkin, secara tak sadar saat itu, tidak terkecuali dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta itu secara tidak langsung memang mengumpulkan teman-teman lama saya yang telah lama sekali tidak saling bertemu. Pertemuan, kata banyak orang, adalah suatu yang sangat menyenangkan. Namun tidak dengan saya. Saya begitu terbebani dengan pertemuan. Karena kita memang sudah lama tidak saling bertemu -dan ini yang sangat saya tidak suka- tanya jawab tentang segala hal, seperti pacar, pernikahan, karier, atau pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksukaan saya, mungkin, karena saya sejatinya adalah orang yang tidak suka banyak bicara. Tapi, juga, saya adalah seorang yang tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman karena saya. Akhirnya saya pun, sama dengan yang lain, menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan saya. Cerita-cerita akhirnya keluar dari mulut saya. Sampai akhirnya saya merasa seperti yang terhebat saat itu. Mungkin sama dengan teman-teman yang lain ketika bercerita. Aroma saling pamer dan kesombongan mulai tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai pesta, saya tak kuasa mengingat-ingat apa yang telah saya ceritakan kepada teman-teman. Ingatan itu hadir karena memang pada dasarnya saya tidak suka banyak bicara dan banyak cerita. Ingatan yang pada akhirnya saya sadari seperti suatu kesombongan. Ternyata saya termasuk orang yang sombong. Kalau pamer materi mungkin kesombongan yang bisa dipahami, namun jika kesombongan dalam bentuk ucapan-ucapan membanggakan diri, atau seolah-olah membanggakan diri, adalah tingkah laku yang konyol dan tidak baik. Mungkin saat pesta itu teman-teman saya mengira bahwa saya hebat, sukses, atau luar biasa. Namun sejatinya saya adalah sebaliknya. Yang saya tahu, malam ini saya sadar dan menyadari bahwa saya tidak sehebat yang mereka kira. Saya bukan orang yang sukses seperti yang mereka kira. Atau saya bukan orang yang luar biasa seperti yang mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kalau saja mereka mengartikan hebat, sukses, atau luar biasa tidak dengan banyaknya materi atau tingginya jabatan, tetapi dengan sebuah keberhasilan meraih kedewasaan ruhiyah atau batin. Mereka pasti setuju dengan pendapat saya, bahwa saya masih sangat jauh dari itu semua. Dan mungkin juga mereka. Namun sangat manusiawi jika penilaian seseorang terhadap orang lain adalah karena apa yang telah ia lihat atau dengar. Terakhir, saya mau minta maaf pada Allah, kalau menurutnya pula saya adalah orang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Selamat untuk Jazuli dan istri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6314981744613454994?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6314981744613454994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6314981744613454994&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6314981744613454994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6314981744613454994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2008/01/pesta-kesombongan.html' title='Pesta Kesombongan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-7009915012661240686</id><published>2007-12-27T20:10:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T20:11:09.239+07:00</updated><title type='text'>Sekarang, Kita Mulai Lagi... (Perenungan Tahun Baru)</title><content type='html'>Muhammad sang Nabi begitu bergetar ketakutan saat Sang ruhul kudus Jibril mendatanginya di sebuah gua yang sunyi. "IQRA....IQRA...." Sebuah perintah awal dari sang penyampai pikiran suci atau wahyu Tuhan.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebuah awal. yah, itu adalah awal dari kerumitan yang harus ditanggung seorang pedagang dalam mencipta, mengatur, menjaga, dan memelihara suatu umat. Suatu awal yang begitu mencekam, namun akhirnya terlewati dengan sebuah kesungguhan hati. Meskipun sebuah awal itu tidak menjadikannya sebagai histori sebuah pertanggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Socrates, seorang "buruk rupa", yang berasal dari sebuah polis besar penyumbang kebudayaan eropa dan dunia, Athena, ketika dia mulai berpikir tentang kebenaran-kebenaran yang mulai diselewengkan oleh para sophis di sekitar kota. Untuk memulai peperangan diskusi dengan para masyarakat yang telah terhipnotis oleh sophis-sophis - yang menjual ilmunya dengan sebuah atau beberapa logam perak hingga emas-, saya yakin ia sangat berat dan terbebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awalnya sebuah keresahan, akhirnya dia sadar harus memulai peperangan itu. Dia mulai berjalan ke pasar-pasar, alun-alun kota, serta ke perkampungan hanya untuk mencari sebuah kebenaran melalui diskusi-diskusi filosofis. Sekali lagi, melalui diskusi-diskusi filosofis, bukan dengan suatu kekerasan. Itu adalah sebuah strategi menarik tawaran dari seorang filosof agung dalam memulai menghadapi sesuatu perbedaan. Walaupun akhirnya beliau dihukum mati, melalui racun, hasil putusan pengadilan tertinggi dikota itu. Tragis memang. Namun kita harus menghargai proses sebuah permulaan yang beliau hadapi dan akhirnya beliau berani untuk keluar dan berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates mungkin mirip dengan Isa al-Masih (bagi sebagian golongan), seorang utusan, bahkan banyak pula yang mengakuinya sebagai anak dari Tuhan. Ketika Tuhan memberikan Titahnya untuk menyampaikan pesan kebesaran dan ke-esa-an Tuhan. Sebuah tugas yang berat. Ketika diawali dari takdir yang menempel padanya, sebuah persalinan di sebuah kandang yang tidak biasa, serta tanpa adanya seorang pejantan yang mengakui pernah menghamili seorang Maryam, ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai untuk menyampaikan wahyu dengan permusuhan dengan sebagian orang adalah suatu yang berat. Yah, itu adalah permulaan yang sangat berat. Namun dengan sebuah keyakinan dan kepasrahan total, ia berani untuk memulai sebuah tugas suci dari Tuhan, walaupun dengan sembunyi di hutan, mendaki pegunungan, serta masuk-keluar perkampungan, akhirnya permulaan yang berat itu terlewati. Banyak pula yang akhirnya simpatik dan menaruh kepercayaan padanya. Yah, permulaan telah terlewati, walaupun akhirnya (menurut sebagian orang) dia ditangkap, disiksa, dicaci-maki, dan dihukum salib di Golgota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah permulaan memang terasa sulit. Apalagi jika kita terus saja melihat hari-hari lalu yang terasa sangat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai rakyat indonesia, sebagai anak manusia, dan sebagai khalifah di bumi ingin mengajak kita untuk bangkit dan memulai. Yah, memulai berlaku baik dan membawa firman Tuhan untuk sebuah tahun yang baru meski dengan bayangan kobobrokan. Permulaan memang berat, namun... Sekarang, kita mulai lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-7009915012661240686?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/7009915012661240686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=7009915012661240686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7009915012661240686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7009915012661240686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/12/sekarang-kita-mulai-lagi-perenungan.html' title='Sekarang, Kita Mulai Lagi... (Perenungan Tahun Baru)'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-555931197738499046</id><published>2007-12-27T20:07:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T20:10:35.022+07:00</updated><title type='text'>Tulisan dan Tuhan</title><content type='html'>"Tulisan itu adalah hal-hal, sebagaimana Tuhan, yang tak pernah selesai..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kalimat yang saya tiru dari seorang kolumnis, Goenawan Muhammad, dengan sedikit perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan ambigu dengan probabilitas yang tinggi sama halnya dengan Tuhan. Tak akan pernah selesai. Kalimat ini tidak menginginkan sebuah interpretasi negatif tentang Tuhan, namun sebuah interpretasi positif terhadap Tulisan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-555931197738499046?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/555931197738499046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=555931197738499046&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/555931197738499046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/555931197738499046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/12/tulisan-dan-tuhan.html' title='Tulisan dan Tuhan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4856640793915424341</id><published>2007-11-08T20:04:00.002+07:00</published><updated>2007-11-08T20:05:23.873+07:00</updated><title type='text'>PSSI: Sebuah Representasi Politik Negeri</title><content type='html'>“Saya tak habis pikir dengan PSSI, Bang!” saya memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah ketuanya?” Ivan langsung menebak dengan sebuah pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Saya masih tidak bisa mengerti dengan pengurusnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memangnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, bukannya ketuanya sudah di vonis bersalah? Kenapa masih dijadikan atau dipertahankan menjadi ketua?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin…, memang ia masih dipandang pantas untuk memimpin PSSI.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas apanya? Wong kriminalis ko’ masih dipilih dan dipertahankan untuk menjadi pimpinan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salahnya seorang kriminalis diangkat menjadi pemimpin?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya salah dong! Seharusnya seorang pemimpin itu menjadi panutan yang baik. bukan memberi contoh yang buruk. Kriminalis itu kan suatu keburukan. Dan itu jelas, tak pantas untuk dijadikan panutan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin memang itu wajah politik Indonesia, Id.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud sampeyan apa, Bang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih mengedepankan jiwa ‘teman atau lawan’ dalam berpolitik! Bukan mendahulukan jiwa ‘kepentingan masyarakat’ dalam tindakan politiknya.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4856640793915424341?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4856640793915424341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4856640793915424341&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4856640793915424341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4856640793915424341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/11/pssi-sebuah-representasi-politik-negeri.html' title='PSSI: Sebuah Representasi Politik Negeri'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-5187891151835495296</id><published>2007-11-08T20:04:00.001+07:00</published><updated>2007-11-08T20:04:16.314+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Puisi Tentang Puisi</title><content type='html'>Kata-kata terangkai&lt;br /&gt;Bagai gerbong-gerbong yang saling di kaitkan&lt;br /&gt;Memberikan sebuah perwujudan&lt;br /&gt;Kereta api yang memiliki arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata dirangkai&lt;br /&gt;Seperti bunga-bunga yang terikat&lt;br /&gt;Membuat rangkaian keindahan&lt;br /&gt;Untuk sebuah arti kerinduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata tersusun&lt;br /&gt;Mirip sebuah mata rantai kehidupan&lt;br /&gt;Hewan, tumbuhan, dan manusia&lt;br /&gt;Sehingga memberi sebuah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata disusun&lt;br /&gt;Menyerupai permainan bongkar pasang yang dibentuk utuh&lt;br /&gt;Sehingga membentuk sebuah wujud&lt;br /&gt;Yang semula terserak terlepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata terangkai, tersusun&lt;br /&gt;Ingin memberikan sebuah makna&lt;br /&gt;Namun tak dibatasi&lt;br /&gt;Oleh sebuah interpretasi&lt;br /&gt;Kesenangan penafsiran, dapat berubah satir&lt;br /&gt;Kesedihan interpretasi, berbuah arti prasangka&lt;br /&gt;Namun seperti tadi&lt;br /&gt;Puisi tak pernah dibatasi&lt;br /&gt;Lebih-lebih oleh sebuah dikotomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepastian&lt;br /&gt;Hanyalah sekitar entitas puisi&lt;br /&gt;Sebagai pencurahan niat,&lt;br /&gt;Pergolakan pikiran yang dituliskan,&lt;br /&gt;Pengilustrasian rasa di jiwa&lt;br /&gt;Dengan kata-kata yang dirangkai dan disusun dengan kait keindahan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-5187891151835495296?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/5187891151835495296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=5187891151835495296&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5187891151835495296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5187891151835495296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/11/sebuah-puisi-tentang-puisi.html' title='Sebuah Puisi Tentang Puisi'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-3411485301519548545</id><published>2007-11-08T20:03:00.001+07:00</published><updated>2007-11-08T20:03:41.673+07:00</updated><title type='text'>Aliran Sesat : haruskah ada campur tangan negara?</title><content type='html'>Mesjid mulai sepi dari jamaah Jumat-an. Jam menunjukkan sudah jam setengah dua lebih. Yang tersisa adalah saya, Ivan, dan Yomi. Seperti biasa, kami sengaja tidak langsung kembali ke rumah masing-masing. Sambil sekedar meregangkan otot-otot yang terasa kaku, kami mencoba mendiskusikan apa yang disampaikan khatib tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sekarang ini banyak sekali ajaran-ajaran yang sesat,” Yomi membuka diskusi. “Tadi sayang aja khatib tidak menyebutkan nama-nama aliran tersebut. Padahal banyak sekali. Yang baru dan masih sangat ramai adalah aliran Al-qiyadah Al-islamiyah, lalu ada aliran Alquran Suci di Bandung, dan aliran yang pernah dipimpin oleh Lia Eden, dahulu.” Yomi menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Yom,” saya menimpali. “Ada juga aliran Wahidiyah yang katanya punya juru selamat atau yang mereka bilang Ghauts.” Gelengan kepala saya tak bisa tertahan karena begitu banyaknya aliran yang dianggap sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua setuju dengan khatib bahwa aliran-aliran seperti itu harus kita perangi karena mengganggu ketentraman dan menodai akidah.” Yomi berbicara dengan luapan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Yomi yang sangat menggebu-gebu dalam menghakimi aliran-aliran sempalan itu, karena pernah ada Saudaranya yang hampir di baiat oleh aliran-aliran yang dianggap sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau seharusnya polisi langsung tangkap saja pimpinan dan konco-konconya. Toh, MUI sudah membarikan fatwa sesat.” Saya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua setuju, Id. Polisi harusnya turun tangan. Karena peristiwa ini sudah sangat mengganggu ketentraman umat islam.” Yomi sekali lagi begitu bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan yang sejak tadi hanya memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya, mulai mengeluarkan suaranya dengan sebuah pertanyaan, “Menurut kalian, apakah Negara seharusnya campur tangan dalam urusan beragama yang notabene bersifat privat atau pribadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat tergeragap mendengar pertanyaan dai Ivan. Begitu juga ketika saya melirik ke Yomi, dia juga sempat mengerutkan dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud kamu apa, Van?” Yomi balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tindakan polisi adalah tindakan negara” Ivan menjawab singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya tangkap pertanyaan sampeyan, sepertinya sampeyan ingin mengatakan seharusnya negara atau polisi tidak ikut campur dalam masalah ini?” sama seperti Yomi, saya balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup!” Ivan mulai mengeluarkan senyuman kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, polisi itu kan tugasnya menjaga warga dari ketidaknyamanan, keonaran, serta pembuat keresahan. Dan bukannya kesesatan aliran itu sudah mengganggu ketentraman dan membuat resah warga. Muslim khususnya. Menurut saya sudah seharusnya negara campur tangan melalui polisi.” Yomi tak mau kalah dalam berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, atau jangan-jangan kamu meragukan kesesatan aliran-aliran tersebut? Padahal MUI sendiri sudah memberikan fatwa.” Yomi mendesak Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu tanya saya soal aliran itu sesat atau tidak, yah saya secara pribadi menganggap aliran itu sangat bertentangan dengan apa yang sudah menjadi keyakinan saya, mungkin juga kalian. Saya setuju mengatakan itu sesat. Berarti dalam hal ini saya setuju dengan MUI.” Ivan mulai mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang saya kurang setuju adalah tindak anarkis masyarakat dan anggapan kriminalisasi atas masalah yang sejatinya bersifat pribadi dan asasi. Beragama!” Ivan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak seharusnya, menurut saya, penangkapan langsung dilakukan oleh polisi setelah MUI mengatakan aliran itu adalah sesat. Dan, menurut saya pula, seharusnya polisi tidak perlu ikut campur dengan masalah ini.” Ivan terus bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut saya, harus ada penelitian lebih lanjut dari para pemuka agama, islam khususnya, tentang maraknya aliran-aliran sempalan yang muncul. Diskusi saja tidak cukup tanpa ada penelitian yang kemprehensif tentang latar belakang sosial-psikologis dari pendirinya, misalnya. Dan sudah seharusnya para pemuka agama mulai berbenah diri tentang strategi dakwahnya dalam zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu, menurut saya pengrusakan, pembakaran, atau penghancuran yang dilakukan oleh masyarakat dan penangkapan yang dilakukan oleh polisi yang menjadi tangan dari negara, tidak perlu terburu-buru dilakukan, atau barangkali memang tidak perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang saya maklum terhadap kemarahan dan keresahan warga muslim, karena saya juga merasakan hal serupa. Namun seharusnya yang kita lakukan adalah bertanya lebih dahulu atau introspeksi terhadap diri kita sendiri, mengapa islam yang sangat kita yakini kebenarannya dan kita yakini akan membawa keselamatan hidup di dunia dan akhirat kurang memberi rasa aman dan nyaman bagi banyak pemeluknya sehingga muncul aliran sempalan, yang menurut saya timbul dari keadaan atau perasaan tertekan seseorang atau kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah pertanyaan yang tepat untuk umat islam, baik itu para pemukanya ataupun kita sebagai individu, saat ini adalah ‘Sudahkah kita membuat Islam sebagai agama yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemeluknya?’” Ivan mengakhiri pembicaraannya kembali dengan pertanyaan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terdiam. Mungkin memikirkan pertanyaan yang sangat mengena dari Ivan. Pun begitu juga dengan Ivan sendiri. Terdiam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-3411485301519548545?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/3411485301519548545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=3411485301519548545&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3411485301519548545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3411485301519548545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/11/aliran-sesat-haruskah-ada-campur-tangan.html' title='Aliran Sesat : haruskah ada campur tangan negara?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-2802309753492951475</id><published>2007-11-08T20:00:00.000+07:00</published><updated>2007-11-08T20:03:02.361+07:00</updated><title type='text'>Dokter Khitan</title><content type='html'>Baru beberapa lewat hari kembai kepada kesucian, Idul Fitri., yang seharusnya, atau tepatnya biasanya, dilalui dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, namun yang terjadi malah sebaliknya. Berita duka datang tadi pagi, 16 Oktober 2007 (4/5 Syawal 1428H), sekitar jam 10-an. Seorang yang pernah berjasa terhadap saya dan keluarga saya, dan mungkin terhadap banyak orang, harus merasakan sunnatullah, meningal dunia atau tepatnya kembali kepadaNya diusiannya yang ke-68 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI”UUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kita adalah milkNya dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddy Enggu adalah namanya, atau biasa disapa dengan ‘Panggu’ (Pak Enggu). Beliau adalah seorang dokter. Sebetulnya title ini juga tidak pernah terbuktikan oleh kertas yang ter-legalisir atau biasa di sebut ijazah, namun entah darimana kemampuannya serta izinnya ia bisa buka praktek di sekitar rumah. Tapi yang jelas orang-orang di kampung saya sudah sangat percaya dengan kepandaiannya. Sebetulnya beliau lebih dikenal sebagai “tukang sunat” di kampung saya, apalagi oleh kalangan anak-anak disekitar rumah. Karena beliau lebih sering didatangi oleh para orang tua yang anaknya ingin dikhitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya katakan ia sangat berjasa terhadap saya dan keluarga saya, karena beliaulah yang telah membantu menunaikan kewajiban saya, KHITAN. Khitan adalah salah satu kewajiban dalam agama Islam. Beliau adalah salah satu orang yang telah menyempurnakan keberagamaan saya. Beliau adalah salah satu orang yang telah menggugurkan salah satu kewajiban saya sebagai manusia beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Panggu. Selamat jalan Panggu. Semoga engkau bersama amalmu dalam setiap pertanyaan akhiratmu tentang duniamu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-2802309753492951475?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/2802309753492951475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=2802309753492951475&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/2802309753492951475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/2802309753492951475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/11/dokter-khitan.html' title='Dokter Khitan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8334678748453835307</id><published>2007-10-23T13:00:00.000+07:00</published><updated>2007-10-23T16:09:10.270+07:00</updated><title type='text'>Hammas-Fatah dan Israel, dimana Palestina?</title><content type='html'>Presiden Palestina, Mahmood Abbas, sedang berada di Indonesia saat ini. Niat kedatangan beliau ke Indonesia, dan ke negara lainnya di Asia, adalah ingin meminta dukungan kepada beberapa “Negara Islam” di kawasan Asia untuk membuat dokumen kerja perdamaian yang akan diajukan nanti saat konfrensi perdamaian konflik Palestina dan Israel beberapa waktu ke depan. Dan negara adikuasa Amerika Serikat, adalah sponsor dari sidang perdamaian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam wacana muncul. Wacana yang paling menarik adalah ketika timbul isu bahwa Palestina di bawah kepemimpinan Presiden Mahood Abbas menginginkan negara kita menjadi juru damai dalam konflik Palestina dan Israel. Mendengar isu ini, tentu kita mengerti alasan Abbas, kenapa negara kita, Indonesia, yang diharapkan untuk menjadi juru damai dalam konflik yang tengah terjadi tersebut. Karena Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Saya pikir kita semua setuju dengan, perkiraan, alasan itu. Atau memang ada alasan lain, bahwa Abbas sudah sangat putus asa dengan tidak adanya dukungan dari negara-negara arab lalu kemudian Indonesia menjadi pilihan alternatif yang terpaksa sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita perlu berbangga dengan keinginan Abbas terhadap negara kita. Walaupun pada kenyataannya, sering kali, politik luar negeri kita masih sangat lemah. Terutama jika dihadapkan dengan Bapak Angkat negara kita, Amerika Serikat. Menyikapi pernukliran Iran, misalnya. Ketika kita hanya “manggut-manggut” dengan resolusi PBB, yang memang kita ketahui bersama bahwa organisasi dunia itu seperti “kendaraan”-nya Negeri Paman Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana ini banyak menimbulkan pertanyaan. Ketika Indonesia diharapkan bisa menjadi juru damai konflik Palestina-Israel, padahal Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan israel, lalu bagaimana caranya, pertanyaan selanjutnya. Memang hubungan diplomatik, menurut saya, bukan berarti tidak bisa menjalin hubungan. Toh kalau ada istilah ‘hubungan diplomatik’, seharusnya juga ada istilah ‘hubungan non-diplomatik’. Menurut saya menjalin hubungan dengan negara lain, tidak harus punya ikatan yang bersifat diplomatis, apalagi masalah yang akan diangkat adalah masalah perdamaian. Tapi itu adalah menurut saya, tentunya pasti berbeda jika dilihat dari pandangan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang hukum memandang berbeda, apakah kita harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Ini adalah pertanyaan yang menarik selanjutnya. Menurut saya membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara di dunia adalah suatu yang baik, termasuk Israel. Toh, tidak berarti dengan terbukanya hubungan diplomatik, suatu negeri harus tunduk degan nagara lainnya. Tapi pasti pendapat ini akan banyak ditentang. Saya yakin itu. Karena memang sebenarnya wacana ini bukan wacana baru. Masih banyak orang indonesia menganggap sangat berisiko jika membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sebenarnya pertanyaan yang sangat relevan dimunculkan adalah masalah dana. Indonesia dapat dana dari mana untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara lain? Apalagi yang meminta Indonesia menjadi mediator perdamaian adalah negara lain, dalam konteks ini adalah Palestina. Apakah Palestina mau membiayai hal tersebut? Atau Indonesia akan membiayai sendiri? Suatu kesalahan menurut saya. Karena kita ketahui, banyak sekali orang yang tidak setuju terbukanya hubungan diplomatik dengan Israel. Dan kita juga ketahui masih sangat banyak masalah besar yang dihadapi oleh Indonesia sendiri. Apakah pemerintah kita mau mengorbankan masalah besar yang tengah dihadapi dengan suatu masalah yang tidak bersifat urgent bagi negara kita. Pastinya akan terjadi keos dan dema-demo di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik pula berkenaan dengan wacana ini adalah Palestina menginginkan Indonesia menjadi juru damai konlik Palestina dan Israel, padahal sama-sama kita sudah ketahui, masalah Palestina bukan hanya dengan Israel, namun ada masalah internal Palestina. Masalah yang sebenarnya, menurut saya, memegang kunci dari keinginan untuk berdamai dengan Israel. Yaitu perang saudara antara Fatah dan Hammas. Kenapa ini saya katakan sebagai kunci, karena berdamainya kedua pergerakan tersebut merupakan barometer kepercayaan dari Israel dan negara-negara lainnya. Kita ketahui Israel, dan Amerika, tidak meyukai visi dari Hammas yang terkesan sangat ekstrim. Berbeda dengan Fatah yang moderat. Oleh karena itu menurut saya, terlebih dahulu harus ada rekonsiliasi antara dua pergerakan tersebut sehingga dapat memberikan nilai baik dari negeri-negeri lain. Apakah Indonesia seharusnya menjadi mediator terlebih dahulu untuk rekonsiliasi Fatah-Hammas? Mengingat, pemerintah kita punya pengalaman dalam memediasi rakyat di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pertanyaan yang sangat substansial adalah apakah Indonesia seharusnya memenuhi keinginan tersebut atau lebih baik mengurus rumah tangga sendiri, toh gunung kelud, lumpur lapindo, pengangguran, kemiskinan, pemboman, konflik agama, dan masalah pelik lainnya. Bagaimana menurut anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8334678748453835307?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8334678748453835307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8334678748453835307&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8334678748453835307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8334678748453835307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/10/hammas-fatah-dan-israel-dimana.html' title='Hammas-Fatah dan Israel, dimana Palestina?