Sunday, December 14, 2008

Siapa Nama Tuhan Kita?

Semalam chatting sama teman. Dan tumben sekali kita bahas masalah dalam ranah filsafat. Tidak tanggung-tanggung lagi, kita bicara masalah Tuhan. Tapi ini hanya diskusi sekedar. Berikut penggalan diskusinya…

………

(Teman) : ada info rid bwat menambah keyakinan kita pada kebesaran Allah
(Teman) : kmarin baca republika
(Teman) : tim peliput haji curhat
(Teman) : bahwa mereka sedang melakukan thowaf ifadhah ada lafaz kalimatullah di atas masjidil haram
(Teman) : subhanallah
(Teman) : jadi ingin sekali pergi kesana
kang_aid: terekam?
(Teman) : hanya bacaan, tapi gw sangat meyakininya berita itu benar
kang_aid: lafaz allah itu dari bentuk awan?
(Teman) : ia, kejadiannya pukul kira kira jam sembilan pagi, disaat cuaca sedang cerah diselimuti awan biru
(Teman) : trus reporter itu curhat bahwa dia tidak bisa merekam kejadian tersebut
(Teman) : karena jamaah sedang melakukan thowaf, jadi ga bisa berhenti
(Teman) : padahal dia sudah berniat ingin sekali meliput lafaz Allah yang terbentuk awan
(Teman) : dari pergi dia sudah siap merekam duduk dipinggir bagian pesawat
(Teman) : tapi Allah tidak mengizinkannya
(Teman) : dia melihatnya ketika sedang thowaf
(Teman) : jadi tambah keyakinan ma kebesaran Allah
(Teman) : walaupun hanya dengan membaca tulisan itu
(Teman) : loh kok panjang banget ya gw nulis
kang_aid: hahaha..... jadi inget, pernah lihat brosur atau pamflet di mana gitu lupa.... informasi tentang acara dialog... judulnya... "Mengapa Nama Tuhan Kita adalah ALLAH?"
(Teman) : jawabannya apa
kang_aid: yah ngga tahu... kan ngga ikut dialognya...
(Teman) : wkwkwk
kang_aid: kira2 jawabannya apa yah??
(