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4317804518193236381</id><published>2007-09-24T16:46:00.000+07:00</published><updated>2007-09-24T16:56:55.004+07:00</updated><title type='text'>Lupa Hafalan saat Tarawih</title><content type='html'>Ternyata hafalan quran saya makin menghilang. Kejadiannya saat kemarin pulang ke Jakarta, dan saya shalat tarawih di mushallah yang bersebelahan dengan rumah saya. Ketika itu saya ditunjuk untuk memimpin shalat tarawih, menjadi Imam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya tidak siap, namun karena saya hanya seminggu dua kali shalat di sana, dan ini bukan pengalaman saya yang pertama, akhirnya, dengan berat hati, saya mengiyakan. dan akhirnya pada malam itu saya menjadi imam shalat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya berkata, ah, sekalian nyetor hafalan aja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba bacakan surah Al-Mulk, yang sudah mulai saya hafal saat SMU. Memang sudah lama sekali saya tidak mengulang hafalan ini, apalagi setelah saya mulai kerja. Ayat-ayat pertama saya masih sangat ingat, namun ketika sudah memasuki pertengahan surat, saya mulai dilanda kelupaan. Saya sempat terdiam lama karena lupa. Walaupun Sudah coba diingatkan oleh makmum dibelakang, namun ketika coba mengikuti makmum dibelakang, tetap saja saya berhenti di tengah ayat. Sempat terdiam lama, akhirnya saya sudahkan saja dan langsung takbir untuk rukuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakaat selanjutnya, saya coba lagi , dan ternyata memang saya sudah lupa. Akhirnya saya alihkan bacaan saya ke Juz Amma. Namun tetap dengan perasaan malu. Bukan hanya malu kepada jamaah, namun lebih malu kepada diri sendiri. ternyata saya sudah melupakan ayat-ayat Allah yang sudah pernah saya ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir ini adalah akibat kelalaian saya. Entah mengapa semenjak kerja, saya merasa Futur yang amat sangat. Astagfirullah.....Saya harus mulai mengatur kembali waktu saya untuk menghafal....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4317804518193236381?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4317804518193236381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4317804518193236381&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4317804518193236381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4317804518193236381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/09/lupa-hafalan-saat-tarawih.html' title='Lupa Hafalan saat Tarawih'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-7360538019702709760</id><published>2007-08-30T17:16:00.000+07:00</published><updated>2007-08-30T17:22:33.535+07:00</updated><title type='text'>Bebaskan Beragama.....</title><content type='html'>&lt;em&gt;...Selanjutnya terkait dengan isi dari Peraturan Bersama tersebut ijinkan saya menegaskan bahwa intinya Peraturan Bersama itu memuat 3 (tiga) pedoman pokok yaitu pedoman tentang tugas-tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama sebagai bagian penting dari kerukunan nasional, masalah pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan masalah pendirian rumah ibadat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah point dari Perber (Peraturan Bersama) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terkait dengan syarat-syarat pendirian rumah ibadat yang dalam Peraturan Bersama Menteri termuat pada pasal 13 dan 14, dapat kami jelaskan bahwa Peraturan Bersama ini memandang pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. Apabila keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu tidak dapat terwujudkan pada tingkat kelurahan/desa, maka penilaian keperluan nyata dan sungguh-sungguh dilakukan pada tingkat kecamatan. Demikian pula apabila pada tingkat kecamatan pun keperluan nyata dan sungguh&amp;shy;sungguh itu belum terwujud, maka penilaian dilakukan pada tingkat kabupaten/kota, dan apabila pada tingkat kabupaten/kota belum terwujud, maka penilaian keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu dilakukan pada tingkat provinsi. Hal ini berarti bahwa tidak akan ada umat beragama yang tidak terlayani untuk mendirikan rumah ibadat di negeri ini. Hanya saja memang ada rumah ibadat yang melayani umat dari suatu kelurahan/desa, ada rumah ibadat yang melayani umat dari beberapa kelurahan/desa di satu kecamatan dan mungkin juga ada rumah ibadat yang melayani gabungan umat dari beberapa kecamatan dalam suatu kabupaten/kota. Dengan demikian pengaturan ini tidak melanggar kekebasan beragama sebagaimana tertuang pada pasal 29 UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Apakah hal ini sudah terealisasi? Kontradiktif tidak yah, antara inti Perber ini dengan Jiwa Pasal 29 UUD ’45?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengenai keharusan memiliki jumlah calon pengguna rumah ibadat sebanyak 90 orang, dapat kami jelaskan bahwa angka itu diperoleh setelah mempelajari kearifan lokal di tanah air. Seperti diketahui sejumlah gubernur telah melakukan pengaturan tentang hal ini. Di Provinsi Riau misalnya diatur jumlah syarat minimal adalah 40 KK, di Sulawesi Tenggara diatur jumlah syarat minimal 50 KK, dan di Bali diatur jumlah syarat minimal itu 100 KK. Apabila sebuah KK minimal terdiri atas 2 orang, maka Provinsi Bali sebenarnya selama ini telah menempuh persyaratan minimal 200 orang, sementara Riau dan Sulawesi Tenggara masing-masing menerapkan persyaratan minimal 80 orang dan 100 orang. Bertolak dari angka-angka tersebut dan setelah mengadakan musyawarah secara intensif, para wakil majelis agama menyepakati jumlah 90 orang tersebut. Ini berarti bahwa yang disebut keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu adalah apabila calon pengguna rumah ibadat mencapai angka 90 orang dewasa yang dapat berasal dari 20, 30, atau 40 KK.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tentang jumlah jamaah, apakah benar telah mempelajari kearifan lokal tanah air? Alangkah sedihnya yah tidak bisa beribadah dengan penuh keutamaan di desa sendiri, hanya karena kurang jamaahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terkait dengan persyaratan dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang, dapat kami jelaskan bahwa angka itu sebenarnya menjadi tidak mutlak, karena pada bagian berikutnya dikatakan bahwa apabila dukungan masyarakat setempat yaitu 60 orang itu tidak terpenuhi sedangkan calon pengguna rumah ibadat sudah memenuhi keperluan nyata dan sungguh-sungguh, maka pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadat. Ini berarti bahwa sekelompok umat beragama yang telah memenuhi keperluan nyata dan sungguh&amp;shy;sungguh tidak akan ditolak keinginannya untuk mendirikan rumah ibadat, hanya saja lokasinya mungkin digeser sedikit ke wilayah lain yang lebih mendapat dukungan masyarakat setempat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sepertinya, alih-alih peraturan bersama ini menjadi media atau alat untuk menjaga perdamaian dan menjadi aturan yang berorientasi pada pemeliharaan kerukunan, justru malah menjadi justifikasi untuk mempersulit, untuk tidak mengatakan memustahilkan, pendirian rumah ibadah kaum minoritas??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-7360538019702709760?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/7360538019702709760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=7360538019702709760&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7360538019702709760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7360538019702709760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/bebaskan-beragama.html' title='Bebaskan Beragama.....'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8832640306453512532</id><published>2007-08-29T14:34:00.000+07:00</published><updated>2007-08-29T14:59:35.781+07:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan Dunia</title><content type='html'>Hari ini ikut taushiyah di mesjid kantor. Ceramahnya agak santai dengan ide ceramahnya yang dalam namun dibawakan dengan penuh senda dan gurau. Intinya adalah tafsiran ulama tentang "...fiddunyaa hasanat(h)..." atau kebaikan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya ada beberapa unsur yang akan memberikan "kebahagiaan dunia", yaitu:&lt;br /&gt;1. &lt;em&gt;Qolbun Syaakiruun - &lt;/em&gt;Hati yang selalu bersyukur&lt;br /&gt;2. &lt;em&gt;Zaujun Shoolihun - &lt;/em&gt;Pasangan yang shaleh/shaleha&lt;br /&gt;3. &lt;em&gt;Awladun abroorun &lt;/em&gt;-&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Anak-anak yang baik&lt;br /&gt;4. &lt;em&gt;Bi'atun Shoolihatun - &lt;/em&gt;Lingkungan yang kondusif&lt;br /&gt;5. &lt;em&gt;Maalun Halaalun &lt;/em&gt;- Harta yang halal&lt;br /&gt;6. &lt;em&gt;Umrun Barakatun - &lt;/em&gt;Umur yang berkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita memiliki kebahagiaan dunia??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8832640306453512532?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8832640306453512532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8832640306453512532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8832640306453512532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8832640306453512532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/kebahagiaan-dunia.html' title='Kebahagiaan Dunia'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6890748957473543840</id><published>2007-08-28T17:40:00.003+07:00</published><updated>2007-08-28T17:40:52.339+07:00</updated><title type='text'>Berlaku Baik</title><content type='html'>Aku bosan selalu berbuat baik&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Karena suatu alasan&lt;br /&gt;Berbuat baik ko’ bosan?&lt;br /&gt;Kamu tak akan pernah mengerti.&lt;br /&gt;Makanya kamu jelaskan kenapa?&lt;br /&gt;Pasti kamu juga akan tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;Tapi bukankah kita memang seharusnya selalu berbuat baik?&lt;br /&gt;Itu aku tahu.&lt;br /&gt;Lalu kenapa kamu malah bosan.&lt;br /&gt;Lebih tepatnya bukan bosan.&lt;br /&gt;Lalu apa?&lt;br /&gt;Lelah.&lt;br /&gt;Lelah kenapa?&lt;br /&gt;Yah karena suatu alasan.&lt;br /&gt;Alasannya apa?&lt;br /&gt;Sekali lagi, kamu tak akan pernah memahaminya.&lt;br /&gt;Bukankah berbuat baik itu nanti akan menghasilkan buahnya?&lt;br /&gt;Kamu tak usah mengajarkan aku soal itu.&lt;br /&gt;Lalu kenapa kamu bosan dan lelah untuk berbuat baik?&lt;br /&gt;Karena alasan yang tak akan kamu mengerti.&lt;br /&gt;Alasannya apa?&lt;br /&gt;Kamu tak akan bisa memahaminya, percuma.&lt;br /&gt;Kamu tak pernah menjelsakan padaku. Mana mungkin aku bisa mengerti dan paham?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku akan merasa terpuruk dan hina jika sedikit berbuat salah. Dan aku malu untuk meminta maaf, karena meminta maaf bukan kebiasaanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6890748957473543840?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6890748957473543840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6890748957473543840&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6890748957473543840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6890748957473543840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/berlaku-baik.html' title='Berlaku Baik'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8974680343865018005</id><published>2007-08-28T17:34:00.000+07:00</published><updated>2007-08-28T17:38:55.485+07:00</updated><title type='text'>Susu Tak Lagi Bersahabat</title><content type='html'>“Saya lagi Kesal, Bang” saya mengawali pembicaraan di atas sepeda motor kepunyaan Ivan.&lt;br /&gt;“Jadi mau curhat?” Ivan menjawab sambil mengurangi kecepatan sepeda motornya, ”Ya udah, hayo atuh didegerin”&lt;br /&gt;“Serius ini, Bang”&lt;br /&gt;“Iya. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bercerita, saya membenarkan posisi duduk terlebih dahulu. “Sampeyan kenal Eti kan, Bang?”&lt;br /&gt;“ Eti anaknya Mpo Jujum?” Ivan memastikan.&lt;br /&gt;“Betul. Jadi ceritanya begini, beberapa hari yang lalu ia datang ke rumah, Bang”&lt;br /&gt;“Tumben?”&lt;br /&gt;“Ia datang untuk meminjam uang. Bayangkan coba Bang? Datang pertama kali ke rumah, sendirian, cuma untuk meminjam uang.”&lt;br /&gt;“Saya pikir dia ngajak akhwat untuk dikenalkan sama kamu, Id. Lagian pasti banyak temanmu yang kasihan melihatmu yang sampai sekarang belum juga punya calon, Id.”&lt;br /&gt;“Hus, usil banget sih sampeyan, Bang. Sampeyan kayak udah punya calon aja! Ingat umur, Bang.”&lt;br /&gt;“Iya…iya….maaf, ceritanya teruskan deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan tahu dia mau pinjam uang karena apa?”&lt;br /&gt;“Mana saya tahu, Id. Wong kamu belum bicara”&lt;br /&gt;“Dia pinjam uang untuk anaknya.”&lt;br /&gt;“Memang anaknya kenapa, Id? Sakit?”&lt;br /&gt;“Bukan, Bang”&lt;br /&gt;“Lalu kenapa?””Anaknya sudah lama tidak minum susu.”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Anaknya yang masih balita sudah hampir tidak pernah minum susu.”&lt;br /&gt;“Lalu kamu meminjamkannya?”&lt;br /&gt;“Iya. Saya tidak tega membiarkan anak balitanya tidak minum susu. Apalagi suaminya yang kerjanya serabutan pulangnya tiga hari sekali.”&lt;br /&gt;“Bagus dong kalau begitu.”&lt;br /&gt;“Apanya yang bagus?”&lt;br /&gt;“Ya itu tadi, kamu mau meminjamkan uangmu untuk anaknya beli susu. Kan memang susu lagi mahal, Id. Susu sudah tidak bersahabat lagi dengan orang-orang miskin. Entah siapa yang tega-tega menaikkan harga susu sehingga malambung tinggi. Kamu memang baik, Id”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku kesal, Bang”&lt;br /&gt;“Loh kesal kenapa?”&lt;br /&gt;“Sampai sekarang si Eti belum mengganti uang saya 50 ribu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan lalu menghentikan motornya. Lalu membalikkan badanya. Dan mengatakan “DASAR!” sambil menempeleng kepala saya. Lalu kembali berjalan kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8974680343865018005?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8974680343865018005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8974680343865018005&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8974680343865018005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8974680343865018005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/susu-tak-lagi-bersahabat.html' title='Susu Tak Lagi Bersahabat'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8989272310568875217</id><published>2007-08-14T14:58:00.000+07:00</published><updated>2007-08-14T15:03:55.840+07:00</updated><title type='text'>GAM, D.I. Aceh, dan NKRI dalam "Nasionalisme"</title><content type='html'>Kembali penurunan bendera merah putih diturunkan oleh orang tak dikenal di Lhoksumawe. Ada 100 lebih bendera merah putih yang sengaja dikibarkan oleh penduduk lhoksumawe di rumah-rumahnya dalam rangka persiapan memperingati hari kemerdekaan, namun oleh orang-orang yang tidak dikenal bendera merah putih yang lebih dari 100 bendera sengaja diturunkan pada malam dini hari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita di atas saya lihat di Headline News, Metro TV. Ini seperti suatu bukti bahwa masih banyak gerakan-gerakan separatis di Indonesia saat ini, tidak terkecuali di Lhoksumawe, D.I. Aceh. Seperti sudah kita ketahui dahulu di Daerah Istimewa Aceh ada gerakan separatis yang bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mempunyai misi merdeka atau lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu (tampaknya/kelihatannya) sudah selesai. GAM dan pihak RI sudah melakukan negosiasi perdamaian melalui Perjanjian Helsinki. Dan sekarang, memang sudah dapat kita lihat, D.I. Aceh sudah jauh lebih aman (walaupun saya masih ragu). Tapi kita sama-sama optimis bahwa NKRI harus benar-benar terjaga. Namun optimisme kita ini sudah seharusnya diimbangi dengan pelayanan pihak pusat dalam mengayomi atau memaksimalkan otonomi daerah kepada daerah-daerah di luarnya. Wah maaf, saya sok tahu soal ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ke berita penurunan bendera. Belum lama ini, kita ketahui lewat berita, GAM ingin membentuk suatu partai lokal. Jika membentuk partai lokal, saya pikir, itu adalah hak demokratis seseorang atau golongan. Dan itu sah. Itu adalah bukti demokrasi. Namun yang jadi permasalahan adalah nama dan bendera yang digunakan. Mereka menamakan partainya dengan GAM dengan bendera kebanggaannya sebagai identitas partainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang memberikan nama suatu partai, juga, adalah hak demokrasi suatu golongan. Namun jika pemberian nama itu bertendensi pada suatu yang sensitif baik pada tingkat lokal maupun tingkat nasional, wajar jika hal itu harus dihentikan. Gerakan Aceh Merdeka adalah suatu nama yang sangat sensitif bagi NKRI. Jadi menurut saya sudah seharusnya nama itu tidak dipakai untuk suatu partai lokal. Dan sepertinya NKRI juga sudah memperingati mantan para punggawa GAM yang ingin membentuk partai lokal itu, seperti banyak berita yang kita telah dengar. Jadi kira-kira apa yang bagus namanya yah??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pernyataan saya di atas kita hubungkan pada berita di Headline News, Metro TV. Sepertinya  ada kekecewaan dari mantan punggawa dan masyarakat yang beridealisasi GAM terhadap banyaknya komentar yang mendiskreditkan mereka dalam pemberian nama partai lokal yang ingin mereka dirikan. Sehingga mereka merasa marah dan berang karena idelisme mereka ditentang, padahal menurut mereka hanya ingin membentuk partai lokal saja bukan memisahkan dari NKRI dan membentuk negara baru. Akhirnya terjadilah kejadian pembunuhan nasionalisme lewat tindakan penurunan bendera merah putih secara sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembunuhan Nasionalisme”! itu sih sebjektif banget yah. Padahal orang-orang yang setia dan siap mati pada idealisme golongannya adalah bentuk lain dari “Nasionalisme” yang kuat, walaupun sifatnya parsial (atau dalam konteks ini disebut – kedaerahan). Ah saya sok tahu lagi. Tapi bagaimana menurut kalian tentang berita di atas?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8989272310568875217?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8989272310568875217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8989272310568875217&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8989272310568875217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8989272310568875217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/gam-di-aceh-dan-nkri-dalam-nasionalisme.html' title='GAM, D.I. Aceh, dan NKRI dalam &quot;Nasionalisme&quot;'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4643347213912563597</id><published>2007-08-02T16:53:00.000+07:00</published><updated>2007-08-02T16:57:40.334+07:00</updated><title type='text'>Ungu : Ingin Surga, Tanam Ikhlas</title><content type='html'>”Mampukah kau untuk berbagi tanpa hasrat ingin diberi…”. Sengaja saya tempatkan potongan syair soundtrack sinetron ‘Soleha’ yang didendangkan oleh kelompok band ngetop saat ini, Ungu. Karena kata-katanya dalem banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik sekali membicarakan group band Ungu sebagai penyanyinya. Ungu adalah adalah salah satu kelompok band populer di Indonesia. Memang Ungu bukanlah Dewa dengan ke-Idealis-Teokratis-nya. Ungu bukanlah Letto dengan syairnya yang syarat Puitis-Dialektis. Dan juga bukan Nidji dengan stylenya yang mirip-mirip grup band luar. Ungu adalah Band ”biasa” namun tetap bisa menjaga tingkat popularitasnya, mungkin dengan menjual titel ”biasa”-nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu sempat tersebar kabar bahwa Ungu adalah band Setan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya dua tanduk dan sedikit ekor pada huruf ”g” dalam kata ungu. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak kontroversi. Bahkan banyak sekali yang menyetujui secara buta tuduhan ini. Namun mereka yang setuju, tidak hanya asal bicara. Mereka merasa ada kaitan antara isu tersebut dengan banyaknya korban yang meninggal ketika menonton grup band kenamaan ini. Ah ada-ada saja...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring waktu, isu itu akhirnya redup dengan sendirinya. Entah mungkin karena sempat digundulinya Pasha sang vokalis sebagai wejangan buang sial? Ah saya tidak mau terlalu serius menanggapi hal klenik seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat menyayikan soundtracknya film coklat strawbery, band ini kembali menjadi pedendang soundtrack salah satu sinetron di TV. Ikhlas adalah judul lagu soundtrack sinetron SOLEHA. Memang lagu ini bukan sebagai lagu pertama Ungu yang berjender Religi. Karena tahun lalu mereka sempat mengeluarkan album untuk memeriahkan Bulan Suci Ramadhan yang beraliran religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membuktikan bahwa hal-hal klenik tidak harus kita tanggapi dengan serius. Apalagi kalau kita mau sedikit memikirkan isi dari lirik lagunya IKHLAS - OST SOLEHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat dunia berhenti berputar saat manusia tak sanggup lagi berharap ketika mentari tak sanggup lagi berjanji menyinari dunia yang tlah kau singgahi mampukah kau untuk berbagi tanpa hasrat ingin diberi dihadapanNya...dihadapanNya…&lt;br /&gt;ya Allah sesungguhnya manusia tak kan bisa menikmati surga tanpa ikhlas di hatinya sesungguhnya manusia tak kan bisa   menyentuh nikmatNya tanpa tulus dihatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurutmu liriknya? Apkah kita semua sudah ikhlas sehingga mau masuk surganya Gusti Alloh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4643347213912563597?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4643347213912563597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4643347213912563597&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4643347213912563597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4643347213912563597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/08/ungu-ingin-surga-tanam-ikhlas.html' title='Ungu : Ingin Surga, Tanam Ikhlas'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8916168695154395104</id><published>2007-07-12T16:57:00.000+07:00</published><updated>2007-07-12T16:59:20.716+07:00</updated><title type='text'>So' Idealis atau Memang Perduli?</title><content type='html'>Sudah lama sekali saya tidak menulis. Sudah hampir satu bulan. Memang suatu hal yang kita suka, namun seringkali rasa malas mengalahkan kesukaan kita itu. Tapi biarlah itu menjadi suatu yang alamiah. Bukankah perlu dalam kehidupan ini ada pasang surut. Buktinya pasang surut air laut dalam semesta kita ini punya pengaruh yang sangat luar biasa bagi menunjang sebuah kehidupan yang sejati. Ah, banyak ngelanturnya. Oke! Kita mulai saja lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore saya mendapat telepon dari seorang teman. Ia adalah seorang pegawai dengan golongan, mungkin bisa dibilang paling, rendah di tempat kerjanya. Pembicaraan kita agak sedikit ngalor ngidul. Namun setelah perbincangan sudah agak lama, dia mulai menceritakan suatu hal yang menurutnya sangat mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Id, aku kemarin dikasih duit oleh pegawai yang tingkatannya, baik jabatan maupun pendapatan kerja, lebih tinggi dari aku.” Dia mengakui hal itu baru terjadi, persis sebelum ia menelpon saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa, kan lumayan, dapet rejeki tambahan…” Saya menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu, aku malah ngerasa ngga tenang, Id”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, kenapa malah ngga senang. Wong dapet rejeki tambahan ko.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ngerasa ngga tenang aja. Karena memang aku ngga biasa menerima sesuatu yang sifatnya ’mengupahi’ pekerjaan. Ngerti kan maksud aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sampeyan terlalu idealis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa...!? Aku cuma ngerasa mereka salah dalam bertindak. Jelas-jelas masih banyak orang yang miskin dan butuh uang. Ko malah ngasih aku, yang notabene adalah pegawai tetap dan mempunyai penghasilan yang cukup. Kan ini namanya salah bertindak, salah infak. Aku malu sama diriku sendiri, Id. Apalagi sebenarnya masih banyak orang-orang miskin yang butuh infak dan sedekah di luar sana, atau di kantor sendiri. Cleaning Service atau Satpam, misalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa sampeyan terima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama-tama sempat aku tolak. Namun dengan macam paksaan dan alasan, akhirnya aku dengan terpaksa menerimanya dengan memberikan sedikit ultimatum bahwa ini adalah yang pertama dan terkahir. Besok-besok ngga ada lagi kejadian seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tentunya dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk aku menerimanya. Nah sekarang aku mau minta pendapat sama kamu, apa yang harus aku lakukan dengan uang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ambil aja. Apalagi kalau sampeyan lagi butuh uang itu. Itu kan halal, bukan proses yang haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan dari tadi memang tidak memperkarakan itu halal atau haram, Id. Aku tahu itu halal, tapi menurut aku tidak baik. Tidak baik, karena suatu yang halal tidak tepat dipergunakannya atau salah dalam mengaktualisasikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wong statusnya sudah halal, masih diperumit aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo menurutku, agama itu tidak mengistimewakan ke-halal-an tok, tanpa mempedulikan apakah itu bertentangan dengan kehidupan kemanusiaan atau tidak? Boleh jadi suatu yang halal itu tidak membawa kebaikan terhadap proses kehidupan. Cerai, misalnya. Cerai adalah suatu yang dihalalkan oleh agama, namun sejatinya ia sangat tidak dianjurkan bahkan sangat dibenci oleh Tuhan. Kenapa…??? Karena perceraian itu adalah suatu yang dapat membawa dampak negatif terhadap keutuhan keluarga dan sangat berpengaruh terhadap psikologis seorang anak yang menjadi korban perceraian ayah ibunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudahlah buat saya aja, hehehe....”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku salah juga jika memberi uang ini ke kamu. Wong kamu udah kaya. Malah seharusnya kamu harus sering memberi sedekah ke tetanggamu yang rumahnya gubuk kumuh itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya terakhir. Saya tapi tidak habis pikir dengan teman saya itu. Dia itu tampak terlalu idealis sehingga terkesan sombong dengan tidak mau menerima uang itu. Atau memang bener-benar peduli terhadap kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga saja benar kalau memang ia peduli dengan kemiskinan. Kan lumayan ada satu orang yang masih peduli terhadap kemiskinan diantara banyaknya orang yang sudah lupa bahwa masih banyak disekelilingnya kaum papa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8916168695154395104?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8916168695154395104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8916168695154395104&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8916168695154395104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8916168695154395104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/07/so-idealis-atau-memang-perduli.html' title='So&apos; Idealis atau Memang Perduli?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8303048737088600240</id><published>2007-06-14T11:19:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T11:29:58.600+07:00</updated><title type='text'>Sajadah Berdzikir</title><content type='html'>Harus kuakui bahwa perasaan cintaku pada Sarah tidak seperti rasa cintaku pada Nia. Tapi aku bingung, apa yang harus aku perbuat sekarang ini ditengah hubunganku dan Sarah yang sudah terjalin hampir satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam ini semuanya sangat sulit. Perasaanku yang dulu sudah mulai berada dalam trayek aman-aman saja dalam sebuah hubungan dengan Sarah, harus terganggu dengan suatu yang sangat sederhana dan singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kebetulan kemarin aku bertemu dengan Nia, mantanku. Aku dan Nia dulu memang pernah menjalin sebuah hubungan dekat. Hubungan kami terjalin sekitar dua tahun lebih. Namun karena aku selalu dikecewakan dengannya, akhirnya aku memutuskan untuk segera mengakhiri hubungan dengannya. Nia, selain cantik, adalah seorang yang supel jika bergaul. Sehingga tidak heran kalau banyak lelaki yang sangat menyukainya dan menginginkannya untuk menjadikan kekasih. Tapi justru yang membuat aku sering kecewa adalah karena kesupelannya dalam bergaul itu. Dia sangat terbuka disetiap hubungannya dengan lelaki lain. Dan pastinya aku sangat cemburu dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun entah mengapa pertemuan kemarin sangat membekas dalam perjalanan cintaku. Kegairahanku dalam mengarungi hidup seakan kembali terisi dengan energi positif, sepertinya rasa cinta, yang terjadi akibat pertemuan singkat itu. Pertemuan yang sangat luar biasa. Naluriku selalu ingin menyentuhnya, memeluknya, bahkan menciumnya. Saat itu aku bagaikan wajan yang kosong dan sangat mengidam-idamkan diisikan dan dipenuhi oleh air cintanya. Saat menatap matanya, aku merasa masih memilikinya. Yah, dia adalah miliku yang tidak akan pernah tergantikan. Saat tangannya mulai menyentuh tanganku, aku merasa dia tak akan pernah, benar-benar, menyakiti dan mengecewakanku. Saat kami mulai berbicara dan sedikit bercanda, didunia ini sepertinya tak ada orang lain selain kami berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa malam ini aku memiliki kesimpulan bahwa aku ternyata masih sangat mencintai Nia. Lalu bagaimana dengan hubunganku dengan Sarah? Apa yang harus aku perbuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba Hp-ku bergetar. Ketika aku lihat ternyata ada SMS yang masuk. Dan itu adalah SMS dari Sarah. &lt;em&gt;Bang, tolong jaga perasaan Ade yah? Ade sangat sayang sama abang&lt;/em&gt;. Membaca sms darinya, entah mengapa, bukannya senang karena ada orang yang masih sangat mencintaiku dan selalu setia terhadapku, malah membuat aku semakin bingung. Karena malam ini hatiku hampir sepenuhnya dikuasai oleh memori indah yang dibumbui cinta kepada Nia. Selebihnya adalah perasaan kasihanku kepada Sarah yang sudah sangat baik kepadaku dan sangat mencintaiku. &lt;em&gt;Haruskah ia kukorbankan?&lt;/em&gt; Hatiku sudah mulai ikut campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarah memang telah mengetahui pertemuan singkatku dengan Nia. Itu karena komitmenku untuk selalu jujur terhadapnya. Jadi pertemuan singkat itu dengan sangat berat harus aku ceritakan kepadanya. Mungkin aku memang bukan lelaki yang sensitif dalam menjaga perasaan seorang wanita. Kontan saja, mendengar cerita pertemuan itu, Sarah sangat geram dan mengutukinya. Sampai-sampai, saat aku menceritakannya, air matanya tak tertahankan mengalir keluar. Dia sangat shock mendengar cerita pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah polosnya aku menceritakan pertemuanku dengan Nia, hubunganku dengan Sarah terasa sekali perubahannya. Sarah seperti berusaha menjauh dari diriku. Namun, Aku terus mencoba menghubunginya dalam usaha memperbaiki tali kasih kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS tadi adalah saat pertamakalinya dia mulai ingin berkomunikasi denganku lagi setelah kekecewaannya, atau lebih tepatnya jika dikatakan kecemburuannya, terhadap diriku. Terus saja pesan itu aku baca berulang-ulang, namun tetap saja bukan kesenangan yang aku rasakan, malah aku semakin dibuatnya menjadi bimbang. Itu karena keyakinanku malam ini, bahwa aku ternyata punya rasa cinta yang sejati, namun bukan Sarah orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sebelum pesannya sampai ke HP-ku, aku sedikit mengamini dengan situasi hubunganku yang bermasalah ini. Dengan kondisi ini, sepertinya tepat untuk sedikit menjauhkan hubunganku dengan Sarah. Aku merasa inilah waktunya aku mengakhiri hubungan yang sebenarnya timbul bukan karena semata-mata rasa tertarikku kepadanya, namun sedikit terpaksa atau lebih tepatnya dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, malam ini, semua rahasia-rahasia perasaanku mulai berani untuk aku simpulkan kedalam teori-teori. Bahwa Sarah adalah bentuk pelarianku akibat kekecewaanku terhadap Nia. Dan juga ada unsur ego kelelakianku di sini. Aku merasa bisa hidup tanpa Nia, dan bisa mendapatkan penggantinya dengan cepat. Karena, seringkali, aku merasa bangga mengatakan pada Nia bahwa akau telah punya seorang kekasih penggantinya dan aku bisa hidup bahagia tanpa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring perjalanan hubunganku dengan Sarah yang kadung sudah diketahui oleh masing-masing orang tua kami. Perasaanku, yang memang masih milik Nia, terasa sangat mengambang dalam perjalanan hubungan kami. Sarah adalah seorang yang sangat baik dan, bisa dikatakan, lebih dewasa dibanding dengan Nia, namun dengan kelebihan yang dimilikinya, tidak dapat membuat hatiku yakin bahwa Sarah adalah cintaku. Yah, mungkin itu karena sebenarnya aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Sekarang yang ada hanya, ternyata aku, karena perbuatanku yang membabi-buta tanpa pernah benar-benar memikirkan secara masak tentang akibatnya, seperti terkurung dengan hubungan kami. Namun aku malu untuk mengakuinya. Karena aku masih memiliki gengsi sebagai lelaki. Aku pantang untuk merusak komitmen yang aku buat, walau kenyataannya itu sangat membuat aku sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu tiba-tiba HP-ku kembali bergetar. Ada pesan baru yang masuk. Masih tetap dari Sarah. &lt;em&gt;Ade mau maafin abang. Tapi Ade minta tolong, abang sedikit hargai perasaan Ade. Jujur, Ade tidak bisa tahan jika selalu dikecewakan. Tapi jujur pula, Ade tidak bisa memungkiri, bahwa Ade masih sangat sayang sama abang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pesannya yang kedua. Aku semakin mengutuki semua perbuatanku selama ini. Ada rasa simpatik dan empatik ketika membaca pesannya. Sampai aku sendiri tidak mampu menahan jatuhnya genangan air di mata. Namun, aku tidak ingin langsung menyimpulkan perasaan ini. Aku masih saja bingung dan tidak membalas pesannya. &lt;em&gt;Apa yang harus kuperbuat Tuhan?&lt;/em&gt;. Hatiku, malam ini, selalu saja menanyakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku putuskan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk shalat Isya. Yah, nampaknya shalat akan dapat membuat aku lebih tenang dan akhirnya aku dapat berpikir secara jernih. Dalam shalat aku sengaja meminta kepada Tuhan jalan keluar dari semua masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tuhan Yang Maha Pencinta, berilah hambamu ini petunjuk jalan akan apa yang harus hamba perbuat di tengah masalah yang hamba hadapi ini. Hamba lemah, selemah-lemahnya makhluk. Oleh karena itu hamba mohon tuntunanmu dalam setiap tindakan hamba….&lt;/em&gt; Aku sedikit terisak dan memikirkan apa lagi yang harus aku pinta, &lt;em&gt;Tuhan, Apa dan Siapa yang harus aku korbankan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isakan tangisku makin menjadi-jadi dengan doa terakhirku. Dan aku tiba-tiba tersungkur di atas sajadah. Aku terkulai lemah dalam lilitan masalah dan tentunya karena keagungan Tuhan Yang Maha Pencinta. Mungkinkah tersungkurnya aku karena sebenarnya Tuhan menyapaku dan berbicara kepadaku tentang apa yang seharusnya aku lakukan. Tapi yang pasti saat itu aku lemah sekali. Aku hanya bisa menekuk badanku dalam dekapan sajadah suci dan deraian air mata. &lt;em&gt;Aku mencintaimu, Tuhan……&lt;/em&gt; Dzikir cinta itu terucap begitu saja tanpa kupikirkan dan terus saja membasahi bibirku. Mungkin Tuhan memang tidak seharusnya dipikirkan, namun dirasakan. Dan akhirnya aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi datang menyapa dengan sinar matahari yang cerah memancarkan ke sebagian permukaan bumi. Sengaja aku tidak pergi kuliah hari ini. Karena aku harus bertemu dengan Sarah dan menyelesaikan semua masalah. Pagi itu aku baru menjawab dua pesan dari Sarah dengan kata-kata yang sedikit pelit dan terasa tidak menjawab pesannya semalam. &lt;em&gt;Boleh ketemuan pagi ini?&lt;/em&gt; Dan tak lama kemudian datang jawaban dari Sarah, &lt;em&gt;Lho, memangnya abang ngga ada kuliah hari ini? Maaf yah kalau kata-kata Ade semalam, buat abang bingung. Mudah-mudahan Ade ga salah yah? Itu karena Ade sangat sayang sama abang. Kalo mau ketemuan, boleh aja. Dimana, Bang?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa Sarah kalau sudah menulis pesan sangat panjang dan bertele-tele. Padahal aku jelas-jelas hanya mengharap jawaban iya  atau tidak darinya. Namun di luar itu, membaca jawabannya justru sangat mempengaruhi niatku untuk bertemu dengannya. Tapi semalam aku seperti sudah dikuatkan oleh Tuhan untuk menyelesaikan semuanya pada hari ini. Semakin banyak waktu yang terbuang, akan malah membuat masalahnya semakin rumit. Pilihannya hanya, apakah aku harus mengorbankan cinta sejatiku atau aku harus korbankan seorang yang sudah sangat tulus sekali mencintaiku, walaupun jelas, aku belum bisa mencintainya setulus cinta sejatiku terhadap wanita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di tempat biasa, De. TIM. Jam 10, yah?!&lt;/em&gt; Taman Ismail Marzuki adalah tempat kami berdua pernah berkomitmen untuk menjalin hubungan kami. Dan aku memutuskan untuk menyelesaikan masalah aku dengannya di tempat yang dulu pernah menjadi saksi bisu saat kami berkomitmen untuk jalan bersama mengarungi suka-duka hidup dan selama kami merayakan kerinduan, kerinduan dia semata sebenarnya, selama berhubungan. Tidak lama kemudian jawaban darinya masuk ke dalam inbox HP-ku. &lt;em&gt;Oh, TIM  yah Bang? Okelah. Tapi sebenarnya ada apa sih, Bang? penting banget yah? oh iya, tadi pertanyaan Ade blm di jwb. Ko ngga kuliah?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nanti aja di sana semuanya abang jelasin yah. Ditunggu!&lt;/em&gt; Aku langsung bersiap-siap untuk menuju ke Taman Ismail Marzuki. Karena jam telah menunjukkan angka delapan. Sedangkan perjalanan dari rumah ke sana sekitar satu jam. Bagus-bagus kalau tidak macet. Tapi, di Jakarta, berharap tidak macet adalah suatu yang hampir mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai di sana sekitar jam 09.40 WIB. Masih ada sekitar 20 menitan untuk menunggu sampai jam 10. Akhirnya aku sengaja melihat buku-buku lama di toko buku yang ada di dalam pekarangan TIM. Setelah jam telah menunjukkan pukul 10 kurang 5 menit, aku langsung menuju café tempat biasa kami menghabiskan waktu melepas kerinduan, lagi-lagi hanya kerinduan dia sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di sana , aku terkejut, karena ternyata ia telah berada di sana lebih dahulu. Dia telah duduk di kursi café sambil membaca buku, tepat kursi di mana pertama kali kami menyatakan sayang dan cinta. Dari jauh, aku sengaja berhenti untuk memandangnya sebentar. Dia sangat cantik sekali dan sangat berbeda sekali dari biasanya. Gaunnya berwarna biru muda. Dan yang membedakannya adalah dia memakai gamis dengan jilbabnya yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Itu pertama kalinya aku melihatnya menggunakan gaun itu. Biasanya ia hanya menggunakan jilbab yang hanya menutupi kepalanya saja. Dia sebenarnya baru dalam menggunakan hijab. Kita memang sering &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; tentang agama, budaya, sampai politik. Dan hijabnya itu, diakuinya, sebagai buah &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; kita selama ini. Tapi yang membuat aku agak terkejut saat ia akhirnya memutuskan ingin mengenakan hijab, adalah, padahal aku tidak pernah memaksakannya untuk mengunakan hijab. Tapi kalau memang menurutnya perubahan itu adalah suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Yah, itu memang semata-mata keputusan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh aku menatap terus dirinya, tanpa diketahuinya. aku ingin sekali memandang dia sekali saja dengan penuh kualitas. Tidak selama ini, yang hanya memandang dengan pandangan yang tidak berkualitas. Terus saja aku pandangi dia. Tapi hatiku menegur menanyakan komitmenku semalam saat tahajud dan istikharah. Yah, aku lupa, ada yang harus aku lakukan hari ini. Keputusan yang sudah aku bulat tekadkan dan telah aku istikharahkan harus aku eksekusikan pagi ini. Dan tidak boleh terpengaruh oleh perasaan lain. Tujuanku hanya menyampaikan jawaban Tuhan kepadaku, saat aku berbincang dengannya semalam dalam istikharahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Assalamu ‘alaikum….. Mendengar salamku&lt;/em&gt;, dia terkejut. Dan langsung sumringah wajahya lalu menjawab, &lt;em&gt;Wa ‘alaikum Salam Warahmatullah….&lt;/em&gt; Wajahnya terlihat sangat bercahaya dan sangat menyentuh sisi ketertarikanku. Tidak seperti biasanya. Jawabannya juga halus tidak seperti biasanya. Mungkin ia berusaha untuk menyesuaikan perubahannya sekarang ini. Tapi yang tidak kulihat perbedaannya adalah tatapan matanya yang sepertinya masih saja mengharapkanku. Yah, mata yang sedikit menanyakan kesetiaanku. Menagih komitmenku untuk selalu mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduk, Bang.”&lt;br /&gt;“Terima kasih, De. Udah lama?”&lt;br /&gt; “Belum ko, Bang.”&lt;br /&gt; “Abang mau pesan makan atau minum?”&lt;br /&gt; “Kamu sudah makan?”&lt;br /&gt; “Belum, Bang,”“Abang mau makan apa?”&lt;br /&gt; “Bubur ayam aja. Minumnya teh manis hangat, De.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Joko, Bubur ayamnya dua yah. Terus minumnya satu teh manis hangat, dan satu jus mangga yah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang kenapa ngga kuliah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, De. Abang lagi malas. Lagian hari ini dosennya belum ngasih kepastian akan datang atau tidak. Soalnya minggu kemarin bilangnya sih mau menghadiri acara walimahan temannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ade, kelihatan tambah cantik aja sekarang. Gaunnya baru ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih, Bang. Iya, kemarin diantarkan kak Levi belinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya. Katanya ada yang ingin dijelaskan, Bang?” Mendengar pertayaannya, aku seperti dikejutkan oleh bongkahan es yang siap untuk ditabrak perahu pesiar yang aku tumpangi. Hatiku bergetar. Kakiku gemetar. Tanganku pun ikut gemetar. Tapi yang jelas, niatku untuk mengatakan sesuatu itu, hampir saja luntur dengan pertanyaannya yang sangat to the point tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita makan dulu yah. Abang sudah lapar banget nih. Nanti baru kita bicarakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh, maaf. Ade terlalu to the point yah, Bang? ya sudah kita makan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama makan, kami diskusi macam-macam. Yah, memang jika bertemu kami senang sekali mendiskusikan suatu yang masih sangat hangat. Kali ini kita mendiskusikan banyak masalah, dari pemilihan gubernur DKI Jakarta, Dana DKP, nilai tukar rupiah, sengketa tanah, perda syariah islam dan kristen, dan masih banyak yang lainnya. Diselingi dengan sedikit humor, sarapan pagi kami makin berkualitas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya waktunya datang juga. Setelah ia selesai menghabiskan bubur ayamnya, aku seperti diperintahkan oleh hati nurani, inilah saatnya aku harus mengatakannya. Entah apapun reaksinya terhadap semua yang akan aku jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De, sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk bicara. Ada dua hal yang Abang mau jelaskan. Tapi abang minta tolong, jangan pernah potong pembicaran Abang sebelum Abang menyelesaikannya,. meskipun itu menyenangkan atau malah sebaliknya. Bisa, De?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…., bisa Bang.” Dengan perasaan bingung, mungkin, ia menjawab dan menyanggupi permintanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De, yang pertama, maafkan abang kemarin, dan selama ini, yang sudah menyakiti perasaan Ade. Jujur, kemarin Abang tidak pernah punya niatan untuk menyakiti Ade dengan ketemuan sama Nia. Abang tau, dari sms ade, bahwa Ade kecewa terhadap Abang. Tapi pertemuan itu sejujurnya tidak pernah direncanakan. Kita kebetulan saja bertemu. Akhirnya dia mengajak Abang untuk sekedar mengobrol. Dan, ya…, hanya mngobrol, tidak lebih. Inilah yang Abang mau luruskan ketika Abang selalu berusaha menelpon Ade, namun Ade tidak pernah mau memberi Abang kesempatan untuk menjelaskan. Sekarang Ade mau maafin Abang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaanku, Sarah langsung menundukkan kepalanya dan sedikit mencubit hidungnya. Ia terlihat sangat tertekan, namun berusaha menghilangkan kesan itu dengan sedikit tersenyum, walaupun genangan air di matanya sudah mulai tampak, ketika ia mengangkat kembali kepalanya untuk menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jujur, Ade sakit hati, Bang. Entah itu pertemuan sengaja atau pertemuan yang memang tidak sengaja seperti yang Abang jelaskan tadi, tapi tetap Ade merasakan hati ini sakit, Bang. Tapi sejujurnya, Ade tidak pernah marah sama Abang. Karena Ade memang tidak akan pernah bisa marah sama Abang. Karena Abang adalah segala-galanya bagi Ade. Tapi ada satu yang Ade tidak bisa ngerti. Ade ngerasa Abang belum bisa menerima dan menghargai  sepenuhnya perasaan Ade. Itu aja Bang yang selalu mengganggu dan mengusik Ade selama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendegar jawabannya hatiku ingin menangis. Tapi tidak kutumpahkan. Karena aku telah melihat ada tetes air mata di pipi Sarah. Aku berusaha tegar, walaupun agak sulit untuk menahannya untuk tidak menangis. Dalam hati aku hanya berujar, aku harus tegar. Aku harus bisa menjadi seorang lelaki yang tidak cengeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling diam. Suasana sangat sunyi. Yang terdengar hanyalah suara hatiku yang menjawab keresahannya selama ini. De, ini semua karena Abang memang belum bisa mencintai Ade. Masih ada cinta orang lain dihati ini. Abang sangat takut sebenarnya jika harus kehilagan cinta ini. Karena ini adalah separuh hidup Abang. Cinta ini ada begitu saja tanpa Abang pesan sama Tuhan. Entah ini nafsu semata atau cinta sejati. Tapi yang pasti rasa ini sangat mengganggu seluruh ruang hidup Abang selama ini. Maafkan Abang, De. Namun semua kata-kata itu tak sampai terucap di bibirku. Karena kutahu pasti akan menghancurkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku harus segera mengatakan pilihanku akan apa yang harus aku korbankan. Pilihan yang kusertakan Tuhan dalam memilihnya. Namun tetap saja ada keraguan, karena keinginanku adalah aku tak ingin mengorbankan apapun dan siapapun. Namun semuanya nyatanya memang telah terlambat. Harus ada yang menjadi korban dalam masalah ini. Dia atau Cinta Sejatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De, makasih sudah tidak pernah marah terhadap Abang.” Aku sedikit menahan nafas dan masih memandangnya. Dia mulai sesenggukan. Entah apa yang ia rasakan, karena aku memang tidak sensitif dan belum bisa mengerti perasaan seorang wanita. Aku masih mengumpulkan serpihan-serpihan keberanian yang masih berserakan untuk mengatakan suatu yang sangat penting bagi kehidupanku dan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De……..,” Ahirnya aku beranikan untuk mengatakannya. “Maukah Ade menikah dengan Abang?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8303048737088600240?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8303048737088600240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8303048737088600240&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8303048737088600240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8303048737088600240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/06/sajadah-berdzikir.html' title='Sajadah Berdzikir'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4786944523294572762</id><published>2007-06-14T08:47:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T11:04:38.917+07:00</updated><title type='text'>Prinsip Etika si Jay</title><content type='html'>Malam selepas kuliah, di atas sepeda motor, teman saya, Jay, biasa saya menyapanya, tiba-tiba mengeluh sedang dilanda banyaknya polemik yang sedang dipikirkan. “Pikiranku lagi penuh kontroversi nih, Id”. Si Jay, teman saya itu, memang termasuk orang yang pandai dan idealis dalam memegang prinsip. Walaupun kadang-kadang ke-idealisan atas prinsip-prinsipnya itu tidak populer oleh masyarakat kebanyakan. Tapi itulah dia, seorang yang selalu punya alasan atas prinsip yang ia pegang dan berani berargumen membela apa yang menjadi prinsipnya, meskipun harus melawan masyarakat kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu, sok-sok banyak pikiran, Jay. Yah ga usah dipikirin.” Saya yang sebenarnya tidak pernah tahu tentang apa yang menjadi pikirannya sekarang ini, mecoba untuk tidak menanggapinya. Karena saya memperkirakan, akan banyak perbincangan yang akan kita lakukan, padahal saya harus konsentrasi dalam mengendarai sepeda motor. Apalagi saya sedang memboceng teman saya yang sudah mulai tambun pasca pernikahannya tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya, saya ga bisa ngilangin pikiran ini. Karena ini adalah masalah yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Apalagi ini adalah suatu yang sangat bertolak belakang dengan prinsip yang saya pegang dan yang seharusnya mereka lakukan sebagai konsekwensi pernyataan janji yang pernah mereka buat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka? Maksdumu itu siapa? Dan memang apa masalahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para atasan di kantor, Id”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kode etik, yang seharusnya menjadi awal merubah sistem yang kotor dan jorok, nyatanya hampir tak pernah diindahkan oleh mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban darinya, saya langsung paham apa yang sebenarnya telah mengganggu pikirannya dan menjadi kegelisahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti menemukan sebuah emas yang hilang, dia sangat senang sekali dan bicara uneg-unegnya serta berbagi cerita tentang masalah yang selama ini tak pernah dia bicarakan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pas sekali jika idiom merubah sesuatu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan dijadikan bandrol dari konsep perubahan sistem yang memang sudah tidak layak lagi untuk dijalani, apalagi pada dewasa ini, walaupun sebenarnya sistem itu memang “kotor” adanya sejak dulu kala, namun hampir berhasil ditutup-tutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hargai dengan bandrol demikian, karena memang nyatanya demikian adanya. Merubah sistem yang sudah “mendarah daging” dalam sebuah badan atau organisasi nampaknya tak semudah dengan memberikan sebuah pernyataan dalam bentuk tanda tangan di atas kertas yang bermeterai saja. Memang di dalamnya sangat jelas sekali akibat dari perbuatan yang melanggar dari setiap pencorengan etika yang dilakukan. Namun hal itu tidak pernah dapat menjamin telapak tangan kita akan mudah terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah suatu yang ironis, karena para punggawa pembuat aturan etika kerja yang dituntut untuk menghadapi modernisasi global, adalah para pelaku-pelaku yang telah berpengalaman dalam “premanisme sistem” yang selama ini dijalani. Akibatnya suatu yang kita, mungkin sebagian orang saja, idam-idamkan akan perubahan ke arah yang lebih positif akan sangat sulit terealisasi. Dan idiom di atas tadi akan sangat benar adanya, atau malah salah sama sekali, karena telapak tangannya sebenarnya sama sekali tidak ingin dibalikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya perubahan sistem itu harus mengikuti perubahan moral seseorang. Moral dulu ditanamkan, baru perubahan sistem akan berjalan seiring dengannya. Tanpa adanya perbaikan moral, perubahan yang telah dilakukan sampai sekarang ini, ibarat mengharapkan bulan bersinar di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan cara apa melakukan perbaikan moral seseorang? Mungkin bisa dengan Shock Theraphy, melalui Law Enforcement. Menurut saya, penegakkan hukum adalah jalan terbaik untuk membina mental dan moral para pelaku kerja yang sudah terbiasa, bahkan telah menjadikannya sebagai budaya atau tradisi, dengan pelanggaran-pelanggaran etika yang selama ini mereka lakukan. Dengan hukum atau ancaman dari setiap pelanggaran itu ditegakkan secara sungguh-sungguh, saya yakin sistem baru yang diidam-idamkan oleh sebagian orang akan sangat mudah dilaksanakan. Di sini masalahnya adalah, kita mau atau tidak untuk melakukan perubahan yang selama ini telah menjadi jalan kita. Perubahan ke arah yang lebih positif tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas motor saya, dia banyak bercerita tentang pelanggaran-pelanggaran etika yang, menurutnya, selama ini dilakukan oleh teman-temannya atau para atasan di kantornya. Tapi itu semua hanya penyaluran uneg-uneg dan sekedar berbagi cerita dan pendapat antara dia dan saya, karena pada dasarnya dia sadar, ke-idealisme-annya yang notabene hanyalah seorang pelaku kerja dengan golongan paling rendah di tempat kerja, tidak akan memberikan suatu perubahan yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memang hampir tidak memiliki kapasitas untuk menularkan idealisme saya terhadap mereka, Id. Namun  jika saya diberi kesempatan untuk memberikan suara, saya akan suarakan pendapat saya sesuai prinsip yang saya pegang. Atau kalau memang memungkinkan, saya ingin pindah saja ke tempat lain.” Teman saya itu meledak-ledak memberikan opiniya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pindah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, karena, mungkin hanya itu bentuk protes yang bisa saya lakukan, Id”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4786944523294572762?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4786944523294572762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4786944523294572762&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4786944523294572762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4786944523294572762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/06/prinsip-etika-si-jay.html' title='Prinsip Etika si Jay'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-9008626587864515700</id><published>2007-06-06T16:43:00.000+07:00</published><updated>2007-06-06T16:45:14.587+07:00</updated><title type='text'>Interpelasi, Gus Dur, Akang Becak, Veteran Perang, Iwan Fals, dan Atasan Saya</title><content type='html'>Seperti anak-anak di Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Untuk Gus Dur yang terhormat, sorry kata-katanya saya pinjam untuk sekedar merefleksikan sebuah lelucon konyol para punggawa pemegang kuasa di negeri endonesah ini. Eh, Endonesah atau Indonesia yah? Waduh saya sudah lupa sama nama negeri saya sendiri. Benar kata-kata sang veteran, di acaranya Kick Andy, anak muda sekarang memang banyak yang kurang ajar, wong sama nama negeri sendiri saja lupa. Ah, berarti saya harus banyak-banyak minta maaf sama para veteran nih, “maklumin kami ya Ki” (panggilan untuk para veteran yang memang sudah aki-aki – Tua, tapi perjuangannya pasti tak pernah menjadi aki-aki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sedikit yakin kalau para veteran itu juga bisa maklum dengan kekurang-ajaran saya. Apalagi kalau dia melihat berita-berita di teve tentang pola tingkah laku para opotunis kekuasaan (dibilang oportunis yah karena tidak pernah merasakan perjuangan merebut kekuasaan dari para penjajah seperti para veteran perang, bisanya cuma berkoar-koar dengan alasan meneruskan kemerdekaan sambil uncang-uncang kaki dengan sedikit menguap). Tapi tentu tidak banyak, karena saya juga yakin kalau di rumah para veteran itu tidak ada teve, paling bagus juga teve hitam-putih yang di atasnya tergantung sebuah medali lusuh dan piagam berpigura kayu di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti anak-anak di Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Sorry lagi Gus diulang. Yah, tapi kayaknya itu yang pantas disandang para pemegang kuasa, entah sang eksekusi atau sang legislasi, di negeri ini. Gara-gara sebuah istilah yang kini sudah mulai populer, INTERPELASI. Dibilang populer karena istilah itu memang ada dalam kamus istilah populer kepunyaan saya di kosan, “sorry guyon”. Tapi, coba aja tanya tukang becak yang mangkal di pinggir perempatan jalan dekat rumah saya, wah interpelasi itu sudah sangat dikenal oleh mereka. Jawaban mereka sih agak ngawur, “interpelasi itu kan alat perekat yah??” Malah ada yang jawab lebih ngawur, “wah enak tuh kalau dibuat sambal, terus pake lalapan tambah ketimun, waduh pasti nikmat bener tuh…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi paling tidak mereka berani menjawab dengan santai, ngga’ pakai diwakilkan sama orang lain untuk sekedar menjawab pertanyaan saya. Tapi saya senang ko’ dengan jawaban mereka walaupun jelas saya sangat-sangat tidak puas. Wong intinya tuh mereka mau jawab pertanyaan saya, soalnya kan pasti kesal kalau pertanyaan kita ngga dijawab, kalau bahasa gaulnya sih, dikacangin (dicuekin). Tapi, sebenarnya itu cuma basa-basi saya sama akang becak biar lebih akrab aja. Bener ko’ ngga ada maksud apa-apa, apalagi demi kepentingan atau jebakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau saya pikir-pikir lagi, kelewat bener saya menuntut jawaban dari mereka. Padahal saya yakin masih banyak masalah yang dihadapi keluarganya si akang becak yang kelaparan menunggu ayahnya pulang membawa paling tidak 5000 perak untuk ngebulin asap dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, maaf saya ngelantur. Balik lagi ke lap….top, itu sih kata si tukul. Maksud saya kita kembali lagi ke inti permasalahan. Tapi inti permasalahannya apa yah? waduh saya lupa. Memang anak muda sekarang banyak lupanya, mungkin terlalu banyak masalahnya kali yah? betul juga sih kata teman saya kemarin, yang juga pemuda, kalau memang negeri kita ini pantas disebut dengan negeri 1001 masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut saya, sebenarnya sih cuma satu masalahnya, tapi yang seribu sengaja dibesar-besarkan. Kan orang-orang di negeri kita, kebanyakan, suka sama yang besar-besar, apalagi kalau sudah ngomongin dadanya cewek, ups sorry, wah harus ada batasan umur nih kayaknya untuk yang ingin membaca tulisan ini. PERHATIAN :  tulisan ini untuk merasa yang sudah dewasa saja. Tuh, peraturannya saja ngga jelas, katanya batasan umur, ko malah dewasa atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke Interpelasi atau hak bertanya. Sebenarnya inti tulisan saya ini cuma mau sedikit kasih masukan. Tapi saya ngga mau to the point langsung. Kan anak-anak TK sekarang sudah pintar-pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin kasih sepenggal lirik syair Iwan Fals yang berjudul Jangan Bicara, penyanyi kesukaan atasan saya, tapi kayaknya saya sudah mulai terpengaruh olehnya untuk sekedar mendengar lagu-lagunya yang  marjinalis-kritis-sosialis-politis-proletaris, tapi tidak semuanya saya suka sih lagu-lagunya, apalagi sepertinya dengan kemapanannya sekarang, lagu-lagunya sudah hampir, sudah hampir loh saya bilang, kehilangan “keikhlasannya”. Tapi mudah-mudahan ini cuma prasangka kosong. Ups saya lupa sama atasan saya. Maafin saya ya Pak. Loh, sorry, ko saya jadi ngomongin Iwan Falsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak TK, eh maaf, tulisan ini kan untuk kalangan dewasa aja yah, tapi kalau masih kecil tapi sudah merasa dewasa juga ngga apa-apa deh, nih penggalan liriknya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lihat di sana, si Urip meratap di teras marmer direktur murtad,&lt;br /&gt;Lihat di sana, si Icih sedih diranjang empuk waktu majikannya menindih,&lt;br /&gt;Lihat di sana, parade penganggur yang nampak murung di tepi kubur,&lt;br /&gt;Lihat di sana, antrian pencuri yang timbul sebab nasinya dicuri….&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang ngoceh-ngoceh masalah Interpelasi. Kalau mau denger lagunya silahkan hubungi saya, bukan bajakan ko’, cuma meng-convert dengan maksud mengecilkan ukuran besar lagunya yang semula extentionnya .cda punya teman saya menjadi .MP3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya yakin kalau lagu “bajakan”nya ini sampai pada para penguasa negeri ini, dan alasan ga penting sih : semakin mempopulerkan nama Iwan Fals sendiri, pasti Iwan Falsnya senang dan ikhlas. Bukannya kita harus husnuzhan sama orang? Dan yang pasti Iwan Fals itu bernyanyi membela wong cilik. Masa lagu untuk kepentingan wong cilik dikapitalize dengan bandrol seharga beras 3 liter? Ah ngawur lagi saya, maklum anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup tulisan ini, saya terlebih dahulu mau minta maaf kepada Gus Dur, yang kata-katanya sudah saya pinjam tanpa izin. Juga maaf sama Kang Becak di perempatan jalan dekat kosan saya, yang secara tidak sopan telah bertanya istilah yang ga jelas. Lalu maaf juga sama para veteran perang pembela sesungguhnya kemerdekaan namun tak pernah dihargai perjuangannya. Dan tak lupa pula permintaan maaf  kepada atasan saya sebagai OI dan juga Iwan Falsnya yang sudah saya bajak lagunya. Tapi mas Iwan, saya ikut mendoakan, semoga para pembajak lagu sampeyan ikut semakin moralis-kritis menjalani dan menghadapi kehidupan di negeri yang telah berumur kepala enam ini sesuai dengan tujuan lagunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, untuk para penguasa yang sedang menjadi korban istilah populer yang ada dalam kamus dengan cover warna biru di kosan saya, INTERPELASI, cobalah,  lihat di sana………&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-9008626587864515700?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/9008626587864515700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=9008626587864515700&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9008626587864515700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9008626587864515700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/06/interpelasi-gus-dur-akang-becak-veteran.html' title='Interpelasi, Gus Dur, Akang Becak, Veteran Perang, Iwan Fals, dan Atasan Saya'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-1183739559760871173</id><published>2007-06-06T16:26:00.000+07:00</published><updated>2007-06-06T16:39:58.018+07:00</updated><title type='text'>Betawi dan Sebuah Pencitraan</title><content type='html'>Ketika saya sedang membuka kotak pos elektronik saya, kemarin siang, saya mendapati satu e-mail dari teman masa kecil saya. Mohammad Anwar, namanya, yang ternyata lebih memilih hidup dan bekerja di Lampung dari pada mengadu nasib di Jakarta yang sangat keras persaingannya. Dia adalah jebolan Ekonomi Manajemen - Universitas Negeri Lampung. Isi e-mailnya cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini e-mailnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Assalamu’alaikum…..&lt;br /&gt;Apa kabar, id? Terus juga, gimana kabar keluaga di rumah? Mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah SWT. yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Id, langsung aja yah. Ada apa dengan Jakarta sekarang ini, Id? Kemarin saya baca surat kabar, dan saya menemukan beberapa konflik. Konflik yang pertama adalah masalah perseteruan tanah di Meruya Selatan-Jakarta Barat. Itu kan dekat sekali dengan kampung kita, Id. Banyak juga teman-teman kita semasa Sekolah Dasar yang tingal di sana. Bagaimana nasib mereka, keluarga mereka, tetangga-tetangga mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari benar atau tidaknya bahwa PT Portanigra memiliki hak atas tanah seluas 43,9 hektar, saya cuma agak khawatir dengan rencana eksekusi yang mau dilakukan. Bukannya di sana ada beberapa Sekolah Dasar dan satu gedung SMP. Itu yang saya pikirkan, Id. Apakah tega pihak PT Portanigra mengeksekusi rumah-rumah pembentuk karakter anak bangsa, sekolah-sekolah itu,  yang justru sekarang ini, di semua sudut negeri ini, hampir sudah tidak diperhatikan lagi bangunan-bangunannya oleh negara. Tapi, Id. Terlepas jadi atau tidaknya eksekusi di sana, tolong sampaikan salam saya, tentunya dengan doa saya dari sini, kepada teman-teman kita yang berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Id, dalam Surat Kabar itu saya juga mendapat informasi tentang konflik, yang menurut saya sangat memalukan, sesama ormas betawi di Kebayoran Lama. Kenapa saya katakan sangat memalukan? Karena saya sebagai orang betawi sangat merasakan dampaknya secara tidak langsung di kota tempat saya tinggal. Id. Asal kamu tahu, masih banyak sekali orang-orang menilai sesuatu dengan cara men-generalisir sebuah masalah. Jadi citra betawi pasti jatuh akibat dari ketidak-becusan para pemipin ormas-ormas Betawi itu dalam memberikan sebuah pengertian kepada para anggotanya, yang tentunya adalah masyarakat Betawi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca bukunya Alwi Shahab. Masyarakat Betawi yang membacaya pasti akan merasa bangga menjadi warga Betawi. Alwi Shahab mengatakan pada salah satu essai-nya, bahwa Orang Betawi itu bukannya preman tapi jagoan. Preman sama jagoan itu berbeda sekali, Id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagoan lebih cenderung membela, yah membela, sebuah ketidak-mapanan, membantu segala macam kelemahan, dan menegakkan sesuatu yang salah atau ketidak adilan menjadi sebuah kebenaran atau keadilan. Namun preman penilaiannya sangat negatif. Preman adalah orang-orang, yang kata orang betawi sih, “semaunye gue aje”. Namun menurut saya, sebenarnya preman terbentuk dari yang namannya ketidak-becusan suatu negara dalam menata negaranya. Jiwa preman itu bisa muncul karena kemiskinan, karena terlalu jauhnya, malah terasa makin jauh sekarang ini, gap atau kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya, dan yang pasti preman dapat terjadi karena memang orangnya kurang terpelajar. Preman adalah orang-orang yang tidak dapat menerima kecacatan yang ada. Yah, karena pemerintah negara kita banyak cacatnya dalam menjalani tugasnya, jadinya muncul preman-preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu bukan pembelaan saya terhadap orang Betawi yang suka berkonflik. Cuma, tulisan Alwi Shahab itu jadi salah dengan sendirinya. Ternyata tidak semua masyarakat Betawi mempunyai jiwa menjadi jagoan, malah sekarang cenderung banyak premannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal bagaimana masyarakat Betawi, terutama masyarakat Betawi yang lebih beruntung bisa mengecap bangku pendidikan yang tinggi untuk memberikan sebuah citra yang baik, kalau tidak untuk ditunjukan kepada masyarakat daerah lain, paling tidak kepada masyarakat Betawi sendiri yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Supaya mereka lebih semangat dalam meraih cita-cita. Dan akhirnya Alwi Shahab tersenyum kembali, karena memang tulisannya benar adanya bahwa masyarakat Betawi adalah Masyarakat jagoan yang selalu membela kebenaran dan menegakkan keadilan di setiap ketidak-adilan, bukannya menjadi preman yang selalu membuat konflik di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita juga dapat memberikan kontribusi untuk masyarkat Betawi, Id. Walaupun bukan sesuatu yang besar, yang kecil pun tidak apa-apa. Tetap santun, tetap baik, tetap mudah menolong, dan yang pasti tetap ingat Allah. Itu sebuah citra juga, Id! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah dulu, Id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;E-mail itu saya baca dengan nada berat. Waw! Pikiran saya langsung manyambutnya. Saya yang berada dekat sekali dengan Jakarta, hampir tidak pernah memikirkan tentang sebuah citra masyarakat Betawi. Sedangkan teman saya itu, walaupun berada jauh di seberang pulau, sangat peduli sekali dengan sebuah pencitraan Batawi. Dalam hati, saya cuma menjawab ajakanya, ”Insya Allah, Han!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-1183739559760871173?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/1183739559760871173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=1183739559760871173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1183739559760871173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1183739559760871173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/06/betawi-dan-sebuah-pencitraan.html' title='Betawi dan Sebuah Pencitraan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8054127278721572568</id><published>2007-05-29T09:40:00.001+07:00</published><updated>2007-05-29T11:09:01.212+07:00</updated><title type='text'>Ubay Memilih Etika Epikuros dari Pada Aristoteles</title><content type='html'>Kemarin sore, saya dan Ivan, pergi ke rumah Ubay. Kami pergi ke sana ingin menanyakan kenapa saat dia dicalonkan untuk menjadi ketua Forum Mushallah Assyatiriyyah, dia malah mengundurkan diri. Padahal ia adalah salah satu kandidat kuat. Tapi itulah Ubay. Entah apa yang ia pikirkan. Padahal orang banyak yang mau jadi pemimpin, eh, dia malah mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bay, kenapa sampeyan mengundurkan diri dari pemlihan ketua kemarin?” Saya tanyakan soal kejadian kemarin padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga kenapa-napa ko, Id”&lt;br /&gt;“Bener?”&lt;br /&gt;“Iya. Bener ko”&lt;br /&gt;“Tapi bukannya sebelum ada pemilihan, sampeyan semangat banget mau jadi ketua mushallah?”&lt;br /&gt;“Sudahlah. Jangan dibahas lagi ya, Id?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bay, kami ke sini justru mau menanyakan alasannya” Ivan Menegaskan kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan masalah besar ko, Van”&lt;br /&gt;“Terus masalahnya apa dong?”&lt;br /&gt;“Ane cuma mau tenang aja ngejalanin hidup,” Ubay menjawab. “Menurut ane, kalau kita sudah terbebani sama sesuatu, pasti itu akan mengusik ketenangan batin. Dan akhirnya kenikmatan hidup jadi terhalangi deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban jujur dan sangat memelas dari Ubay, Ivan malah tersenyum seperti ada sesuatu yang lucu yang sedang ia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kaya pengikutnya ‘Epikureanisme’ aja, Bay.” Ivan akhirnya mengeluarkan pengetahuan berfilsafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Ubay agak bingung dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Ivan. Memang Ivan adalah teman kami yang sangat suka sekali membaca buku-buku filsafat. Di rumahnya banyak sekali buku-buku filsafat, baik filsafat barat maupun filsafat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud ente apa, Van?” Ubay minta penjelasan.&lt;br /&gt;“Iya. Epi….. ku ….. rea…nisme itu apa, Bang?”saya bingung dan juga minta penjelasan pada Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itu tadi. Apa yang tadi kamu bilang, Bay. Bahwa kebahagiaan dunia adalah suatu kenikmatan. Dan untuk meraihnya sebisa mungkin kita menarik diri dari berorganisasi atau malah menarik diri ketika telah dicalonkan menjadi ketua organisasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Epikuros-lah yang membawa aliran itu. Aliran itu datang pada masa sebelum pra-sokratik,” Ivan sedikit menceritakan sejarahnya. “Nah Bay, masa’ mental kamu mau kembali lagi ke masa itu? Masa Pra-Sokratik sekitar 300-an Sebelum Masehi loh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayak aliran sufi yah, Bang.” Saya bertanya pada Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sekilas seperti ajaran tasawuf yang diusung oleh para sufi. Tapi sejatinya sangatlah berbeda. Epikuros sangat berbeda sekali dengan para sufi ketika berbicara tentang Tuhan. Tapi Itu tidak terlalu pentinglah untuk dibahas dalam masalah ini. Pada dasarnya yang menjadi perhatian atau inti ajaran yang dibawa oleh epikuros adalah masalah etika. Jadi lebih baik sekedar etika saja yang kita bahas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh memang apa yang salah dari etika ane, Van?” Ubay bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam filsafat, apalagi pada sebuah filsafat etika, tidak ada yang salah atau disalahkan.”&lt;br /&gt;“Kalau memang tidak ada yang salah, lalu kenapa pilihan etika ane diperdebatkan, malah seperti ente persalahkan, Van?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, kalau terkesan menyalahkan. Tapi, ada yang ingin saya tanyakan, Apakah suatu kebahagiaan yang menjamin ketenangan batin dapat sungguh-sungguh membahagiakan orang? Bukankah dalam pengalaman, orang akan berbahagia manakala ia berhasil membahagiakan orang lain, meskipun ia sendiri terkadang harus berkorban? Aristoteles pernah berkata, mungkin lebih tepatnya menyanggah, namun tidak menyalahkan, ajaran etika epikuros, ‘Kebahagiaan akan tercapai justru ketika kita peduli dan ambil bagian dalam hidup ber-polis’.” Ivan menjawab dengan sangat filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, berarti apa yang dikatakan oleh aristoteles sejalan dengan hadits nabi SAW yang mengatakan bahwa, ‘sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain’” Saya bangga sekali menemukan kesimpulan yang saya pikir suatu kesimpulan yang sangat pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ane belum bisa kayaknya, Van. Ane belum bisa jadi ketua. Ane masih takut. Perasaan takut ini ga bisa hilang walaupun karena aristoteles telah menyanggah etika epikuros dan sejalan pula dengan hadits nabi SAW. Perasaan takut ini muncul begitu aja. Jadi, jangan salahin ane, kalau ane tetap tidak mau dipilih untuk jadi ketua mushalah yah…? Kan filsafat tidak saling menyalahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hahahaha…….” Kami semua tertawa mendengar alasan yang memelas dari Ubay.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8054127278721572568?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8054127278721572568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8054127278721572568&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8054127278721572568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8054127278721572568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/05/ubay-memilih-etika-epikuros-dari-pada.html' title='Ubay Memilih Etika Epikuros dari Pada Aristoteles'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-519472481856738157</id><published>2007-05-23T14:04:00.001+07:00</published><updated>2007-05-23T14:08:47.759+07:00</updated><title type='text'>APAKAH TUHAN BUTUH IBADAH HAMBANYA?</title><content type='html'>Yomi    :     Lagi ngapain, id?&lt;br /&gt;Saya     :     Eh, sampeyan, Yom. Ngga ko.&lt;br /&gt;Yomi    :     Hayo… ngelamunin apa?&lt;br /&gt;Saya     :     Bener. Ngga ada apa-apa ko.&lt;br /&gt;Yomi    :     Terus lagi ngapain dong. Ko, kerjanya ngeliatin bintang aja.&lt;br /&gt;Saya     :     Memangnya ngga boleh kalo ngitung bintang?&lt;br /&gt;Yomi    :     Gua tau elu, Id. Kalo lagi di atas mushallah sendirian, pasti lagi ada yang dipikirin.&lt;br /&gt;Saya     :     Sampeyan ternyata emang temen saya, Yom.&lt;br /&gt;Yomi    :     Tuh kan. Apa gua bilang? Terus apa yang lagi elu pikirin, Id?&lt;br /&gt;Saya     :     Kamu mau bantu saya memecahkan masalah yang saya pikirkan?&lt;br /&gt;Yomi    :     Memangnya apa, Id?&lt;br /&gt;Saya     :     SAMPEYAN DAN SAYA, SEJATINYA IBADAH UNTUK APA DAN SIAPA??&lt;br /&gt;Yomi    :     Ya…, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Elu gitu aja pake ditanyain. Udah ga usah disusah-susahin kalo emang sebenernya cuma perkara yang gampil ( dibaca : mudah )&lt;br /&gt;Saya     :     Kamu percaya kalau Gusti Alloh itu maha perkasa dan maha kaya?&lt;br /&gt;Yomi    :     Ya, iyalah….&lt;br /&gt;Saya     :     Sekarang begini, kalau sampeyan kuat perkasa dan kaya raya dengan harta berlimpah-ruah, lalu ada pengemis yang memberikan sedikit uang recehannya untuk sampeyan. Bagaimana sampeyan memandang pemberian seorang pengemis yang miskin papa itu?&lt;br /&gt;Yomi    :     Ya gua ga terimalah. Lagian kan pengemis itu lebih membutuhkan uang itu, untuk makan misalnya atau untuk yang lainnya, dibanding gua yang udah kaya raya, seperti yang elu perumpamaan tadi.&lt;br /&gt;Saya     :     Jadi, kesimpulannya bahwa sampeyan ngga butuh uang receh itu, karena sampeyan udah kaya raya.&lt;br /&gt;Yomi    :     Ya iyalah. Kan gua udah kaya raya dengan harta berlimpah-ruah. Jelas aja gua ga butuh lagi uang receh dari pengemis itu.&lt;br /&gt;Saya     :     Nah, sekarang saya tanya lagi, SAMPEYAN DAN SAYA, SEJATINYA IBADAH UNTUK APA DAN SIAPA? APAKAH GUSTI ALLOH BUTUH IBADAH KITA?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-519472481856738157?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/519472481856738157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=519472481856738157&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/519472481856738157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/519472481856738157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/05/apakah-tuhan-butuh-ibadah-hambanya.html' title='APAKAH TUHAN BUTUH IBADAH HAMBANYA?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-2536563215040890412</id><published>2007-05-22T11:55:00.001+07:00</published><updated>2007-05-22T11:58:53.096+07:00</updated><title type='text'>Pak Kun Diantara Dua Kewajiban</title><content type='html'>Jumat lalu, sekitar jam 11.30, saya bergegas turun dari lantai tempat saya bekerja menuju mesjid di samping kantor saya untuk menunaikan Shalat Jumat. Saat sampai di lantai tempat security berjaga, saya berhenti sejenak. Lalu kemudian saya mendekati kursi jaga tempatnya duduk. “Lho, Pa Kun, ga shalat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi kedapetan piket jaga lantai dua, id”&lt;br /&gt;“Loh, ko bisa?”&lt;br /&gt;“Ya bisa aja, Id. Saya titip doanya aja deh,. Hehe…”&lt;br /&gt;“Pa Kun…..Pa Kun, memangnya Tuhan itu pacar saya, pake titip salam segala”&lt;br /&gt;“Habis mau bagaimana lagi. Ini kan kewajiban saya, Id”&lt;br /&gt;“Tapi kan ada kewajiban yang sifatnya lebih fundamental, Pa!?”&lt;br /&gt;“Fundamental? Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Maksud saya, Shalat Jumat kan merupakan kewajiban yang lebih penting dibanding kewajiban yang lainnya. Apalagi cuma kewajiban yang sifatnya duniawi semata”&lt;br /&gt;“Saya jadi bingung, Id”&lt;br /&gt;“Bingung kenapa, Pa Kun?”&lt;br /&gt;“Memangnya, lebih penting, sekedar penting, atau tidak penting itu sifatnya pasti yah? Kalau menurut saya sih, tidak”&lt;br /&gt;“Maksudnya apa, Pa Kun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, menurut saya, esensi sifat, di dunia ini dan disuatu kondisi, itu sangat subyektif. Nah sekarang kondisi saya cuma orang miskin, yang kalau ga kerja, mau makan apa keuarga saya nanti, Id. Beda sama sampeyan. Nah sifat lebih penting untuk shalat jumat itu ada pada kondisi sampeyan, Id. Kalau saya, punya suatu alasan yang besar untuk memilih kewajiban menjaga kantor dari pada kewajiban shalat jumat. Ya, kehidupan keluarga saya. Emangnya sampeyan mau tanggung kelaparan dan kemiskinan keluarga saya, kalau saya akhirnya dipecat hanya karena saya tak menjalani kewajiban saya sebagai satpam?”. Pa Kun menyerang saya dengan sedikit senyuman yang agak lain, seperti menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma bisa diam mendengar argumen dari Pa Kun. Suatu argumen yang sepertinya dapat dibenarkan, namun memang sangat sulit untuk diterima. Apalagi oleh saya yang sudah berada dalam tingkatan mapan atau cukup. Apakah kecukupan dan kemapanan sudah membutakan saya dalam menilai sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin argumen Pa Kun, dalam kondisi Pa Kun sekarang ini, ada benarnya. Tapi menurut saya tetap ada yang salah. Yaitu yang memposisikan Pa Kun pada situasi sekarang ini, yang akhirnya kewajiban yang, seharusnya, lebih dipentingkan dikalahkan dengan kewajiban lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa Kun tersenyum. Sepertinya ia merasa puas dengan sedikit diskusi itu. “Sebenarnya, saat ini yang kedapetan piket jaga adalah si Mas Tur, Id. Kebetulan ia sekarang lagi sakit. Nah, berarti harus ada yang menggantikan dia jaga. Saya deh yang kebagian jadi penggantinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Tur adalah satpam di kantor saya yang satu-satunya beragama non-islam. Yah satu-satunya. Betul cuma satu-satunya. Tidak ada yang lain. Cuma Mas Tur lah seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, mudah-mudahan pahala sampeyan sama dengan orang yang shalat jumat, Pa Kun.”&lt;br /&gt;“Sampeyan, shalat ko ngarepin dapet pahala, Id?”&lt;br /&gt;“Eh, Maksud saya, mudah-mudahan sampeyan sama diridhoinya dengan orang yang shalat jumat. Nanti saya salamin deh sama Tuhan, itu juga kalau ketemu yah. Kan siapa tahu aja saya ga ketemu. Hehehe…..”&lt;br /&gt; Dan saya akhirnya pergi meninggalkan Pa Kun yang sedang berjihad membela keluarganya dari sebuah musuh, Kemiskinan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-2536563215040890412?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/2536563215040890412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=2536563215040890412&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/2536563215040890412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/2536563215040890412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/05/pak-kun-diantara-dua-kewajiban.html' title='Pak Kun Diantara Dua Kewajiban'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4447954701081658302</id><published>2007-05-21T19:16:00.000+07:00</published><updated>2007-05-21T19:17:36.848+07:00</updated><title type='text'>Curahan Hati Kang Aid</title><content type='html'>Malam itu, Rabu, saya baru keluar dari kantor sekitar pukul 7 malam. Bukan lembur karena kerjaan, melainkan karena saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dalam menjalani masa-masa liburan panjang. Sudah kita ketahui bersama bahwa pada hari Kamis tertulis tanggal merah dan hari Jumat dinyatakan cuti bersama. Jadilah minggu yang, banyak orang, terutama yang memiliki kampung halaman, sangat bahagia. Pulkam…pulkam…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya di Rabu malam itu tidak merasakan sedikit kenikmatan yang memuncak seperti teman-teman yang lain. Memang saya tidak punya kampung halaman yang sangat dirindui, itu salah satu alasannya, namun dalam hati kecil saya, bukan itu sebenarnya yang menjadi masalah utama ketidak-nikmatan yang saya rasakan. Ada hal lain yang mengganggu, namun saya tak bisa memformulasikan (mendengarkan) apa yang dikatakan hati kecil saya. Mungkin karena cuma hati kecil yang bersuara kecil yah?? Halah… tapi memang saya tak tahu… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar kantor sambil lunglai berjalan menuju gerbang yang masih terbuka, saya sedikit menyapa beberapa rekan kerja yang sedang duduk-duduk ngopi. 2 orang Security yang, kebetulan, kedapetan jatah piket malam itu dan 1 cleaner yang baru merampungkan pekerjaannya. Hari itu memang saya tidak membawa sepeda motor. Berarti saya harus ngangkot. Tapi disaat sudah berada di luar gerbang, saya urungkan niat saya untuk naik angkutan umum. Pikir saya, sekali-kali jalan kaki ah…. Entah mengapa hari itu, semuanya serba sekali-sekali. Tidak membawa motor karena alasan sekali-sekali dan mencoba pulang jalan kaki juga sekali-sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Apakah kebosanan telah menghinggapi diri saya…? Akhirnya saya mulai berjalan dengan sedikit pembukaan kata-kata tadi. Saya tersenyum sendiri dengan pertanyaan saya itu terhadap Tuhan. Pertanyaan itu…. Ah, saya yakin Tuhan pasti memakluminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah sinar lampu yang tak sempurna menerangi jalan Ahmad Yani yang tidak begitu banyak kendaraan lalu-lalang, saya sengaja berjalan tak secepat biasanya. Saya juga mulai tertarik untuk melihat-lihat dan mencoba merasakan sedikit kecantikan kota Bekasi yang sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sini, belum pernah ada usaha untuk menikmati keindahannya. Karena memang, mendengar kata Bekasi (Bekesong – versi Uda Rafiq di IRadio), pasti orang-orang langsung memikirkan bahwa Bekasi adalah kota yang panas dan kampungan. Saya pun sejak pertama kali di Bekasi tak pernah punya pikiran bahwa Bekasi itu kota yang cantik, jadi, mungkin, wajar saja saya tak pernah mencoba untuk merasakan keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun malam itu benar-benar berbeda. Di sebuah jalan utama kota ini, Ahmad Yani, saya akhirnya menemukan sebuah keintiman yang selama ini tak pernah terasakan. Ah, ternyata Bekasi sangat cantik…, Lagi, saya tersenyum mendengar kata hati yang tiba-tiba berbisik. Tapi tidak lama kemudian, saya bertanya balik atas kesimpulan hati saya. Ada apa dengan perasaan ini, melankolis banget sih…... Saya pun tersenyum kembali mendengar protes itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya berjalan menyusuri pingir jalan Ahmad Yani. Kali ini saya melihat pemandangan di sebrang jalan, sebuah Gedung Olah Raga Bekasi, atau orang-orang biasa menyingkatnya dengan GOR Bekasi. Degan dihiasi sinar-sinar lampu yang menerangi hampir ke semua sudut-sudutnya dan pohon-pohon rindang yang mengelilinginya, GOR itu terlihat cukup indah bak surga, paling tidak untuk para pemuda-pemudi yang sedang dilanda kasmaran dan juga para pemburu kenikmatan dunia yang sesaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh Tuhan, ada apa sebenarnya dengan perasaan saya? Apakah ini sebuah pelarian perasaan? Saya terhentak dengan pertanyaan itu yang tiba-tiba saja munculnya. Saya seperti disadarkan oleh pertanyaan yang bernada keluhan itu. Saya kembali berjalan dan kali ini berusaha untuk tidak menoleh kanan-kiri. Tatapan mata yang dari tadi selalu mengarah ke kanan dan ke kiri akhirnya saya fokuskan untuk menatap ke depan. Namun, bukan berarti pikiran-pikiran atas perasaan saya terhenti. Malah justru sebaliknya. Perasaan saya tak menentu jadinya. Duh Tuhan, ada apa ini…? Saya kembali mengeluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, tidak saja membuat perasaan saya seperti tercabik, namun tubuh saya terasa lemas dibuatnya. Kaki saya seperti hampir tak mampu menopang tubuh yang sudah mulai tambun. Waduh, saya ko jadi melankolis banget. Tuhan…, kenapa dengan saya?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya mencoba untuk tenang dan sedikit menguatkan hati saya, Saya adalah seorang yang kuat, saya bukan orang yang lemah. Saya kumpulkan tenaga kembali untuk meneruskan perjalanan yang seperti perjalanan para pejuang kemerdekaan negeri ini menuju medan perang melawan penjajah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…, apakah ini akibat dari rasa kesepian? Yah, saya sepertinya kesepian. Saya butuh teman untuk berbagi dan sekedar menumpahkan segala kesenangan dan kekesalan saya terhadap hidup yang saya jalani. Akhirnya saya berani untuk menyimpulkan ketidaknyamanan saya hari itu. Sedikit saya menyungingkan senyum sebagai penghargaan atas sebuah keberanian kata hati saya dalam menyimpulkan kecemasan yang melanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya adalah orang yang tak berani untuk terbuka dengan seseorang, saya tak pandai bergaul dengan orang, apalagi untuk menjalin kasih dengan seorang. Tapi apakah keadan ini dapat menghancurkan hidup nantinya, jika tak dicarikan jalan keluarnya. Duh Tuhan, saya tak pandai dalam bercinta…. Apakah saya harus memaksakan untuk bercinta, hanya untuk mendapatkan teman bicara, teman berbagi, dan teman kesepian? Ah, egois dan jahat sekali saya, kalau dalam menjalin hubungan dengan seseorang hanya untuk menemani kesepian saya atau hanya untuk mendengarkan kecemasan hati saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya langsung teringat seseorang. Tuhan, kalau saja Engkau mengizinkan saya untuk dapat hidup bersamanya…..??!! Ah, saya sudah tahu jawabannya. Pasti TIDAK.  Saya tak boleh lemah. Saya harus kuat. Saya harus bisa ikhlas dengan takdir Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sebelum sampai di depan Rumah Sakit Mitra Keluarga, saya menyebrang jalan Ahmad Yani. Saya terpikirkan seorang teman yang kosannya tak jauh dari Rumah Sakit itu. Saya hanya sekedar ingin mengobrol dan melupakan segala hal yang membuat saya hampir tak berdaya menghadapinya. Dalam perjalanan ke sana, saya meng-sms-nya untuk menanyakan keberadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang, dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sy dah dprjlnan plg kindrmy rid,doain cpt pe tjuan ya! Tq b4”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca jawaban smsnya, saya kembali di landa kecemasan. Namun akhirnya saya sampai di sebuah Mesjid. Dan saya memutuskan untuk shalat isya di sana dan sedikit merenung tentang hidup saya di tengah rumah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4447954701081658302?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4447954701081658302/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4447954701081658302&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4447954701081658302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4447954701081658302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/05/curahan-hati-kang-aid.html' title='Curahan Hati Kang Aid'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8471409616134859108</id><published>2007-05-10T14:54:00.000+07:00</published><updated>2007-05-10T16:43:07.179+07:00</updated><title type='text'>Dilema Hari Pendidikan</title><content type='html'>Udara malam saat itu sangat dingin. Saya dan Yomi masih berada di rumah Ivan setelah ikut acara nujuh hari-in Baba Hasan. Acara selesai sekitar pukul delapan. Kami bertiga akhirnya duduk-duduk di teras yang masih terselimuti tikar, setelah selesai bantu Ivan dan keluarganya beres-beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian kemarin lihat ga, acara di tv? Sekitar jam 9-an malam.” Yomi membuka acara santai kita di teras rumah Ivan.&lt;br /&gt; “Acara apa?” saya balik bertanya.&lt;br /&gt; “Itu loh, acara parodi negara kita.” Yomi menjelaskan.&lt;br /&gt; “Ngga tuh.” Saya menjawab. &lt;br /&gt;“Bahasannya bagus banget.”&lt;br /&gt; “Bahas apa emang, Yom?”&lt;br /&gt; “Pendidikan”&lt;br /&gt;“Oh, sekalian memperingati Hari Pendidikan Nasional yah?”&lt;br /&gt; “Iyah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang menarik dari pendidikan kita, Yom?” Ivan mulai bertanya.&lt;br /&gt; “Nah, itulah yang membuat menarik. Yaitu tidak ada yang menarik pada pendidikan kita.” Yomi menjawab sambil tertawa. Dan saya serta Ivan pun ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hus…, kamu ada-ada aja, Yom. Mbo ya, ga seharusnya kamu mentertawakan Pendidikan negerimu sendiri. Bagaimanapun juga buruk-baiknya sistem pendidikan kita, hal itu tetap merupakan salah satu sistem di negeri kita” Ivan sedikit mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu, Van. Coba lu bayangin, padahal kita sedang memperingati harinya para pencari ilmu, yaitu Hari Pendidikan Nasional, eh…., dalam acara itu, Keborokan sistem pendidikan nasional kita malah diekspose. Tapi ya, menurut gue, memang sistem pendidikan kita banyak boroknya. Seperti, masih banyaknya sekolah-sekolah yang ambruk atau sudah tak layak lagi, seperti di Depok, Bogor, bahkan di Jakarta, katanya ada ratusan bangunan sekolah yang sudah tak layak lagi digunakan. Lalu masalah yang lain adalah kurangnya guru. Bayangin, ada beberapa sekolah yang hanya memiliki guru dua orang. Apakah namanya ini kalau bukan sebuah kebobrokan sistem pendidikan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, Penyelenggaraan Ujian Nasional kemaren. Banyak benget mafia-mafia kunci jawaban. Mafia-mafia itu berada pada sistem. Bayangin aja, mafia-mafianya itu dari tingkatan sub-rayon sampai ke guru-gurunya sendiri. Entah apa alasannya, tapi yang pasti mereka punya alasan. Kejadian ini bukannya tanpa saksi loh, ada suatu kelompok yang menamakan dirinya dengan nama AIR MATA GURU menjadi saksi dan mereka berani membeberkan semua kesaksian mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu juga tentang UN itu sendiri masih menjadi kontroversi. Apakah layak untuk dijadikan sebuah indikator kelulusan tunggal atau tidak. Terus juga, dari dana bantuan APBN yang katanya tidak pernah menembus angka 20 persen. Serta ketidak-merataan guru-guru yang ada, yang masih kebanyakan ingin mengajar di kota-kota,entah itu karena sebuah prestise atau memang, lagi-lagi, masalah uang atau gaji yang memang pasti lebih besar gaji guru di kota-kota dari pada menjadi guru di desa. Semua hal ini, apakah bukan sebuah dilema. Disaat kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, namun kita malah diberitakan dengan sebuah kenyataan yang sangat pahit seperti ini? Nah, sekarang apa yang harus kita banggakan dengan sistem pendidikan kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin akan menjadi wajar jika banyak mafia-mafia UN. Toh sistemnya yang memaksa mereka untuk melakukan kecurangan. Dengan indikasi bahwa UN adalah sebagai satu-satunya pintu gerbang kelulusan dengan batasan nilai rata-ratanya. Lalu mungkin juga guru-guru yang mengajar di kota karena sebuah gaji yang lebih besar dibanding dengan bayaran menjadi guru di desa-desa, dapat dikatakan wajar. Karena memang gaji guru itu masih sangat rendah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin sekali mencari suatu yang bisa dibanggakan dalam sistem pendidikan kita. Tapi tetap saja saya tidak bisa untuk tidak sepakat dengan semua yang dikatakan Yomi. Saya hanya bisa berkata, “Iya juga yah..” Tapi saya tetap berpikir keras untuk menemukan kebaikan sistem pendidikan kita atau paling tidak berpikir bahwa tidak seharusnya kita terus berpikir mengkritik dan hanya mengkritik saja. Seperti debat kusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ivan bicara dan memotong pikiran saya, “Tapi menurut saya, yang harus diubah adalah pola pikir kita dalam menyikapi kebobrokan sistem pendidikan kita yang memang telah kita sepakati bersama. Saya sepakat dengan kamu, Yom. Tapi cara kamu berpikir itu yang menurut saya akan sangat membahayakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lu?” Yomi menanyakan ketidak-setujuan Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagini, saya sepakat bahwa sistem pendidikan negeri kita masih sangat tidak bagus. Seperti, masih banyaknya bangunan sekolah yang tak layak, Masalah UN yang masih saja menjadi sebuah kontroversi, lalu guru-guru yang masih belum merata. Namun bukan berarti kita harus memaklumi apalagi sampai memaafkan tindakan-tindakan yang hanya mementingkan kelompoknya sendiri atau menguntungkan dirinya sendiri. Kesalahan, tetap kesalahan. Keegoisan tetap keegoisan, dan ketidak-ikhlasan tetap ketidak-ikhlasan. Tidak bisa diwajarkan. Pemerintah saya yakin terus memikirkan masalah ini. Dan berusaha menerapkan sistem pendidikan yang terbaik untuk negeri kita. Walaupun sampai sekarang kita masih sangat sedikit sekali, atau bahkan banyak yang tidak, merasa adanya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita kembali ke masalah UN. Menurut saya kecurangan yang sekarang ini sangat ramai adalah akibat sebuah prestise atau gengsi yang ada pada tiap-tiap sekolah. Sekarang begini, Yom. Apakah kamu yakin jika UN ditiadakan maka guru-guru di sekolah tersebut akan jujur memutuskan muridnya lulus atau tidak? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan kecil yang harus dijawab dan dibuktikan oleh para praktisi pendidikan di negeri tercinta kita ini. Bukan oleh Yomi. Yah, bukan oleh teman saya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8471409616134859108?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8471409616134859108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8471409616134859108&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8471409616134859108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8471409616134859108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/05/dilema-hari-pendidikan.html' title='Dilema Hari Pendidikan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8592438662900091472</id><published>2007-04-26T08:16:00.000+07:00</published><updated>2007-04-26T08:17:47.427+07:00</updated><title type='text'>Baba Hasan Meninggal Dunia</title><content type='html'>Malam ini, tepat tanggal 25 April 2007, saya menerima kabar yang sangat tidak menyenangkan. Sekitar pukul 22.30 Hand phone saya berdering tanda adanya panggilan masuk. Segera saja saya jawab. Dan ternyata, “Id….., dapat salam dari Ivan. Baba Hasan meninggal.” Ternyata Ubay yang mengabarkan berita tak menggembirakan itu, tentu saja dengan nada sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar itu, saya tak bisa menahan kesedihan. Kesedihan akibat kehilangan seorang lagi yang saya kenal. Baba Hasan, orang tua yang penuh dengan semangat hidup. Seorang yang mengajarkan sebuah arti kehidupan dengan pentingnya sebuah silaturrahmi dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendegar berita itu, pikiran saya langsung tertuju kepada Ivan, Teman sekaligus sahabat terdekat saya. Saya terus bertanya-tanya dalam hati tentang bagaiana perasaan Ivan dengan kejadian ini. Dengan tidak ingin banyak bertanya dalam hati, saya langsung mencoba menghubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu ‘alaikum…” saya memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;“Wa ‘alaikum salam…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, saya baru dengar kabar dari Ubay.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Id. Baba duluan yang pergi…..” Ivan bicara dengan nada agak serak. Mungkin ia merasa sedih. Karena ia sangat sayang sekali dan sangat mengidolakan Ayahandanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam berapa, Bang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi, Id, Jam setengah sepuluh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar ya, Bang….” Saya mencoba menjadi teman saat dirinya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Id. Maafin Baba yah……,” Ivan berhenti sejenak. “Maafin Baba kalau punya salah ya, Id.” Ivan bicara dengan sangat tenang. Walaupun saya tahu dia pasti sangat sedih sekali. Terdengar juga dari suaranya yang memang tak bisa menutupi kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mata saya, baba tuh ga pernah salah ko, Bang. Jadi ga perlu ada yang dimaafin.”&lt;br /&gt;“Ga ada manusia yang ga pernah berbuat salah, Id.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam sejenak mendengar perkataannya. “Sampeyan bener, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah, kalau besok pagi saya bisa keluar kantor, saya ke sana, Bang. Mudah-mudahan Kepala Seksi saya ngijinin untuk melihat Baba untuk yang terakhir kali.” Saya yang memang sedang di Bekasi tak bisa malam itu langsung ke sana. Pikir saya besok pagi saya akan ke sana, insya allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo kamu sibuk banget, ga usah dipaksain untuk datang. Minggu juga bisa ke sini kan.” Ivan seperti berusaha untuk tidak membuat saya repot karena jarak yang jauh dan  akan mengganggu pekerjaan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bang. Tapi Insya Alloh, kalau mendapat ijin saya dateng. Tapi kalau memang tidak bisa, Minggu pasti saya akan datang.” Saya berusaha untuk tidak membuat janji. Walaupun saya ingi sekali datang ke sana dan melihat Baba Hasan untuk yang terakhir kali. Dan tentunya menemani Ivan yang pasti merasa sedih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih ya, Id.”&lt;br /&gt;“Sama-sama, Bang.”&lt;br /&gt;“Ya udah, Assalamu ‘alaikum……”&lt;br /&gt;“Wa ‘alaikum salam…”  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Innalillahi wainnailaihi raaji’uun. Sesungguhya kita semua memang milik Gusi Alloh dan akan kembali kepadanya. Semua, yah, semua akan kembali kepadanya tanpa terkecuali. Karena memang seperti itu settingan takdir sebuah eksistensi kita sebagai tercipta sebagai manusia.  (dicatat pada Kamis dini hari, 00.30.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8592438662900091472?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8592438662900091472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8592438662900091472&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8592438662900091472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8592438662900091472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/baba-hasan-meninggal-dunia.html' title='Baba Hasan Meninggal Dunia'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-9180374291152773493</id><published>2007-04-25T11:04:00.000+07:00</published><updated>2007-04-25T11:31:58.303+07:00</updated><title type='text'>Syariat Ayo, Hakikat Monggo...</title><content type='html'>Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Saya yang merasa panas di dalam rumah, mencoba mencari kesejukan angin malam. Malam itu saya keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Seperti biasa memang kalau saya tak bisa tidur, entah itu karena merasa kepanasan di dalam rumah atau memang karena ada masalah yang dipikirkan. Saya pergi keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya mencoba berjalan lewat pintu belakang rumah saya. Karena memang saya ingin menuju jalan raya untuk sekedar melihat kendaraan lalu lalang di bawah terang lampu jalan. Namun ketika melewati suatu warung saya menemukan Ivan dan Yomi sedang asyik di dalamnya. Mereka sedang ngopi kelihatannya. Tanpa menunggu waktu lama, saya langsung masuk ke warung itu untuk menegur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata ketika saya tegur mereka tak begitu terkejut. Ketidak-terkejutan mereka, karena mereka sedang serius berdiskusi suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“elu, Id.” Yomi yang saya tegur hanya menjawab demikian. Lalu mereka kembali melanjutkan diskusi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, menurut gue, syariat itu kepentingannya seperti pentingnya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya.” Yomi bicara dengan sangat serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw, ngomongin masalah syariat yah?” Saya sedikit tertarik dengan bahasan diskusi di lewat tengah malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.” Yomi yang sedang serius bicara dan terpotong oleh pertanyaan saya tadi langsung menjawab dengan agak sedikit kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Van, coba elu lihat di sana,” Yomi menunjukkan tangannya keluar warung. “Lihat lampu lalu lintas itu. Coba kalau elu pikirin ga ada itu, bagimana jadinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin akan terjadi kecelakaan.” Saya yang tidak ingin kelewatan pada diskusi ini langsung menjawab pertanyaan yang Yomi lontarkan, sebenarnya, untuk Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, elu bener, Id. Pasti akan terjadi kecelakaan di sana-sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah tidak mungkin, kalau banyak orang yang telah sadar akan etika bagaimana hidup bersama, walaupun tanpa adanya marka atau lampu lalu lintas itu, tidak terjadi kecelakaan di sana-sini?”  Ivan langsung melemparkan pertanyaan yang bersifat kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngga bisa. Tetep harus ada, tuh, yang namanya marka jalan atau lampu lalu lintas. Saya yakin kita akan tidak aman berada di jalan kalau tidak ada aturan lalu lintas itu.” Saya kali ini memihak Yomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Gua setuju, Id, ama apa yang elu omongin barusan. Kita ngga bakalan aman kalau tidak ada yag namanya aturan lalu lintas.” Yomi senang sepertinya karena mendapat belaan dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, kan saya bilang, kalau banyak orang yang sudah mengerti akan etika hidup bersama di jalan. Ingat, yang saya bicarakan adalah suatu yang ideal.” Ivan bicara sambil tersenyum dan terlihat sangat tenang. Memang itulah pembawaannya, tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ngga mungkin tuh, bakalan kaya gitu. Menurut gue, non-sense ama yang namanya kondisi yang ideal. Tetep perlu ada yang namanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya. Jadi kalo menurut gue, syariat itu yah seperti tanda di jalan itu. Penting dan kaga bisa di tawar-tawar.” Yomi bicara dengan sedikit emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kita kembalikan masalahnya ke masalah syariat, berarti, menurut sampeyan syariat itu tidak perlu lagi digunakan ketika orang-orang sudah banyak yang mengerti bagaimana cara menuju Tuhan?” Saya bertanya kepada Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya ada suluk atau jalan hakikat untuk menuju Tuhan?” Ivan balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut gue. Pokoknya ngga ada tuh ceritanya orang yang kaga sholat masuk surga. Orang yang kaga puasa di bulan ramadhan itu kaga masuk neraka. Biar dibilang dia itu penganut ajaran hakikat atau apalah.” Yomi emosi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“heh…,” Ivan tersenyum sebentar. Dan langsung segera menjawab argumen yang sedikit emosi dari si Yomi dengan ketenangannya. “Yom, pada dasarnya, saya pribadi, ingat kata-kata saya, saya pribadi, setuju dengan pendapatmu. Kenapa saya bilang saya pribadi, karena yang mengerti kadar ketakwaan dan kedekatan saya sama Gusti Alloh, adalah saya pribadi, bukan kamu, dan bukan Aid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, mbo ya kita dewasa sedikit dengan tidak menyalahkan orang begitu saja karena ia berbeda dengan kita. Bahwa mereka tidak menjalankan syariat yang ada namun berjalan menuju Tuhannya dengan suluk hakikat. Toh, ya sama-sama menuju Gusti Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus tadi saya bilang, saya sebenarnya setuju dengan pendapat kamu. Karena saya tahu kadar kedekatan saya sama Gusti Alloh. Saya masih membutuhkan aturan yang bisa mengingatkan saya sama Gusti Alloh. Saya masih memerlukan panduan hukum untuk sekedar dekat dengan Gusti Alloh. Jelas, saya masih membutuhkan sebuah syariat. Mungkin juga kamu, mungkin juga Aid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, banyak orang yang sudah bisa dekat bahkan merasa menyatu dengan Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat yang kita anut. Nah, orang-orang itulah yang saya bilang tadi sebagai orang-orang yang sudah mengerti etika hidup bersama ketika berada di jalan raya. Dengan ada atau tidak adanya tanda-tanda lalu lintas, mereka mengerti bahwa ketika ada yang sedang menyebrang harus mengurangi kecepatan, ketika mengendarai kendaraan di sekitar perumahan, tidak ngebut. Atau ia tahu bahwa pejalan kaki harus berjalan di sebelah kiri, karena akan membahayakan dirinya. Seperti itulah gambaranya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun, saya lebih cenderung mengatakan bahwa kita sebagai manusia masih sangat membutuhkan aturan, masih sangat membutuhkan sebuah syariat yang akan mengatur dan memberikan sebuah perdamaian yang berdampak pada sebuah ketenangan. Kenapa demikian? Karena kita ketahui bahwa sifat kebanyakan manusia, apalagi sekarang ini, adalah cenderung lebih mudah membuat keonaran dari pada melakukan kebaikan. Lebih mudah berbuat dosa dari pada melakukan kebajikan. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana mungkin, jika tanpa aturan, akan terjadi keseimbangan dan perdamaian. Pasti yang ada saling gontok-gontokan. Saling bunuh-bunuhan. Saling tuduh-tuduhan. Dan saling-saling lainnya. Bayangkan, sekarang aja, dengan banyak aturan di sana-sini, manusia masih saja tidak mematuhinya. Apalagi tidak ada tuh yang namanya konsekwensi sebuah ketidak-taatan pada hukum atau, syariat dalam hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurut saya, untuk saya pribadi masih sangat memerlukan sebuah syariat untuk ingat kepada Gusti Alloh. Terlepas dari ketidak-tahuan saya tentang apakah kebanyakan manusia memang harus menggunakan syariat karena suatu keadaan atau kondisi sifat kemanusiaan yang memang telah ditakdirkan seperti adanya oleh Gusti Alloh. Tapi, tetap. Saya pribadi tidak punya ke-otoritasan untuk mengatakan bahwa seorang yang berjalan menuju Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat adalah sebuah kesalahan. Jadi menurut saya, SYARIAT AYO, HAKIKAT MONNGO....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama saya dan Yomi terdiam. Kami hanya mendengarkan Ivan yang bicara dengan nada tidak menggurui. Dan tidak memaksakan kehendaknya untuk diikuti dan disetujui. Karena ia selalu saja mengatakan menurut pribadi saya… menurut pribadi saya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak terasa waktu sudah mendekati pukul 2 pagi. Dan tanpa adanya keputusan bahwa saya atau Yomi setuju dengan penjelasan panjang lebar Ivan, kami semua memutuskan untuk pulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-9180374291152773493?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/9180374291152773493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=9180374291152773493&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9180374291152773493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9180374291152773493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/syariat-ayo-hakikat-monggo.html' title='Syariat Ayo, Hakikat Monggo...'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-4952192495324621582</id><published>2007-04-23T11:39:00.000+07:00</published><updated>2007-04-23T11:48:02.228+07:00</updated><title type='text'>Wallhu a'lam : Sebuah Bukti Kelemahan Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kemarin malam, kami, Saya, Ivan, Yomi, dan Ubay, menghadiri undangan muludan Kanjeng Nabi di RW 5. Kami merupakan perwakilan dari remaja mushallah Assyatiriyah, yang ada persis di sebelah rumah saya. Seperti biasa pada hari-hari besar Islam, remaja mushalah atau masjid di sekitar kelurahan kami, selalu mengadakan sebuah “perayaan”. Dan tidak lupa, saling mengundang antara remaja mushalah atau mesjid di sekitar Kelurahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam, saatnya kami bertandang ke RW 5, tempatnya remaja mushalah Darul Arqam. Dalam undagannya tertulis bahwa pengisi ceramahnya adalah Habib terkenal di sekitar kelurahan kami. Oleh karena itu, Yomi dan Ubay sangat interest dan memaksa ikut untuk menghadiri undangn tersebut. Padahal kami telah memiliki sebuah konvesi bahwa pada undangan kali ini, yang datang adalah saya dan Ivan. Karena Ubay dan Yomi juga harus menghadiri undangn acara muludan di daerah Kebayoran Lama, yang kebetulan berbarengan. Namun karena mereka memaksa untuk ikut mengikuti acara di Mushallah Darul Arqam di RW 5, maka dengan berat hati formasi dirubah. Kami berempat ke RW 5 sedangan Ade, Roni, dan Dimas pergi menunaikan undangan di Kebayoran Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bebrapa saat kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…….., Inilah dia al mukarom wal muhtarom Habiibina, Habib Rojik al indonisiy….. Kepadanya kami persilahkan” begitu lantang sang MC memperkenalkan penceramah yang memang telah kondang di kelurhan kami, bahkan namanya telah dikenal sampai di luar puau Jawa. Beliau sering kali mendapat “orderan” ke luar Pulau Jawa, terutama sering ke Sumatera. Memang, gosipnya, ada paman beliau yang hidup dan tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya naiklah sang habib itu. Terlihat para undangan begitu antusias. Banyak suara-suara takbir menggema saling bersahutan, “Allahu akbar……Alahu akbar……..”. Malah saya lihat ada yang sampai tidak dapt menahan deraian air matanya. Padahal beliau belum berceramah. Dalam hati saya hanya bergumam begitu besar dan muliakah dia, sehingga patut untuk ditangisi???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib yang satu ini tekenal dengan ceramahnya yang sangat lantang. Sehingga ia dikenal dengan Habib Jenggot Pedang. Kebetulan memang ia berjenggot lebat dan sangat lancip mirip kelancipan pedang. Namun sebenarnya, menurut saya, di sebut demikian karena dari mulutnya yang berkumis, saat ia bicara, selalu mengeluarkan kata-kata yang sangat tajam bagaikan pedang. Apalagi tehadap, yang ia anggap, orang-orang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermahnya, pertama-tama, masih sangat relevan dengan acaranya, yaitu mencari makna di balik peristiwa-peristiwa kelahiran Kanjeng Nabi. Namun setelah beberapa lama, dan ketika suasana sudah mulai hangat dengan suara-suaranya yang semakin malam semakin keras dan menggetarkan, mulailah kata-kata tajamnya keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…….mereka itulah orang-orang yang selalu berpikir dengan rasional, mereka adalah orang-orang yang bodoh karena ke-liberalannya dalam membuat suatu hukum. Orang-orang yang hanya bisa mendekonstruksi hukum Tuhan,  Mereka-mereka adalah orang-orang sesat….. maka kita harus memerangi orang-orang seperti ini. Darah mereka halal untuk dikucurkan, karena mereka sesat dan telah murtad.” Lalu tiba-tiba banyak sekali orang-orang yang saling bertakbir, “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, sang Habib menutup ceramahnya……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“……….. kurang lebihnya saya meminta maaf, karena kesalahan adalah milik manusia dan kebenaran hanyalah milik tuhan. Wallahu a’lam Bishshawab. Wal ‘afwu minku, Wassalamu ‘alaikum wa rahatullahi wabarakatuh.” Dan acara akhirya berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada Ivan, “Bang, habib Rojik itu keras banget yah pendapatnya? Menurut sampeyan gimana, Bang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kontradiksi” Ivan menjawab dengan sangat santai.&lt;br /&gt;“Hah? Maksud sampeyan dengan kontradiksi itu apa, Bang?&lt;br /&gt;“Padahal dia tahu kekurangan dia sebagai manusia dan bahwa cuma Gusti Alloh yang tahu segalanya. Namun tetap saja dia seenaknya menilai orang lain sesat dan murtad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedkit mengernyitkan dahi tanda berpikir. Berpikir untuk mengerti maksud dari perkataan Ivan tadi. Dan akhirnya, “oh…….., iya yah.” Dan ahirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kami masing-masing. &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-4952192495324621582?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/4952192495324621582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=4952192495324621582&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4952192495324621582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/4952192495324621582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/wallhu-alam-sebuah-bukti-kelemahan.html' title='Wallhu a&apos;lam : Sebuah Bukti Kelemahan Manusia'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-6045889918102955419</id><published>2007-04-10T08:45:00.000+07:00</published><updated>2007-04-10T08:46:57.025+07:00</updated><title type='text'>Mengemis (tidak lagi) Dilarang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari itu di Bilangan Senayan, ada sebuah pergelaran pameran di sana, tepatnya di JHCC. Dari segala macam komputer sampai telepon seluler di pamerkan di sana. Saya sengaja datang mengunjungi pameran itu sendirian karena ingin berlama-lama di sana. Kalau saya mengajak teman, agak khawatir dia akan cepat bosen berlama-lama di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu waktu sudah beranjak sore. Terlihat warna langit sudah mulai memerah. Saya yang sejak siang tadi berada di dalam gedung JHCC, mulai agak keletihan. Kaki saya sudah mulai terasa agak pegal, perut saya menjerit ingin meminta jatahnya yang sejak siang belum diberikan, dan kerongkongan saya seperti sudah kering tak ada setitik air pun mengaliri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keadaan seperti itu saya langsung memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu saya harus memenuhi hak perut dan kerongkongan saya. Akhirnya saya mampir di salah satu warung tenda persis di depan gerbang JHCC dekat dengan parkir timur senayan. Kebetulan memang di parkir timur senayan saat itu disesaki dengan kendaraan, maklum, karena memang hari itu hari terakhir pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya makan siang yang tertunda, ada seorang ibu tua bersama anaknya yang duduk tanpa alas persis di samping saya dengan hiasan satu gelas plastik air mineral kosong di hadapannya. Ibu tua itu sepertinya adalah seorang pengemis. Kelihatan sekali dengan penampilannya yang agak kotor. Ibu tua itu berusia sekitar 50 tahun-an. Terlihat nampak tapak tangannya yang sebelah kanan sudah tak bisa di kontrolnya, terus saja bergerak. Mungkin ibu tua itu sudah mengalami struk. Ia membawa seorang anak dengan masih menggunakan seragam putih-merah. Anaknya itu berumur sekitar 6-7 tahun. Namun saya yang sambil makan, melihatnya agak terharu namun tetap ada perasaan senang karena anak itu sangat ceria dan bermanja-manja dengan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya coba mendekati anak ibu itu, “De, lagi main apa?” saya bertanya demikian sambil menaruh sedikit duit recehan ke dalam gelas plastik air mineral kosong yang tepat berada di depan ibu tua itu yang sedang mengajak anaknya bermain-main dengan sebuah kelereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, makasih, Mas. Hayo jawab, tuh kamu di tanya sama om-nya tuh. Bilang makasih dulu hayo!” ibu tua itu menagajak bicara anaknya dan menyuruhya untuk menjawab pertanyaan saya sambil membetulkan posisi duduk dan mulai memangku anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun anak kecil itu tidak menjawab apa-apa hanya sedikit menahan rasa malu dan mulai memeluk ibu tua itu. Yang terdengar hanyalah suara ringisan dari anak itu, pertanda bahwa anak itu sangat malu untuk bicara dan menjawab pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Mas, memang anaknya sangat pemalu.” Ibunya seperti tidak enak dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa-apa, Bu, namanya juga masih kecil”&lt;br /&gt;“Iya, Mas.”&lt;br /&gt;“Usia berapa, Bu, anaknya?&lt;br /&gt;“Enam tahun, Mas.”&lt;br /&gt;“Pulang sekolah?”&lt;br /&gt;“Iya, tadi pulang sekolah langsung saya bawa ke sini.”&lt;br /&gt;“Kelas berapa, Bu?”&lt;br /&gt;“Baru kelas satu, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit banyak bicar dan bertanya, ada yang membuat saya sangat peasaran ingin menanyakan. Yaitu dari mana biaya sekolah anaknya itu. Apakah dia masih punya suami yang bekerja atau kah….??? Sebelum hati saya menjawab yag bukan-bukan, akhirnya saya coba beranikan untuk bertanya kepada ibu tua itu. Namun dengan sedikit strategi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapaknya kerja apa, Bu?””&lt;br /&gt;“Oh, sudah lama meninggal, Mas. Saat dia umur tiga bulan.”&lt;br /&gt;“Oh, maaf, Bu. Saya tidak tahu.”&lt;br /&gt;“Tak apa-apa toh, Mas. Wong memang kenyataannya sudah meniggal. Tapi ngalhamdulillah, walaupun Bapaknya sudah meninggal, anak ini tetap bisa sekolah.”&lt;br /&gt;“Alhamdlillah ya, Bu.”&lt;br /&gt;“Iya, Mas. Meskipun cuma ngemis-ngemis kaya gini masih bisa nyekolahin anak.”&lt;br /&gt;“Cuma ngemis?”&lt;br /&gt;“Ya iya toh, Mas. Memang saya harus cari uang bagaimana lagi, wong tangan kanan saya ini aja udah ga bisa diam,” Ibu itu bicara sambil mengangkat sedikit tangan kanannya yang sudah struk. “Dulu sebelum tangan saya seperti ini, kerjaan saya yah, jadi pembantu di rumah orang kaya, Mas. Dapat kerjaan sekalian dapat tempat tinggal. Sekarang karena tangan saya sudah ga bisa saya pakai untuk bekerja, ya akhirnya saya ngemis aja untuk biayain hidup anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirya saya disedikit tersentil dengan pembicaraan kami tadi. Setelah saya menggoda kembali anaknya ibu tua itu. Saya mencoba mencubit pipi anak itu yang memang terlihat tembam. Namun di saat menggoda anak itu hati saya terus bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengemis. Mengemis bukannya suatu yang tidak baik, bahkan dilarang  dalam pandangan agama, dan sepertinya juga pandangan sosial-budaya? Bukannya ustadz-ustadz di majlis-majlis ta’lim selalu mengatakan bahwa ‘tangan yang di atas adalah lebih baik dari tangan-tangan yang di bawah’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun bagaimana dengan kejadian ibu tua pengemis ini? Mengemis dengan sebuah tujuan mulia, mempertahankan hidupnya  dan memperjuangkan kehidupan anaknya sehingga dapat suatu yang bisa dikatakan ‘layak’. Apakah tidak lebih baik Ibu pengemis tua ini dibanding dengan orang-orang kaya yang selalu memberikan sumbangan namun tetap juga melakukan korupsi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apakah mengemis terlarang bagi ibu tua ini yang sudah tidak punya daya apa-apa lagi untuk mencari sebuah nafkah kehidupan, kecuali hanya dengan mengemis, demi sebuah tujuan mulia memberikan kehidupan bagi anaknya? Apakah agama masih tega melarang ibu tua itu menjadi seorang pengemis, ditengah-tengah orang-orang kaya yang borjuis dan egois dan negara yang tidak mempunyai rasa simpati dan empati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya waktu seakan-akan menyuruh saya untuk segera pulang. Dan akhirnya dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada ibu tua itu, saya beranjak ke tempat parkir motor dan segera meninggalkan senayan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-6045889918102955419?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/6045889918102955419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=6045889918102955419&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6045889918102955419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/6045889918102955419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/mengemis-tidak-lagi-dilarang.html' title='Mengemis (tidak lagi) Dilarang'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-610475139959610960</id><published>2007-04-09T14:32:00.000+07:00</published><updated>2007-04-09T14:42:47.667+07:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun di Warung Nasi Uduk</title><content type='html'>Perbincangan di warung nasi uduknya Mpo Lilis. Saat saya, Ivan, Ubay, dan Yomi sedang makan nasi uduk lalu datanglah Om Kur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Kur              : Assalamu’alikum….&lt;br /&gt;Kami                   : Wa’alikum Salam…&lt;br /&gt;Saya                    : Eh, Om Kur.&lt;br /&gt;Om Kur              : Ap kabarnya nih anak-anak muda?&lt;br /&gt;Ivan                     : Om Kur, kaya sudah tua aja. Wong masih kelihatan muda ko.&lt;br /&gt;Om Kur              : Iya, nih. Hari ini jadi semakin tua karena tambah umur.&lt;br /&gt;Ubay                   : Lho, hari ini Om Kur ualng tahun?&lt;br /&gt;Om Kur              : Ya gitu deh.&lt;br /&gt;Ubay                   : Wah, kalau gitu selamat ulang tahun Om. Mudah-mudahan selalu bahagia dan hidup senang serta dijauhkan dari bala bencana.&lt;br /&gt;Om Kur              : Doa sampeyan panjang banget, Bay?! Makasih deh.&lt;br /&gt;Saya                    : Selamat juga Om. Mudah-mudahan dipanjangkan umurnya.&lt;br /&gt;Ivan                     : Selamat yah Om, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.&lt;br /&gt;Yomi                   : Iya saya juga ucapin selamat yah Om. Semoga-moga tambah kaya. Biar bisa traktir kita-kita di sini. Hehehe…..&lt;br /&gt;Om Kur              : Makasih yah anak-anak muda. Ya udah sekarang makan aja nasi uduknya Mpo’ Lilis gratis. Saya traktir lah.&lt;br /&gt;Ubay                   : Wah jadi ga enak nih, Om. Harusnya ga usah didengerin omongannya Yomi. Tapi kalau emang Om Kur maunya traktir kita-kita ya ga apa-apa lah.&lt;br /&gt;Saya &amp; Yomi      : Yeh…………. (sambil menempeleng kepalanya Ubay).&lt;br /&gt;Om Kur              : Ya udah. Tapi saya harus segera kembali ke rumah. Lagi ada mertua.&lt;br /&gt;Saya                    : Oke Om, Makasih banyak yah….&lt;br /&gt;Om Kur              : Yah, sama-sama. Makasih juga doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Selagi kami makan, tiba-tiba Ubay nyeletuk bertanya kepada Ivan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubay                   : Van, kenapa ente tadi doanya untuk Om Kur simpel banget?&lt;br /&gt;Ivan                     : Masa simpel?&lt;br /&gt;Ubay                   : Iya. Semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.&lt;br /&gt;Ivan                     : Menurut saya itu ga simpel ko.&lt;br /&gt;Ubay                   : Memangnya apa maksud doanya itu?&lt;br /&gt;Ivan                     : Saya cuma ngucapin suatu yang wajar dan, menurut saya, semestinya.&lt;br /&gt;Ubay                   : Wajar? Jadi menurutmu doa-doa kita tadi tidak wajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan                     : Menurut saya, hidup tidak akan selalu mudah dan hidup tidak akan selalu bahagia. Karena bukannya hidup namanya kalau tidak ada kesedihan, tidak ada kesulitan. Gambaran kehidupan yang benar ada dalam surah Al-Insyirah, bahwsanya ada sulit dan juga ada mudah, ada senang dan juga ada sedih. Saya pikir mendoakan supaya selalu hidup bahagia, selalu dimudahkan, dijauhkan dari bala bencana adalah suatu gambaran kehidupan imajiner. Dalam arti, menyalahi definisi kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Karena tidak mungkin hidup itu akan bahagia terus, tidak mungkin hidup itu akan mudah selalu. Oleh karena itu saya cuma mendoakan Om Kur, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh. Jadi sedih-senang, mudah-sulit-nya yang beliau rasakan tetap berada dalam lindungan Gusti Alloh. Tidak lupa sama Gusti Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yomi                   : Menurut lu, bagaimana kita menyikapi ulang tahun, Van?&lt;br /&gt;Ivan                     : Senang..&lt;br /&gt;Yomi                   : Iyah, gue setujuh banget tuh. Emang kita harus senang.&lt;br /&gt;Ubay                   : Lho, bukannya seharusnya kita sedih bahwa umur kita malah berkurang satu tahun? Berarti ajal kita semakin dekat.&lt;br /&gt;Saya                    : Betul. Sejatinya kan bukan umur kita bertambah, namun berkurang.&lt;br /&gt;Ivan                    : Memang sejatinya umur kita berkurang, tapi bukan berarti kita harus bersedih. Namun seharusnya kita menyikapi dengan penuh kegembiraan bahwasanya sebentar lagi kita akan bertemu dengan Gusti Alloh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-610475139959610960?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/610475139959610960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=610475139959610960&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/610475139959610960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/610475139959610960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/ulang-tahun-di-warung-nasi-uduk.html' title='Ulang Tahun di Warung Nasi Uduk'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-9039073023678062342</id><published>2007-04-09T11:40:00.000+07:00</published><updated>2007-04-09T11:47:31.655+07:00</updated><title type='text'>Wida Bicara Maulid Nabi dan Wafatnya Isa Al-Masih</title><content type='html'>Hari telah mulai senja hari itu. Jam telah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Saya kedatangan tamu, teman lama waktu SD. Seorang wanita dewasa nan ayu dan berpenampilan menarik. Sangat berbeda sekali saat waktu SD dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau datang untuk sekedar mampir dan ngobrol mengingat-ingat kejadian di waktu SD dulu. Akhirnya kita banyak saling bicara. Tentang inilah, tentang itulah. Sampai akhirya tanpa disadari kita bicara soal yang sangat sensitif, yaitu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh iya. Minggu kemarin kamu merayakan Maulid Nabi Muhammad yah? Selamat deh.” Disamping smart, Wida nampaknya adalah seorang wanita yang sangat toleran terhadap perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya,” saya menjawab dengan ragu. “Oh iya, Setahu saya hari ini adalah hari peringatan wafatnya isa al-masih yah?” saya balik bertanya.&lt;br /&gt;“Benar.”&lt;br /&gt;“Ko, kamu ngga ge gereja?”&lt;br /&gt;“Sudah tadi,” dia menjawab dengan sangat dingin, seperti ada yang sedang dia pikirkan. Lalu ia melanjutkan bicaranya, “Entah mengapa saya sangat sedih dengan kehidupan sekarang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memangnya, Wid.” Saya bertanya.&lt;br /&gt;“Padahal ada dua hari yang sangat besar dan bersejarah dalam satu minggu ini. Yang apabila kita semua sadar dan dapat memaknainya, maka saya yakin dapat merubah kehidupan kita di dunia ini, khususnya di negara kita ini, yang sekarang terasa carut-marut, menjadi suatu yang penuh damai dan kasih serta penuh rahmat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak kaget dengan ucapanya. Ternyata kedewasaannya dalam berpenampilan  juga berdampak pada kedewasaanya dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu dengan dua hari besar dan bersejarah adalah Hari Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Wafatya Isa Al-Masih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, memang apa makna dua hari besar itu yang seharusnya bisa kita ambil sebagai penawar kehidupan yang sekarang ini sudah agak keblinger?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, katakan kalau saya salah. Adalah kejadian kelahiran seorang suci di tengah-tengah zaman yang dahulu dibilang dengan sebutan zaman jahiliyah. Jahiliyah sesuai bahasa adalah bodoh, jadi dapat dikatakan bahwa Muhammad lahir pada masa dimana orang-orang disekelilingnya adalah bodoh. Bodoh di sini mempunyai arti yang tidak sempit. Bisa dikatakan sikap-sikap yang arogan, menistakan wanita, mengurangi takaran, menyebah berhala, saling membunuh, tindak asusila, sampai tindakan korupsi. Nah, ketika kebiasaan jahil itu berlangsung, Tuhan dengan skemanya yang suci melahirkan seorang Muhammad sebagai tangannya dalam merubah semua macam tindakan bodoh  yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat arab saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu sekarang ini kita, sepertinya, kembali ke masa-masa jahiliyah?” Saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak secara waktu, namun, ini menurut saya, sikap hidup kebanyakan kita sekarang sepertinya menggambarkan sikap jahiliyah yang dulu pernah ada. Ya sikap-sikap yang saya sebutkan tadi seperti arogan, menistakan wanita, mengurangi takaran, saling membunuh, tindak asusila, sampai tindakan korupsi sekarang ini telah menjadi suatu budaya wajar yang bahkan sepertinya sudah mendarah daging.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, sejatinya usaha Muhammad untuk mengubah masyarakatnya kearah masyarakat madani adalah sebuah simbol. Bahwasanya kita yang sadar akan keberadaan kita di tengah-tengah kebodohan massal, seharusnya bisa meniru Muhammad untuk berusaha merubahnya ke arah yang madani dan selaras. Paling tidak merubah diri sendiri ke arah yang baik. Sadar akan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara dan warga beragama, beserta batasan-batasannya. Saya rasa kesadaran itu sudah sangat cukup untuk menjadikan masyarakat kita sekarang menuju masyarakat madani yang pernah dicapai Muhammad dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, sekarang adalah peringatan Hari Wafatnya Isa Al-Masih. Pertanyaannya, apa yang harus kita maknai dengan hari yang bersejarah ini?” Saya kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kamu sudah tidak sabar lagi ya, Id. Begini, sebelum kita mengambil maknanya, kita harus tahu kejadiannya. Kamu pernah nonton filmnya Mel gibson?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm……,” saya mencoba mengingat. “Oh, Passion of The Christ! Cerita ketika Yesus disiksa dan kemudian di salib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, betul. Saat itu kejadian di mana Yesus  Kristus mengalami penderitaan luar biasa akibat dari sikapnya, yang bagi kerajaan saat itu sangat meresahkan. Sehingga Yesus harus di hukum dan di salib. Memang pada film itu kita tidak tahu, apakah berlebihan atau tidak siksaan yang dilakukan. Namun yang pasti saat penyiksaan itu berlangsung kita dapat melihat betapa kuatnya dan tegarnya Yesus. Ketika menuju bukit penyaliban, Yesus sempat terjatuh beberapa kali, namun ia tetap berdiri kembali meskipun menahan penderitaan luar biasa yang dia alami dan beliau terus saja menyebut ‘Tuhan Bapa’ sebagai daya menambah kekuatan untuk melawan rasa sakit yang sangat.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh, saya tahu apa makna yang harus kita ambil pada kejadian itu, Wid. Menurut saya, kejadian itu adalah simbol bahwasanya kehidupan tidak akan pernah terhindarkan dari apa yang namanaya cobaan. Oleh karena itu kita seharusnya bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.” Saya coba mendahului Wida untuk menjelaskan makna dibalik peristiwa penyaliban Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya setuju dengan pendapatmu, namun menurut saya, tidak sesimpel itu, Id. Lagi-lagi ini menurut saya, bahwasanya perjuangan untuk merubah  suatu yang tidak baik menjadi suatu yag baik, seperti tugas yang pernah diemban Yesus Kristus dahulu, pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada yang namanya sandungan, entah itu berupa cobaan atau apapun namanya. Namun kita harus yakin bahwasanya kebaikan adalah tetap kebaikan yang tidak akan pernah kalah. Karena Tuhan yang menuliskan semua kejadian hidup adalah wujud kebaikan itu sendiri. Buktinya sampai sekarang ajaran Yesus Kristus masih saja eksis walaupun Yesusnya telah lama disalib dan dibunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat terdiam sejenak. Saya lihat dia agak haus akibat bicaranya yang sangat semangat. Namun tetap tidak menghilangkan kecantikannya. Jujur, ketika dia berbicara dengan semangat tadi, dia kelihatan semakin cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minum dulu, Wid.” Saya menyilahkannya minum.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Id. Memang agak haus nih.” Dia langsung meminum air sirup rasa jeruk yang tepat dihadapanya.&lt;br /&gt;“Sekalian makanannya dicicipi, Wid” &lt;br /&gt;“Nanti aja, pebicaraan kita kan belum selesai.” Dia meletakkan gelas yang dipegangnya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke kita teruskan, Wid. Kalau begitu apakah menurutmu kejadian-kejadian itu, yang notabene diperingati oleh agama yang berbeda, mempuyai korelasi untuk merubah kehidupan sekarang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan bagus, Id. Saya pikir ini anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita sebagai manusia beragama diberikan waktu untuk melakukan pertaubatan dan kesadaran secara berbarengan. Tinggal kita manusianya, ingin berubah atau tidak. Ingin mengambil makna atau tidak. Nama agama kita memang berbeda, namun esensi dari keberagamaan kita sama, yaitu MENJADI BAIK, PRIBADI MAUPUN MASYARAKATNYA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pembicaraan kami benar-benar dihentikan oleh adzan maghrib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-9039073023678062342?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/9039073023678062342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=9039073023678062342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9039073023678062342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/9039073023678062342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/wida-bicara-maulid-nabi-dan-wafatnya.html' title='Wida Bicara Maulid Nabi dan Wafatnya Isa Al-Masih'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-5442562191428170131</id><published>2007-04-04T19:20:00.000+07:00</published><updated>2007-04-05T08:47:01.186+07:00</updated><title type='text'>Kang Aid (nyoba) Memandang Hidup</title><content type='html'>Kemarin malam di pelataran mushallah setelah pulang dari main bulu tangkis saya coba merebahkan badan saya yang terasa sangat lelah. Memang seperti biasa, untuk melepas lelah saya biasanya mencari sedikit ketenangan di pelataran mushallah dan berbaring menghadap langit yang seperti payung tanpa pondasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Id, ada apa senyum-senyum sendiri?” Ivan datang dan langsung duduk disebelah saya berbaring. Kala itu sambil berbaring, saya memang tersenyum-senyum sendiri. Karena memang ada yang sedang saya pikirkan dan bisa dibilang menggelitik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, sampeyan bang,” saya langsung mengambil posisi untuk duduk dan bersandar pada kubah masjid. Kebetulan pelataran mushallah yang saya maksud adalah pelataran di atas mushallah. Dan untuk sampai di atas adalah dengan menaiki anak tangga dari bambu yag ada di samping mushallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lihat kamu tersenyum sendirian. Kalau tidak ada yang dipikirkan, berarti kamu sudah stres pasti. Wah saya bakalan kehilangan satu teman nih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja sampeyan ngomong. Wong saya masih normal.”&lt;br /&gt;“Kalau masih normal, berarti ada yang lagi di pikirin dong?”&lt;br /&gt;“Iya, sampeyan bener, Bang. Ada yang sadang saya pikirin dan agak menggelitik saya.”&lt;br /&gt;“Apa yang dipikirin memangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ada kesenangan dalam batin saya, ketika saya dipercundangi, baik langsung atau pun tidak langsung, oleh seseorang?” saya sedkit melirik ivan yang sedang membenarkan kain sarungnya yang melibat di lehernya. “Menurut saya, rasa itu kebalikan dari umumnya manusia. Yang apabila dipercundangi, maka akan merasa sedih dan tidak bahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang apa yang membuat kamu senang disaat kamu dipercundangi?” Ivan bertanya dengan posisi yang sudah mulai agak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merasa senang ketika melihat orang lain senang, meskipun saya yang menjadi ‘korban’ ataupun ‘sebab’ yang membuatnya menjadi senang,” Saya menjawab sambil tersenyum. “Nah, perbedaan dengan kebanyakan manusia itulah yang membuat saya tersenyum-senyum sedari tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma itu yang membuat kamu tersenyum, tidak ada yang lain?” Pertanyaan ivan kali ini sangat mengagetkan saya. Sepertinya ia tahu bahwa ada hal lain yang membuat saya tersenyum sendirian saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Bang.”&lt;br /&gt;“Penilaian orang terhadapmu?” Kali ini saya benar-benar dikagetkan dengan tebakan yang dilontarkan oleh Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ko sampeyan bisa nebak, Bang?” Saya bertanya sambil tersenyum penasaran. Dan sempat meyakinkan saya bahwa sebenarnya Ivan adalah seorang indigo.&lt;br /&gt;“Nah, sekarang pertanyaanya adalah apakah kamu tahu apa yang menyebabkan munculnya kesenangan kamu terhadap sesuatu yang, pada kebanyakan orang, sesuatu itu akan membuat ketidak-senangan?”&lt;br /&gt;“Apa, Bang?”&lt;br /&gt;“Cara pandangmu tentang hidup”&lt;br /&gt;“Saya benar-benar tidak mengerti maksud sampeyan, Bang. Jujur, saya tidak pernah sampai berpikir sejauh itu, apalagi sampai berpikir tentang memandang hidup. Terlalu rumit bagi saya, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Id.. Id… payah kamu,” Ivan kali ini merebahkan tubuhnya di atas tikar. “Kamu tuh, menganggap kehidupan yang bersifat duniawi ini seperti main-main saja. Mbo ya, sekali-kali mikir serius untuk kehidupan di dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener tuh, Bang, Ngga tahu yah. Tapi tepatnya bukan main-main tapi seperti permainan. Saya tuh berpikir kehidupan yang bersifat duniawi itu cuma permainan. Jadi tidak perlu ada yang harus ditanggapi dengan serius dan berlebih. Jadi kita akan selalu ikhlas dan ridho atas semua yang terjadi, meskipun hal itu bagi kebanyakan orang adalah suatu yang sangat tidak menyenangkan. Nah, kalau suatu yang berkaitan dengan akhirat baru harus kita tanggapi dengan serius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh bin ajaib. Ivan mendengar tanggapan saya tidak dengan mengkritik, namun malah tersenyum senang, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari saya dan sepertinya ia berhasil mengelabui saya, sedangkan saya tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu namanya kamu sudah pandai memandang hidup,” Ivan berkata demikian sambil menarik hidung saya. Lalu saya berusaha membalasnya namun ia suda menutupi wajahnya. Memang kami sudah sangat akrab sejak lama. Kebetulan ayahnya, Baba Hasan, adalah teman bapak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keadaan sudah tenang kembali, Ivan langsung berkata, “Tadi main bulu tangkis kalah ya? Terus teman yang tadi ngalahin senang banget karena bisa mengalahkan kamu?&lt;br /&gt;Terus kamu merasa biasa-biasa saja, malah ada kepuasan dalam hatimu karena dapat membuat temanmu itu senang bisa mengalahkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa terrsenyum lebar karena semua tebakannya yang dia lontarkan. Semua dugaannya kembali menyadarkan saya bahwa teman saya ini sepertinya memang dapat membaca jalan pikiran seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia kembali bicara, “Kamu tahu, Id, kenapa temanmu itu berlebih kesenangannya saat mengalahkan kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memangnya?”&lt;br /&gt;“Berarti dia menganggap kamu itu, lebih hebat dari padanya”&lt;br /&gt;“haahahaha….” Kami tertawa bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-5442562191428170131?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/5442562191428170131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=5442562191428170131&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5442562191428170131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/5442562191428170131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/kang-aid-memandang-hidup.html' title='Kang Aid (nyoba) Memandang Hidup'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-556324843401400065</id><published>2007-04-04T18:54:00.000+07:00</published><updated>2007-04-04T19:03:24.456+07:00</updated><title type='text'>Syariat NIKAH : Apakah masih diperlukan ?</title><content type='html'>Siang itu di warung sederhananya Mbo’ Darmi, saya yang kebetulan sedang makan siang kedatangan Hendra yang memang terkenal dengan sebutan pemuda yang pandai, sampai-sampai karena kepandaiannya sering kali pemikirannya bersebrangan dengan para tokoh agama di kampung kami, termasuk ayahnya yang juga kiyai terpandang di kampung kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keramahannya, dia langsung menegur saya. Memang Hendra, walaupun sering tidak sependapat dengan kebanyaka kiyai di kampung, dia adalah seorang yang penuh senyum dan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan, Id?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, sampeyan Hen. Iya nih kebetulan perut lapar banget. Sampeyan ga makan?” sambil mengunyah makanan yang sudah terlanjur berada di dalam mulut, saya mencoba menjawab sapaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ga lapar, cuma mau ngopi aja. Kebetulan lagi suntuk banget.”&lt;br /&gt;“Oh, saya tahu kenapa sampeyan suntuk, Hen.”&lt;br /&gt;”Sok tahu kamu. Memangnya kenapa?”&lt;br /&gt;“Hen, Hen…, wong teman-teman di sini tuh, udah pada tahu kisah perdebatan anak yang santri dengan ayah sang kiyai.”&lt;br /&gt;“hm…..,” Hendra tersenyum dengan tebakan sok tahu saya yang ternyata memang benar dan langsung dibenarkan olehnya. “benar kamu, Id. Saya memang habis berdebat dengan ayah saya.”&lt;br /&gt;“Tentang apa kali ini, Hen?”&lt;br /&gt;“Nikah”&lt;br /&gt;“Kamu dijodohkan?”&lt;br /&gt;“Yeh… bukan begitu”&lt;br /&gt;“Terus…?” tanya saya dengan penuh penasaran.&lt;br /&gt;“Masalah pandangan tentang nikah”&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Sekarang saya tanya ke kamu. Apa sebenarnya tujuan diberlakukannya syariat nikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir bahwa pertanyaannya sangat sederhana namun untuk menjawabnya saya butuhwaktu banyak untuk berpikir. Sedang saya termasuk orang yang awam bukan yag alim lagi santri seperti si Hendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hm….. mungkin untuk menghalalkan  penyaluran nafsu, juga untuk memperbanyak keturunan.”&lt;br /&gt;“Oke, itu kita simpan. Tapi menurut saya tujuannya yang tepat adalah agar supaya mengikat kesetiaan seseorang pada seseorang sehingga menghidarkan dari segala macam bentuk pengkhianatan,” Hendra bicara sambil menenggak kopinya yang masih hangat. Lalu meneruskan kembali “Pada dasarnya pengkhianatan adalah suatu yang alergi jika disandingkan dengan kedamaian. Oleh karena itu syariat nikah dimunculkan untuk menjaga perdamaian dan menghindarkan pengkhianatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit mengeryitkan dahi, dan dengan berjalannya waktu, tiba-tiba dalam pemikiran saya, apa yang telah diutarkan oleh Hendra adalah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya cenderung setuju dengan pendapat sampeyan, Hen”&lt;br /&gt;“Nah, sekarang saya tanya sama kamu. Dengan prinsip dasar yang telah kita sepakati tadi. Pertama, sepasang kekasih yang saling menyintai  dan berkeyainan bahwa mereka akan setia sehidup-semati dan mereka saling menyanggupi bahwa mereka tidak akan saling mengkhianati, apakah tanpa melalui jalur syariat nikah adalah suatu kesalahan? Kedua, apakah menurutmu seseorang yang hidup bersama tanpa menikah, namun mereka tetap pada kesetiaanya untuk selalu hidup bersama, tidak lebih baik dengan seseorang yang nikah-cerai-nikah-cerai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya berpikir untuk mejawab, tiba-tiba dari depan warung Mbo’ Darmi terdengar suara memanggil si Hendra. Dan ternyata itu adalah adiknya Hendra yang kebetulan santri juga, namun sedang menjalani libur panjang setelah ujian akhir semester. Adiknya memanggil si Hendra karena ia di panggil oleh ibunya untuk mengantarkan keundangan tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Id saya dipanggil. Nanti, kapan-kapan, kita teruskan lagi perbincangan kita. Soalnya saya sudah janji dengan ibu saya untuk mengantarkanya keundangan H.Dulloh yang sedang mengadakan resepsi pernikahan putrinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, sana”&lt;br /&gt;“Oke, sampai jumpa yah…”&lt;br /&gt;“Oke”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperginya Hedra dari warungnya Mbo Darmi saya agak terganggu dengan pertanyaannya Hendra. Lalu tiba-tiba banyak sekali pertanyaan yang muncul begitu saja dalam benak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya hidup bersama tanpa menikah lalu melakukan persetubuhan apalagi sampai punya anak adalah perbuatan zina? Bukannya zina itu, tidak hanya islam saja, namun juga semua agama mengharamkannya? Kalau begitu kenapa kita harus menilai bahwa yang hidup bersama tanpa menikah lebih baik dengan yang nikah-cerai-nikah-cerai? Padahal bercerai itu hanya dibenci bukan diharamkan, namun zina mutlak diharamkan. Kalau memang hanya itu pilihannya, kenapa kita harus mengunguli yang diharamkan, bukan yang hanya sekedar dibenci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan saya siang itu sangat terganggu dengan sederet pertanyaan yang tiba-tiba muncul tadi. Namun saya sedikit menyangsikan kesimpulan saya tadi. Karena Hendra adalah seorang yang berpikir agak liberal tidak literal seperi saya. Saya yakin jika saya menjawab pertanyaannya dengan kesimpulan saya tadi pasti ia akan tertawa dan meledek bahwa saya sangat literal dalam menilai dan memandang suatu yang harusnya terus berkembang cara mengartikannya sesuai dengan zaman dan budaya yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saja makan siang saya saat itu disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang terus muncul. Saya lalu coba berpikir seperti cara berpikirnya Hendra. Lalu tiba-tiba banyak sekali ide-ide muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau memang Hendra hanya ingin fokus dengan pembahasan tentang di angkatnya syariat nikah pada agama-agama bukannya suatu yang terkait dengannya seperti zina, menurut saya pasti ada filosofinya yang lebih tepat dari apa yang disampaikan olehnya atau paling tidak ada pengaruh dari luar yang menyebabkan syariat nikah menjadi suatu yang wajib dilalui untuk membentuk suatu keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pengaruh watak manusia. Bukannya manusia itu mempunyai nafsu yang jika terlepas atau tak terkendali melebihi nafsunya binatang bahkan lebih darinya? Tanpa sebuah ikatan, nafsu manusia yag ada bahkan punya potensi melebihi nafsunya binatang itu, manusia mungkin dapat dipastikan tidak akan dapat menjaga sebuah hubungan karena memang tidak ada yang mengikat dan ia merasa masih terbebas. Oleh karena itu perlu adanya syariat nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya yang lain adalah, mungkin saja, budaya, atau lebih tepatnya hukum yang terbiasa disepakati dan dijadikan sebuah panduan  hidup dalam suatu masyarakat. Saya merasa yakin bahwa semua hukum yang ada dalam kitab suci agama-agama disyariatkan akibat suatu budaya dalam masyarakat dan juga saya yakin hukum pada kitab suci agama-agama tersebut adalah suatu solusi panduan terbaik dalam menjaga budaya yang baik. Hidup bersama tanpa adanya ikatan nikah, pada budaya kita paling tidak, adalah suatu bentuk pencideraan budaya yang ada. Dan juga mungkin pada kebudayaan yang lain, seperti barat misalnya, syariat nikah merupakan solusi budaya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirya terakhir dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan “mengapa kita tidak berani  memilih suatu yang terbaik dari yang baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba saya dikagetkan oleh kedatangan ivan yang langsung duduk disamping kursi saya dan langsung memesan makanan kepada Mbo’Darmi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-556324843401400065?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/556324843401400065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=556324843401400065&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/556324843401400065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/556324843401400065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/04/syariat-nikah-apakah-masih-diperlukan.html' title='Syariat NIKAH : Apakah masih diperlukan ?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-751199690395499496</id><published>2007-03-08T20:06:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T20:11:20.521+07:00</updated><title type='text'>Sejatinya Shalat Itu Hak Siapa?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Perbincangan saya, Ivan, Ubay, dan Yomi di warung "nasi uduk mpo Lilis", tentang KODIS (komunitas diskusi) yang diselenggarakan mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan : Untuk menambah kuota anggota kita dalam KODIS. Bagaimana kalau kita ajak si Ujang, Hendra, dan Yanti?&lt;br /&gt;Ubay : Jangan ajak si Hendra untuk jadi anggota komunitas diskusi. Soalnya setahu ane dia itu beraliran kiri&lt;br /&gt;Saya : Maksudmu?&lt;br /&gt;Ubay : Setahu ane, masih antek komunis.&lt;br /&gt;Yomi : Bener tuh. Kemarin dulu pernah ada yang bilang sama gue katanya dia itu ngga percaya Tuhan&lt;br /&gt;Saya : Maksud sampeyan atheis, Yom?&lt;br /&gt;Yomi : Betul. si Ujang yang bilang.&lt;br /&gt;Saya : Memangnya Ujang tahu dari mana?&lt;br /&gt;Yomi : Katanya sih, si Ujang pernah diajak ke suatu komunitas kecil di Pesanggerahan, kalo ngga salah.&lt;br /&gt;Ubay : Tuh kan. Apa kata ane? Dah kelihatan sebenarnya gelagatnya.&lt;br /&gt;Saya : Huss. Kamu su'udzan aja sama Hendra.&lt;br /&gt;Ubay : Yeh, dibilang ga percaya. Pernah ane ajak shalat. eh... dia kaga mau.&lt;br /&gt;Saya : Masa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubay : Dua hari yang lalu, pas adzan ashar, saat dia duduk-duduk di teras rumahnya, ane segaja samperin dia. Ane sempet ngobrol sedikit tanya ini-itu. Terus langsung ane ajak dia shalat. eh dia malah bilang &lt;em&gt;maaf, Bay, Gue dah sholat&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Kapan?&lt;/em&gt; ane penasaran dan langsung nanya ke dia. eh, dia jawab &lt;em&gt;barusan&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Barusan kapan?&lt;/em&gt; ane tanya lagi. terus dia jawab dengan enaknya &lt;em&gt;tadi, dalam hati&lt;/em&gt;. Apa namanya kalo dia bukan komunis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya : Berarti dia ngga pernah shalat dong.&lt;br /&gt;Ubay : Ya iya. Kalo anak ga pernah shalat, ngapain kita ajak jadi anggota KODIS.&lt;br /&gt;Saya : Iya juga yah&lt;br /&gt;Ubay : Pokoknya, biar si Hendra itu pinter, ane ga setuju kalo dia kita ajak jadi anggota KODIS&lt;br /&gt;Yomi : Betul tuh, gue juga ga setuju.&lt;br /&gt;Ivan : Cuma gara-gara ga shalat aja kalian ga setuju?&lt;br /&gt;Ubay : Ya iyalah, wong ga mau shalat ko diajak-ajak&lt;br /&gt;Ivan : Loh, apa salahnya?&lt;br /&gt;Ubay : Jelas salah. Mana mungkin bisa nyambung diskusinya? lagian ntar malah kita yang kebawa keblinger.&lt;br /&gt;Yomi : Betul tuh, gue juga ga setuju.&lt;br /&gt;Ubay : Tapi kalau dia udah mau shalat baru ga apa-apa kita ajak.&lt;br /&gt;Yomi : Betul tuh kita paksa aja biar dia mau shalat. Lagian kan, kata ust. Hilal, itu namanya dakwah.&lt;br /&gt;Saya : Kenapa sampeyan sepertinya ngga peduli sama Hendra yang ngga pernah shalat, Bang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ivan : Bukannya ngga peduli. Semua ulama dan semua ustad ataupun orang alim, semua mengajarkan pada setiap muridnya atau setiap orang bahwa yang namanya shalat itu wajib. Dan para kiyai juga mengajarkan bagaimana tata cara shalat yang baik, kapan waktu shalat yang benar, dan juga doa-doa dalam shalat. Namun disamping itu semua, ada yang paling penting, yaitu sejatinya shalat itu adalah urusan pribadi seorang dan Tuhannya. Apa hak saya memaksakan seorang untuk shalat. Toh yang memberi pahala bukan saya, yang mengganjar kebaikan bukan saya, dan yang akan menempatkannya di surga juga bukan saya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ivan. Yomi dan Ubay pun tak bisa berkata apa-apa. Lalu kemudian Ivan dengan kebijaksanaan sifatnya berkata "Tapi saya pikir, dari pada gara-gara Hendra KODIS kita bubar. Ya sudah lebih baik kita tidak melibatkan dia."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-751199690395499496?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/751199690395499496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=751199690395499496&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/751199690395499496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/751199690395499496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/sejatinya-shalat-itu-hak-siapa.html' title='Sejatinya Shalat Itu Hak Siapa?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8206439244084017489</id><published>2007-03-08T17:56:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:57:58.627+07:00</updated><title type='text'>Buktikan Kalau Gusti Alloh Tidak Membuat Kesalahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Angin malam menghembus sangat kencang waktu itu, waktu saya “berjemur” di samping kubah mushalla yang beralaskan sehelai tikar. Waktu telah hampir menutup putarannya pada angka 24, namun pikiran saya melayang menembus segala macam batasan-batasan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba terdengar suara seseorang yang manaiki anak tangga yang terbuat dari bambu. Yah, ternyata benar ada orang yang tiba-tiba muncul dari lantai bawah. Ivan, dengan kain sarung yang dikalungkan pada lehernya, ternyata yang datang dan sepertinya sengaja ingin bermalam di mushalla. Ivan memang biasa bermalam di mushalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ada kamu, Id”&lt;br /&gt;“oh, sampeyan, Bang. Saya pikir siapa”&lt;br /&gt;“Kenapa?” Ivan berjalan menuju saya tetapi tidak duduk di tikar. Dia terus berjalan menuju pagar dan mulai menarik nafas sambil mendongakkan kepalanya ke arah bentangan langit yang terasa indah karena terhiasi oleh gemerlap bintang. Lalu meneruskan pertanyaannya. “Lagi ada yang dipikirin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ngga salah lagi. Persis!”&lt;br /&gt;“ada apa?”&lt;br /&gt;“sedang dibuat resah sama isu di kantor nih”&lt;br /&gt;“Cuma isu?”&lt;br /&gt;“iyah sih”&lt;br /&gt;“ko bisa?”&lt;br /&gt;“mengusik kenyamanan kerja jadinya”&lt;br /&gt;“memang isu apa?”&lt;br /&gt;“mutasi!”&lt;br /&gt;“mutasi?”&lt;br /&gt;“iyah”&lt;br /&gt;“terus kalo cuma mutasi, kenapa gelisah banget?”&lt;br /&gt;“udah coba ga mikirin sih, tapi susah. Tetap aja kepikiran”&lt;br /&gt;“wong masih di bumi Alloh ko”&lt;br /&gt;“iya sih, tapi tetap aja mengusik suatu yang terasa udah nyaman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat terdiam dan membeku. Saya tetap pada posisi membaringkan tubuh dan menghadap samudra langit yang begitu cerah. Sedangkan ivan tetap pada posisi berdiri memandang jauh seperti mencari batas langit di ujung bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pernah berpikir tentang eksistensi dirimu?”&lt;br /&gt;“maksudnya?&lt;br /&gt;“kenapa kamu dilahirkan di bumi indonesia ini. Bukan di China, Itali atau Mesir, misalnya?”&lt;br /&gt;“memangnya kenapa?”&lt;br /&gt;“yeh, mikir sedikit dong?”&lt;br /&gt;“tapi saya lagi ga bisa mikir sejauh itu sekarang ini, Bang”&lt;br /&gt;“kamu terlalu terbawa pikiranmu sih”&lt;br /&gt;“habis gimana lagi, susah Bang untuk membuang pikiran ini”&lt;br /&gt;“Kamu percaya ada rencana dibalik semua penciptaan dan takdir Gusti Alloh?”&lt;br /&gt;“kalo itu kita harus percaya dong. Tidak bisa tidak”&lt;br /&gt;“kalo begitu kenapa kamu jadi gelisah?” Ivan berbalik dan datang menuju saya lalu duduk di samping saya yang tetap berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan dan pernyataaan ivan  membuat hati saya agak tersentak. Di dalam hati saya cuma ada kata benar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dilahirkan berada di Indonesia adalah rahasia Gusti Alloh atas kehidupanmu. Kamu dianggap mampu dan pantas untuk hidup di sini oleh Gusti Alloh. Sekarang tugasmu adalah menjalankan amanah Gusti Alloh yang telah dipercayakan kepadamu dengan penuh keikhlasan dan semangat juang yang tinggi. Yaitu merubah segala yang tidak baik menjadi suatu yang baik. Yah di negeri ini. Bukan di negeri yang lain. Wong kamu dipercayakan sama gusti Alloh di sini.” Ivan kut merebahkan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mutasi masih di Indonesia kan? Ngga keluar dari Indonesiakan? Untuk apa bingung untuk sebuah pembuktian diri bahwa gusti Alloh tidak salah dengan menakdirkan dan “malahirkan” kamu di negeri ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua terdiam. Namun kali ini agak lama dan sepertinya kami akan saling membungkam mulut-mulut kami untuk waktu yang lama. Sunyi dan tak ada suara. Sampai kami sadar bahwa sudah mulai terdengar ayam berkokok&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8206439244084017489?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8206439244084017489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8206439244084017489&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8206439244084017489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8206439244084017489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/buktikan-kalau-gusti-alloh-tidak.html' title='Buktikan Kalau Gusti Alloh Tidak Membuat Kesalahan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-7900868768714102240</id><published>2007-03-08T17:55:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:56:10.781+07:00</updated><title type='text'>Kejahatan Pemerintah dan Dukungan Ulama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kemarin malam saya sengaja makan di warung Bu Sonah, kaerna saya sudah rindu ingin mencicipi sayur lodeh buatannya. Kerinduan saya itu karena sudah hampir seminggu saya tidak di Bekasi. Saya cuti selama satu minggu dan berada di ujung Jakarta sebelah selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu waktu yang lama untuk tidak mencicipi sayur lodehnya Bu Sonah. Karena hampir setiap malam saya makan malam di warungnya. Disamping dekat dengan kost-an saya, warung Bu Sonah juga salah satu warung makan yang murah di sekitar Perumahan tempat saya ngekost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya kebetulan pergi makan sendiri tanpa di temani Kang Iim, teman kost saya yang kadang juga ikut bersama saya makan malam di warungnya Bu Sonah. Namun seperti malam-malam biasanya, tempat duduk di warung Bu Sonah hampir saja tak tersisa. Selalu Ramai dan Laku Keras! Itulah kata yang tepat untuk mengilustrasikan warungnya Bu Sonah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya mendapatkan kursi persis di pinggiran jalan raya. Dan tepat menghadap base nya para penarik becak yang sebenarnya sangat mengganggu kelancaran para pengendara mobil dan sepeda motor di sekitar Perumnas II. Berada di hadapan saya tepat Bang Ipul dan  Mas Karyo tengah mengobrol sambil menunggu para pelanggan yang ingin naik becaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar dari dalam warung saya mendengar pembicaraan mereka yang rupanya sedang membahas ceramahan Aa Bim, pemilik pesantren Darr Wahid, yang kemarin mengisi tabligh akbar di Perumnas II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memainkan rokoknya Bang Ipul bicara, ”Ceramahnya Aa kemarin buat hati kita tenang yah. Apalagi saat doa terakhirnya, banyak membuat orang menangis. Termasuk gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener, Pul. Aku juga setelah mendengar ceramahnya jadi lupa sama kesusahan yang selama ini aku rasakan. Hebat juga Aa itu, bisa membuat banyak hati menjadi tenang dalam menghadapi susahnya hidup.” Mas Karyo menimpali dengan logat jawanya yang masih kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo harusnya dengerin tuh, Yo. Jangan kerjaannya cuma ngeluh mulu. Dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit ngeluh. Kaga bersyukur tuh namanya. Kan kata Aa kemarin kalo kita bersyukur atas nikmat yang telah Alloh beri kepada kita, maka Alloh bakalan tambah lagi nikmatnya.” Bang Ipul coba mengikuti kata-kata Aa kemarin, namun tetap saja logat betawinya tidak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, bukannya sampeyan yang mengeluh terus kalau sepi pelanggan, Pul,” Mas Karyo langsung menimpali dan nampaknya tidak mau disalahkan karena sering mengeluh. “Enak aja ceramah-ceramahin orang, wong sampeyan aja masih sering begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya juga yah, Yo. Emang susah supaya hati ini bisa tenang ditengah kondisi kita yang memang susah. Tapi betul kata Aa, kita harus mulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal yang kecil.” Bang Ipul berbicara sambil mengepulkan asap rokoknya yang sempat dia hisap tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener banget, Pul. Walaupun kita ini wong cilik. Kita harus jadi orang besar dengan sifat syukur dan sabar. Dan itu semua harus kita mulai sekarang. Dari pada kita selalu merasa kesusahan dan akhirnya kita meresa kesal sendiri dengan kondisi kita yang sepertinya tidak akan berubah, hehehe….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hus…. Kalo lu ngomong begitu, namanya lu putus asa sama rahmatnya Alloh. Begitukan yang kemarin Aa bilang. Kalo Kita ga boleh putus asa dari rahmat Alloh karena jika kita putus asa akan rahmat Alloh, itu akan menyiksa jiwa kita aja. Wong udah tersiksa malah nambah nyiksa diri dengan berputus asa dari rahmat-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang mereka, saya asyik mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Walau makanan saya sudah habis, tapi saya tetap saja duduk karena tidak mau ketinggalan apa yang mereka bicarakan. Setelah nampak selesai pembicaraan mereka baru saya bangun dari kursi saya dan menuju Bu Sonah yang sudah menunggu dengan kalkulator berasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dan menegur Bang Ipul dan Mas Karyo yang memang telah saya kenal, didalam perjalanan pulang saya coba merenungi apa yang mereka bicarakan. Dalam hati, saya berujar, walaupun kelihatan mereka sepertinya telah lepas dari “rasa” kesulitan yang mereka alami, namun kesulitan sebenarnya tak pernah hilang dari mereka. Pemerintah, dengan segala ketidakbijaksanaannya dan setiap ketidakbecusannya dalam mengelola negara, terutama wong cilik, sepertinya telah dibela dan didukung oleh para dai-dai yang selalu menyerukan syukur, sabar dan tawakal  dalam dakwahnya kepada rakyat kecil seperti Bang Ipul dan Mas Karyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah secara tidak langsung telah terlindungi dari segala macam kritik-kritik dan ketidakpuasan wong cilik terhadap kepemimpinannya yang sangat mementingkan perut dan nafsunya sendiri, karena para wong ciliknya sudah merasa tenang dengan ceramahan-ceramahan yang sangat menyentuh hati dan bisa menenangkan diri, walaupun ditengah kesusahan dan kesulitannya yang tak lain dan tak bukan memang disebabkan oleh pemerintah yang tidak becus mengurus negara. Kalau saya berpikikr buruk, mungkinkah para ulama kita telah bekerja sama dengan pemerintah kita yang sontoloyo???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi…., biarlah kalau memang para wong cilik sudah bisa tenang, sabar, bersyukur dan tawakal sama Gusti Alloh. Bukankah hidup itu akan lebih hidup jika kita bisa tenang dalam menghadapi setiap kegalauan, sabar dalam setiap kesulitan, bersyukur dalam setiap kekurangan, dan tawakal atas apa yang sudah digariskan oleh Gusti Alloh. Semoga saja dengan ketenangan para wong cilik dalam menghadapi kesulitan hidupnya terbayarkan dengan suatu yang berharga. Yaitu surga bahagia di alam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma bisa bilang selamat kepada pemerintah kita yang sontoloyo, karena telah tertutupi keborokannya dan bisa hidup tenang dengan kebusukan-kebusukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Kang…, KangAid….. HP-nya ketinggalan nih….” Mas Karyo lari mengejar saya dari belakang sambil berteriak dan mengangkat tangannya menunjukan HP saya yang ketinggalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-7900868768714102240?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/7900868768714102240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=7900868768714102240&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7900868768714102240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7900868768714102240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/kejahatan-pemerintah-dan-dukungan-ulama.html' title='Kejahatan Pemerintah dan Dukungan Ulama'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8849546756690052111</id><published>2007-03-08T17:54:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:55:08.761+07:00</updated><title type='text'>Mitos Vs Sunnatullah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kemarin, tepat diwaktu malam yang dingin yang langit-langitnya pelit dari cahaya bintang atau memang bintang-bintangnya yang memang enggan bertemu dengan awan hitam sehingga tidak memberikan gemerlap sinarnya, Saya pergi ke mushallah sebelah rumah untuk mencari udara segar dan ingin coba sedikit merenggangkan semua keletihan yang menimpaku selama beberapa hari ini. Keletihan itu sebenarnya bukan hanya pada persendian tubuh yang sudah mulai tambun ini, namun lebih dari itu. Yah, saya nampaknya sudah mulai mengalami kebosanan dalam rutinitas kerja. Tapi saya sempat berpikir apakah manusiawi rasa bosan yang saya derita? Ah, saya mencoba memahaminya seperti itu supaya keletihan itu tidak memunculkan keputusan-keputusan yang emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membuka pintu samping rumah saya dan mulai menaiki anak tangga yang menuju mushalla. Dan ketika saya sampai pada latar mushalla itu, saya terkaget melihat seorang yang sepertinya tidak asing bagi saya. “yah, itu… sepertinya itu Bang Ivan” saya mencoba meyakini dalam hati. Lalu saya melihat jam tangan saya yang sudah menunjukkan waktu hampir masuk tengah malam, “jam sebelas lebih dua puluh menit” gumam saya dalam hati. Lalu saya coba mendekatinya dan memang itu benar Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya menghampiri dan berdiri di sampingnya sambil ikut menatap hamparan langit tanpa bintang dan mulai bertanya, “lagi ada masalah, Bang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh, ngga ko”&lt;br /&gt;“jangan bohong”&lt;br /&gt;“ngga, cuma lagi merenungi mitos”&lt;br /&gt;“Mitos?”&lt;br /&gt;“yah”&lt;br /&gt;“aneh”&lt;br /&gt;“ko aneh?”&lt;br /&gt;“aneh aja, soalnya bukannya sampeyan ngga percaya sama gitu-gituan, Bang?”&lt;br /&gt;“Kamu percaya?”&lt;br /&gt;“Bukannya sampeyan pernah bilang. Kalau yang harus kita percayai itu adalah sunnatullah saja. Titik. Tidak ada kompromi dengan semuanya, apalagi sama yang namanya mitos”&lt;br /&gt;“Hem…..” Ivan tersenyum.&lt;br /&gt;“Kalupun suatu yang buruk itu teradi, itu adalah semata-mata karena perilaku kita yang menyalahi sunnatullah. Sunnatullah itu kan suatu kebaikan tuhan yang dianugerahkan kepada kita. Tingggal kita mau memelihara sunnatullah itu apa tidak? Cuma itu kan pilihannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ngga tahu nih. Saya lagi gundah sama yang namanya mitos. Padahal saya yakin ada takdir yang mengikuti manusia hidup di dunia ini”&lt;br /&gt;“memang masalahnya apa sih, Bang?”&lt;br /&gt;“mata sebelah kiri saya sudah seminggu ini berkedut-kedut. Dan kata banyak orang atau mitosnya bahwa akan terjadi suatu kedukaan yang akan menimpa”&lt;br /&gt;“hehehehe…..” saya tertawa dengan sedikit ditahan karena hari memang sudah agak larut.&lt;br /&gt;“kok kamu tawa?”&lt;br /&gt;“ngga. Ternyata sampeyan bisa juga gundah. Dan yang saya ga habis pikir, gundahnya itu disebabkan sama yang namanya mitos. Ngga sampeyan banget sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga ga tahu perasaan takut ini begitu kuat akan kebenaran terjadinya mitos itu. Saya seperti dikuasai oleh yang namanya perasaan, itu memang saya tahu dan saya akui. Tapi untuk melepaskan kegundahan ini sulit sekali,” Ivan sedikit serak mengeluarkan suaranya. “Apalagi ibu saya sekarang sedang sakit. Ibu yang sedang sakit saja sudah merupakan duka buat saya, apalagi jika lebih dari itu,” ivan diam sebentar dan melanjutkan lagi, “Itu yang sangat saya takuti akan terbuktinya kebenaran mitos itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mbo ya coba tenangkan dulu perasaan sampeyan dan coba berpikir jernih, Bang,” saya coba menenangkan ivan yang sudah mulai serak suaranya. Ivan memang sangat sayang sama ibunya. Dan karena ibunya mungkin  yang sepertinya telah menghilangkan logikanya. Karena seingat saya dia pernah bilang bahwa cinta pada ibu itu tak akan pernah bisa dilakukan dengan logika namun hanya dengan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian melanjutkan berbicara, “Coba sampeyan ke dokter, periksa ada apa sama mata sebelah kiri sampeyan. Mungkin saja ada debu yang masuk yang dapat menyebabkan infeksi. Kalau masalah takdir hidup seseorang, bahagia, duka, sakit atau lebih dari itu, meninggal, misalnya, itu mah sudah terangkum dalam sunnatullah, kalau begini akan terjadi begini, kalau begitu akan terjadi begitu, namun tetap dapat terjangkau dengan nalar. Kan sampeyan pernah bilang kalau filosofi hidup manusia itu sangat sederhana, yaitu PERGI UNTUK KEMBALI. ‘Pergi’ disaat Tuhan menciptakan kita, ‘Untuk kembali’ disaat tuhan mencabut nyawa kita karena memang kita hanya miliknya bukan milik yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kamu” Ivan sedikit mulai tenang dan mulai agak banyak senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba dari arah bawah terdengar suara lelaki yang sedikit berteriak memanggil “Bang Ivan…, Bang.. Ibu.., Bang. Ibu….ibu…..” suara itu adalah suara adik laki-lakinya ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa dengan ibu?”&lt;br /&gt;“Ibu….. udah lah bang cepat pulang dulu ke rumah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ivan dengan tidak memperdulikan sandal yang ia pakai tadi segera berlari dan turun melalui anak tangga dan terus berlari dengan tergesa-gesa menuju rumahnya. Dan saya hanya bisa berdoa dalam hati sambil mengikutinya dari belakang sambil berjalan, karena saya tak bisa lari cepat akibat terjatuh kemarin lusa saat bermain sepak bola. “mudah-mudahan tak terjadi apa-apa pada ibu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8849546756690052111?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8849546756690052111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8849546756690052111&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8849546756690052111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8849546756690052111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/mitos-vs-sunnatullah.html' title='Mitos Vs Sunnatullah'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8195869027111515120</id><published>2007-03-08T17:52:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:54:05.001+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak dan Beban Pasif</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Seperti biasa dihari Jumat, setelah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu Shalat Jumat di Masjid Al-Falah, anak-anak (begitu biasanya saya menyebut teman-teman saya) biasa mencari sandaran di luar altar masjid untuk sekedar ber-kongkow-an dalam rangka melepas lelah setelah letih melawan rasa kantuk pada saat khatib berkhutbah. Dan kebetulan saat itu memang khutbah terasa lama sekali. Memang Jamaah kampung kami sedikit maklum akan kebiasaan KH. Abdillah Isak yang jika sudah berkhutbah tidak pernah ingat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat itu Yomi tidak biasanya absen dalam kongkow-Jumatan yang biasa digelar setelah memenuhi kewajiban jumatan. Dan sebagai gantinya saya yang hadir waktu itu. Karena memang saya hampir tidak pernah ikut riutal ini disebabkan saya biasa shalat ditempat saya bekerja. Dan kebetulan hari Jumat ini sedang libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yomi kemana, Bay” ivan memulai ritual ini dengan menanyakan keberadaan yomi yang memang tidak kedengaran beritanya. “Katanya sih pergi ke Tangerang, ke rumah kakaknya yang perempuan” jawab ubay sambil mulai menyundutkan rokoknya yang baru saja diantarkan oleh Ujang, tukang warung yang di samping Masjid Al-Falah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba Om Kur, tetangga depan saya, datang dan mengagetkan saya yang sedang merebahkan badan yang sudah agak sedikit kelebihan beban ini. “Woi.. Anak-anak muda, Jumat ini gelar diskusi apa nih?” om Kur tiba-tiba bertanya dan sepertinya telah mengetahui pergelaran ritual yang biasa kami lakukan setelah jumatan. Memang om Kur, yang juga pegawai pajak dan kebetulan sedang libur karena tanggal merah yang telah digeser dari hari kamis ke hari jumat dengan seenaknya (entah apa alasannya atau pertanyaannya sebenarnya adalah pentingkah alasannya?) oleh pemerintah, pernah bergabung sekali, kira-kira 3 jumatan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh, om Kur,” aku terkejut dan langsung merubah posisiku menjadi duduk bersandar di dinding masjid tepat disebelah ivan yang sudah lebih dulu bersandar, “ngga Om Kur, kebetulan dari tadi kita belum diskusi apa-apa, dan sebenarnya memang dah sepakat untuk tidak banyak omong jumat ini. Kita cuma lagi melihat anak-anak di tanah lapang itu yang sedang asyik menerbangkan layang-layangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener, Om,” ivan melanjutkan dan nampak tak enak akan kehadiran om Kur namun tanpa ada diskusi atau pembicaraan, “kita Cuma lagi khidmat dan sedikit menikmati anak-anak itu yang sedang asyik bermain layang-layang. Dan nampaknya anak-anak itu malah seperti layang-layang itu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya seperti layang-layang itu apa Van?” tanya om Kur dengan sedikit penasaran dengan kata-kata yang digunakan ivan dalam menilai kejadian yang sama-sama kita saksikan. “Ane sepertinya tahu maksud perkataan ente van,” ubay langsung mencoba menafsirkan perkataan ivan tadi, “maksud ente anak-anak itu seperti layang-layang yang bebas terbang dan bermain seperti tiada beban. Seperti tidak terbebani atas setiap kebijakan pemerintah yang kadang agak ‘usil’, tidak terbebani atas kenaikan harga beras yang menjulang tinggi, dan juga tak terbebani atas carut-marut sistem pendidikan kita. betul, Kan?” ubay menjawab dengan penuh keyakinan. Dan memang saya kira cukup masuk akal apa yang diucapkan ubay dalam menafsirkan perkataan ivan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehehe… iya betul juga, Bay. Sepertinya memang anak-anak itu tak pernah ingin sibuk memikirkan hal-hal yang ‘tidak bermanfaat’ bagi mereka. Lagian juga memang seharusnya anak-anak itu seperti itu kan? Mereka harus dipelihara oleh negara untuk kemajuan negara sendiri” om Kur langsung menyetujui pendapat ubay yang memang sangat benar juga menurut saya. Lalu saya menambahkan perkataan om Kur, “Bener tuh om Kur. Seharusnya anak-anak itu dijadikan sebagai investasi negara dengan cara diberi kebebasan dalam setiap melangkah sehingga nantinya, paling tidak, sedikit ikut serta dalam membentuk budaya negara itu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menarik, dan ada benarnya. Tapi menurut saya layang-layang itu tidak terbang dengan bebas. Ia dikuasai oleh seseorang dengan perangkat yang namanya benang.” Ivan coba bermain-main lagi dengan kata-katanya. “Jika kita bicara seharusnya atau apa yang biasa disebut dengan suatu yang ideal, apa yang Om Kur ucapkan tadi dan apa yang sudah ditambahkan oleh Aid(panggilan saya) adalah benar. Tapi, mbo ya kita dalam melihat suatu itu jangan yang ideal terus, sekali-kali lihat suatu dengan pandangan yang riil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya yang riil?” tanya om Kur kepada ivan sambil meletakkan gelas berisi kopi yang telah lama berada di genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riil menurut saya bahwasanya anak-anak itu sepertinya memang tak terbebani oleh masalah yang ada. Namun sejatinya anak-anak itu telah dilibatkan oleh penguasa bahkan mungkin telah dipertaruhkan kehidupannya dengan setiap kebijakan-kebijakan yang diambil. Bahkan anak-anak itu sepertinya telah menjadi korban zaman rusak, yaitu &lt;strong&gt;zaman salah urus yang menyebabkan anak-anak itu utnuk mendapatkan pendidikan yang cukup tak pernah terwujud. Zaman revitalisasi feodalisme yang hanya melahirkan priyai-priyai kemaruk, kagetan, dan gumunan&lt;/strong&gt;.” Ivan sengaja tidak lagi menyandarkan tubuhnya dan mulai duduk bersila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebebasan mereka, yang seperti tiada beban dalam menjalani hidupnya, hakikatnya adalah kebebasan semu yang mungkin dapat merusak, jika tidak sekarang, kehidupan masa depannya. Keterbebanan anak-anak itu bersifat pasif, ya karena memang mereka hanyalah anak-anak yang hanya seperti layang-layang itu, terbang menembus udara namun tetap ‘dibebani’ oleh pemain layang-layang itu dengan menggunakan benang yang ditarik-ulur. Sama seperti pemerintah kita menguasai anak-anak itu, yang salah satunya, dengan perangkat hukum UUD’45. Pasal berapa, Id?” ivan bertanya kepada saya mengenai pasal yang mengatur anak-anak, terutama anak-anak terlantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasal 34, Bang” saya jawab dengan seyakin-yakinnya karena memang pasal ini yang sangat saya hapal pada UUD45, selain pasal 29 tentang kebeasan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itu! Pasal 34 itu merupakan perangkat hukum untuk menjaga keutuhan anak-anak, terutama yang terlantar. Namun perangkat itu telah ditarik-ulur oleh pemerintah dengan kasar. Yah dengan kasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana kita menghilangkan keterbebanan-pasif anak-anak diseluruh negeri ini, supaya bisa membentuk kebudayaan seperti yang dikatakan Aid tadi, Van?” Om Kur dengan sedikit menggebu menanyakan solusi apa yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehm….., ivan sedikit tersenyum dan melanjutkan bicaranya. ”Mbo ya jangan muluk-muluk banget, Om, melepaskan keterbebanan-pasif seluruh anak di negeri ini,” seperti biasa ivan menjawab santai, “Mbo ya… anak sendiri dulu. Pendidikannya dijamin, makanannya yang halal, jangan terlalu dimanja, dan yang paling penting jangan lupa, yaitu kasih sayang supaya nanti besarnya selalu menebar kasih kepada sesama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SETUJU…..!!!!” Saya dan ubay langsung bersama-sama mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus kita juga berharap dari orang-orang seperti Om Kur ini, yang punya kerjaan di tempat yang ‘basah’. Hehehehehe……, supaya memberi sedikit basah-basahnya sama anak-anakdi negeri ini.” saya langsung menyambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…, kalian bisa aja.” Om Kur merasa tersindir. Tapi kita semua tahu bahwa Om Kur adalah salah satu orang yang sangat dermawan di kampung ini. Walaupun kita semua tidak tahu status atas harta yang beliau infak-kan pada kebutuhan kampung ini. Maklum saja bahwa sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat kerja Om Kur syarat dengan maal-syubhat. Tetapi mudah-mudahan Om Kur tidak seperti ‘itu’ melainkan seperti yang biasa kita lihat bahwa dia sering datang ke masjid ini sebagai salah satu jamaahnya. (walaupun sebenarnya tingkat keshalehan seseorang tidak dapat dilihat hanya dengan rajinnya seorang ke Masjid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: kata-kata yang bertulis tebal di ambil dari novelnya AHMAD TOHARI yang berjudul ORANG-ORANG PROYEK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8195869027111515120?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8195869027111515120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8195869027111515120&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8195869027111515120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8195869027111515120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/anak-anak-dan-beban-pasif.html' title='Anak-anak dan Beban Pasif'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8236551979569735940</id><published>2007-03-08T17:50:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:52:07.384+07:00</updated><title type='text'>(Seperti) Pedagang Buah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;"Kemarin saya ke pasar, Bang" saya memulai berbicara kepada ivan. Ivan memang sudah saya anggap abang saya sendiri. Saya memanggilnya dengan sebutan Babang. Dari segi usia memang saya dan dia tidak berselisih terlalu jauh, hanya berbeda 2 tahun. Tapi karena kedewasaannya saya sangat me-nua-kan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, kebetulan ivan sedang menginap di rumah. Ivan memang teman yang paling sering bermalam di rumah saya. Seperti biasa kami menghabiskan malam, sebelum beranjak tidur, untuk ngobrol ngalor-ngidul yang sudah saya anggap seperti hal ritual. Masalah sepertinya banyak sekali dan tak pernah ada habisnya kalau kami sudah menjalani hal ritual tersebut. Malam itu kami mengobrol di teras rumah saya yang hanya diterangi oleh lampu redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ngapain?"&lt;br /&gt;"ya belanja lah"&lt;br /&gt;"cuma belanja ko cerita-cerita"&lt;br /&gt;"sebenarnya ada yang istimewa sih"&lt;br /&gt;"apa?"&lt;br /&gt;"ada tukang buah, Bang....."&lt;br /&gt;"istimewanya?"&lt;br /&gt;"saya cuma ga habis pikir aja sama dua tukang buah yang saling bersebelahan itu"&lt;br /&gt;"ya jangan dipikirin, cape-capein aja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan memang senang sekali ngelucu. Ia adalah orang yang seperti tak ada masalah dalam hidupnya. Namun itulah yang membuat banyak orang betah berlama-lama ngobrol dengannya. Dan saya termasuk di dalamnya. Entah mengapa kami bisa dekat. Padahal saya pendiam dan tak punya banyak teman. Entah apa keuntungannya dekat dengan saya, karena setahu saya dia punya banyak teman yang "lebih" dari saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"maka-nya jangan dipotong dulu"&lt;br /&gt;"ya wis, terusin"&lt;br /&gt;"mereka saling menjelek-jelekan buah milik pesaingnya," saya bercerita dengan nada yang pelan karena memang hari telah malam, "dan menganggap buah-buah yang dijualnya sangat baik"&lt;br /&gt;"kan wajar...?!"&lt;br /&gt;"wajar gimana?"&lt;br /&gt;"supaya buah mereka laku" ivan menjawab dengan sedikit tersenyum, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.&lt;br /&gt;"tapi kan bukan berarti harus menjelek-jelekan buah pesaingnya"&lt;br /&gt;"apa salahnya?"&lt;br /&gt;"ya salah-lah"&lt;br /&gt;"letak kesalahannya?"&lt;br /&gt;"mbo ya jangan jelek-jelekin buah orang lain"&lt;br /&gt;"kenapa memangnya?"&lt;br /&gt;"karena kan belum tentu buah miliknya sendiri bagus"&lt;br /&gt;"kalau memang terbukti lebih bagus?"&lt;br /&gt;"tetap ga etis lah, kalau dia menjelek-jelekan buah orang lain"&lt;br /&gt;"yang saya tanya, kalau memang terbukti bagus?"&lt;br /&gt;"kan.....," saya sedikit berpikir keras, "BAGUS ITU RELATIF"&lt;br /&gt;"hebat kamu.." ivan sedikit tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini terinspirasi dari kultum di masjid sebelah kantor tentang : Perbandingan Kitab Suci &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8236551979569735940?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8236551979569735940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8236551979569735940&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8236551979569735940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8236551979569735940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/seperti-pedagang-buah.html' title='(Seperti) Pedagang Buah'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-8864366046930213977</id><published>2007-03-08T17:49:00.001+07:00</published><updated>2007-03-08T17:49:56.178+07:00</updated><title type='text'>Kapasitas Menilai Hati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Seperti biasa, di serambi mushalla, setelah shalat maghrib berjamaah, sambil menunggu datangnya waktu isya, ada beberapa teman yang sengaja duduk-duduk santai sambil ngobrol ngalor-ngidul dan ngeroko', kadang juga pake ngopi. Pekerjaan rutin yang kelihatan ga penting atau isengan. Dimalam itu yang hadir lengkap – saya, yomi, ivan dan ubay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin ane lihat artis-artis di Rawajati, Kalibata. Mereka seperti super hero di tengah-tengah musibah banjir” ubay membuka pembicaraan. ubay memang teman saya yang paling kritis namun kadang agak arogan menilai sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah kamu lihat langsung artis-artis ibukota itu? Saya juga lihat, kemarin, tapi Cuma lewat tv” Yomi menanggapi dengan agak polos. Maklum yomi memang salah satu teman saya yang sebenarnya tak jago kalau masalah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener, Yom,” Ubay yang tadinya pada posisi merebahkan tubuhnya langsung berusaha duduk dan menyandar ke dinding mushalla, “ane lihat langsung, ada beberapa artis ibukota di sana ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bay, bay… cuma lihat artis ibukota aja ko bangga” ivan sepertinya tidak begitu tertarik dengan sesuatu yang glamour, seperti kehidupan para artis di negeri ini dan belahan dunia lain. Memang dia adalah teman yang sangat berpenampilan dan berperilaku sederhana. Ivan juga teman yang paling dekat dengan saya, walaupun kami sering berpergian dan kumpul-kumpul berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wong bangga itu di tempatkan pada posisi semestinya” Saya sedikit berkomentar dan mengamini pernyataan ivan kepada ubay, walaupun saya sebenarnya tidak begitu mengerti dengan pernyataan saya sendiri. Sebenarnya saya, diantara teman-teman saya, agak pendiam, tapi saya sangat senang kalau mendengar teman sedang berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan itu sebenarnya yang ane permasalahkan,” Ubay sepertinya agak emosi dengan pernyataan saya dan ivan tadi, “tapi menurut ane, para artis itu cuma ingin cari popularitas aja dengan cara membantu para korban banjir di Kalibata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyah juga sih, soalnya ini memang salah satu situasi yang pas, aji mumpung lah, untuk menjadi populer.” Yomi mnyetujui pernyataan Ubay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush, ngawur kalian!” ivan langsung menimpali, “mbo ya jangan arogan nuduh-nuduh orang yang ngga-ngga. Sekarang begini, kalau memang benar mereka seperti itu, kan ngga ada ruginya bagi para korban banjir yang mereka bantu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir ivan ada benarnya. Buat apa kita sibuk mengurusi hati orang, yang mana hakikatnya cuma dia yang punya hati dan Tuhannya yang tahu. Lagi pula sepertinya bukan itu masalah yang terpenting. Ada yang lebih penting dari pada masalah hati seseorang dalam menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling penting, banyak para korban banjir yang tertolong atas setiap hajatnya. Urusan para artis ikhlas dan tulus atau dia pamrih karena kepopulerannya, mbo ya jangan dibahas, kan bukan kapasitas kita kalau masalah urusan hati. Tapi masalah dia sama Tuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya…., tapi,…. E..e…. ane ga suka aja ama kelakuan artis-artis kita sekarang, walaupun ga semuanya sih”&lt;br /&gt;“kenapa emang?” saya melemparkan pertanyaan kepada ubay.&lt;br /&gt;“ya…. Karena, kadang mereka hidup glamour dengan segala ke-glamour-an duniawi yang ada,  namun kadang bak super hero yang aji mumpung ngebantu korban bencana. Wajar kan kalau menurut ane mereka cuma cari popularitas doang dengan ngebantu para korban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbo ya jangan begitu. Lebih baik kita ngedoain semuanya, para korban dan para artis yang menyumbang, supaya selalu dalam kebaikan dan selalu berada di jalan Tuhan” ivan dengan kesederhanaan dan kebijaksanaanya mencoba menasehati ubay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya, lagian ngomong-ngomong kamu udah nyumbang belum, Bay?” Saya bertanya pada ubay.&lt;br /&gt;“ehm….Belum sih”&lt;br /&gt;“ha…ha…ha…ha…..” kita tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya masuk waktu isya. Dan saya langsung menuju kamar di salah satu sudut mushalla untuk adzan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-8864366046930213977?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/8864366046930213977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=8864366046930213977&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8864366046930213977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/8864366046930213977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/kapasitas-menilai-hati.html' title='Kapasitas Menilai Hati'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-3390970899563075836</id><published>2007-03-08T17:47:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:48:56.579+07:00</updated><title type='text'>Banjir Jakarta : Lantai Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Minggu pagi, saat itu, di daerah Rawajati, Kalibata, banjir sudah menutupi dada orang dewasa. Bahkan media telah mengklaim air sudah setinggi 4 m. pagi itu suasana di sana tidak begitu ramai. Saya yang sengaja datang ke sana karena ingin melihat dan membuktikan berita di media, tiba sekitar jam 7 pagi. Sampai di jalan Dewi Sartika saya melihat seorang perempuan tua kumuh, sepertinya seorang pemulung, nekad menceburkan diri ke sisi genangan air. Dia nampak memegang kantongan besar. Saya lalu mencoba mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa, Bu?” saya bertanya sedikit berteriak karena saya tidak barenai turun ke air. Saya agak khawatir sebenarnya melihat ibu tua itu. Namun nampaknya ibu tua itu begitu serius seperti mencari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ngga, Nak” ibu itu nampaknya ingin kembali ke tempat yang tidak digenangi air. &lt;br /&gt;“marih saya bantu, Bu..”&lt;br /&gt;“makasih, Nak” &lt;br /&gt;“Ibu sedang apa?” saya mencoba mencari jawaban yang belum saya dapatkan.&lt;br /&gt;“cari sesuatu yang bisa buat makan, nak” &lt;br /&gt;“lho, memangnya ada apa di sana , Bu” &lt;br /&gt;“banyak barang-barang yang bisa diambil, nak” ibu itu sambil melihatkan kepada saya barang-barang yang telah ia dapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit terkejut ketika saya melihat isi dari kantongan yang ibu tua itu bawa. Barang-barang rumah tangga dan sedikit pakaian nampaknya sudah berhasil didapati oleh ibu tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah dapat banyak nih bu?” &lt;br /&gt;“alhamdulillah, nak” ibu itu tersenyum lebar dan kemudian meneruskan bicaranya, “kalau terus banjir begini pasti banyak barang-barang yang hanyut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit terperanjat atas jawaban ibu tua itu. Suatu fenomena yang ironis memang. Tapi saya tidak tahu apakah suatu yang ironis itu sesuai dengan keadaan ini. Di dalam hati saya Cuma sedikit bergumam ibu itu sepertinya mensyukuri banjir yang terjadi di jakarta . Memang hidup itu seperti roda berputar. kesedihan seseorang belum tentu juga menjadi  kesedihan pula bagi orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O..gitu, selamat deh, Bu. Mudah-mudahan ini berkah buat ibu” &lt;br /&gt;“makasih, Nak”&lt;br /&gt;“saya permisi, Bu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya pergi ke arah sebaliknya menuju Kampung Melayu untuk melihat banjir di sana .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-3390970899563075836?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/3390970899563075836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=3390970899563075836&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3390970899563075836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/3390970899563075836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/banjir-jakarta-lantai-kehidupan.html' title='Banjir Jakarta : Lantai Kehidupan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-1159597322609531710</id><published>2007-03-08T17:46:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:47:03.701+07:00</updated><title type='text'>Paradoks Keridhoan (2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Disaat sedang bekerja, atasan saya sengaja menghampiri saya. Sebetulnya ia hanya ingin meng-copy file musik Ebiet G. Ade di dokumen saya. Namun ditengah proses salinan dari perangkat komputer saya ke tempat penyimpanan atasan saya itu, tiba-tiba, tanpa ada suatu alasan memulai, ia berkata ‘dengan adanya asuransi, membuat orang tidak ridho, bener ga’?’. Dia nampak membuat pernyataan namun tetap bertanya, untuk meyakinkan mungkin. Tapi sepertinya ia mencoba mengajak saya berdiskusi tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak begitu paham akan maksud pernyataan atau pertanyaannya itu. Apakah ia ingin membahas suatu sistem asuransi dalam islam atau ingin membahas salah satu sikap bermoral di mata tuhan dan manusia, yaitu ridho. Dengan ketidak-tahuan saya akan maksudnya, saya lalu menjawab ‘sebenarnya paradigma kita harus tepat tentang makna ridho’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ridho, semata-mata hanya menerima begitu saja. Terima apa saja yang sudah menjadi takdirnya. Sebuah sifat fatalistik yang menyerahkan semuanya dan menerimanya atas nama takdir atau nasib.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya cuma mau mengibaratkan asuransi itu seperti polisi. Jadi disaat barang kita dicuri, misalnya, apakah jika kita melapor ke polisi atas kehilangan akibat pencurian itu berarti kita tidak ridho.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah, wallahualam…. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-1159597322609531710?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/1159597322609531710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=1159597322609531710&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1159597322609531710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1159597322609531710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/paradoks-keridhoan-2.html' title='Paradoks Keridhoan (2)'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-1949296993032301778</id><published>2007-03-08T17:44:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:46:04.463+07:00</updated><title type='text'>Paradoks Keridhoan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kemarin sempat berbincang sama teman di tengah waktu bekerja. Dia sedikit bercerita tentang orang tuanya yang baru saja pulang dari ‘naik haji’. Ia sedikit menceritakan saat orang tuanya merasakan sendiri bagaimana perlakuan panitia haji terhadap para jamah, terutama ketika wukuf di padang arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bersama kejadian di sana hanya lewat televisi. Dan di sini, sebagian masyarakat kita terbilang sangat kecewa dengan kejadian ini. Setelah selalu tak pernah sepi dari kekecewaan pada pada setiap tahunnya, panitia penyelenggara haji nampaknya telah kembali membuat suatu kesalahan. Namun nampaknya kesalahan yang dibuatnya pada tahun ini amatlah sangat merisaukan sehingga kekecewaan masyarakat sudah pada taraf puncak. Sehingga membuat massa berbondong-bondong menyuarakan, mewakili,  keperihatinan para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya apa yang dirasakan sendiri oleh para jemaah haji. Itulah yang kemarin teman saya singgung. Ternyata orang tuanya tidak pernah merasakan kekecewaan sedikitpun, agak lapar memang, tapi orang tuanya hanya bilang takut keikhlasan atau keridhoan hajinya terkotori karena merasa kecewa terhadap panitia. Mereka terkesan ‘hanya’ menerima. Mereka RIDHO atas apa yang terjadi terhadap diri mereka. Tanpa sedikitpun menyiratkan kekecewaan. Mungkin karena orang jawa kali ya….? Begitu yang diceritakan teman saya yang asal Malang itu. Ridho memang, tapi apakah salah jika kita merasa kecewa terhadap panitia penyelenggara dengan sedikit menyuarakan pula kekecewaan itu. Apakah dengan begitu nilai haji kita menjadi berkurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mbo ya panitia haji indonesia ngerti. Orang mau membersihkan dosa ko’ malah ‘dikerjain’ sama ‘coba-coba’.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-1949296993032301778?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/1949296993032301778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=1949296993032301778&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1949296993032301778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/1949296993032301778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/paradoks-keridhoan.html' title='Paradoks Keridhoan'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3356540960903114999.post-7451745031588768452</id><published>2007-03-08T17:24:00.000+07:00</published><updated>2007-03-08T17:43:48.784+07:00</updated><title type='text'>Be a Simple! Patutkah Menjadi Sebuah Cita-cita?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kemarin dulu, ada seorang teman wanita yang berbaik hati membelikan saya sebuah hadiah sebagai oleh-oleh dari kepergiannya ke Bandung.  Jujur saya tak pernah memintanya apalagi memaksanya untuk membelikan saya sebuah oleh-oleh karena saya takut merepotkannya. Tapi mudah-mudahan ia ikhlas dan tulus atas sebuah hadiah istimewa yang ia berikan kepada saya. Apa hadiahnya? Sebuah kaos semi-oblong berwarna putih (sayang dia tak tahu warna favorit saya). Apa istimewanya? Sebuah tuluisan besar berwarna hijau. Apa Tulisannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"BE A SIMPLE!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang sangat sederhana tapi sempat menghentak batin-jiwa saya. Cukup menggelitik kedirian saya. Bahkan sempat membuat bulu halus di tangan saya berani berdiri dan membuat tubuh agak sedikit merinding. Berlebihan? saya pikir tidak bagi orang-orang seperti saya. Tidak bagi orang-orang yang masih merasa sombong atas apa yang dimilikinya, yang masih merasa bangga atas setiap yang dilakukannya, yang masih terlalu fanatik sama golongannya. Namun bagaimana dengan diri merasa cuek-bebek, merasa minder, merasa tak punya kehormatan? Be a Simple-kah rasa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang ingin di-DEMO-kan oleh pembuat kaos semi-oblong itu dengan tulisan yang biasa namun tak biasa. Ada apa dibalik tulisan "BE A SIMPLE!". 'Menjadi sederhana'! Apakah hanya sebatas itu? apakah cuma sesederhana itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Be a Simple' nampaknya patut dijadikan sebuah cita-cita ditengah kefanatikkan atau ke-cuek-an orang akan sesuatu, terhadap perasaan besar seseorang atas orang lain atau perasaan orang yang tak punya kepercayaan akan dirinya, juga terhadap sebuah perasaan sombong akan kekayaan dan jabatannya atau sebuah sikap merasa miskin dengan meminta-minta harta pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terlalu fanatik atau terlalu cuek. Jangan merasa sombong atau merasa tak punya apa-apa. Jangan merasa bangga atau minder merasa tak mampu. Jadilah bijaksana dalam setiap langkah yang di ambil. Cukup bijaksana,  ya... itu nampaknya cukup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memiliki cita-cita 'Be a Simple' apakah semudah tulisannya, sederhana!?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3356540960903114999-7451745031588768452?l=kangaid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangaid.blogspot.com/feeds/7451745031588768452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3356540960903114999&amp;postID=7451745031588768452&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7451745031588768452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3356540960903114999/posts/default/7451745031588768452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangaid.blogspot.com/2007/03/be-simple.html' title='Be a Simple! Patutkah Menjadi Sebuah Cita-cita?'/><author><name>KangAid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09695964637952121759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
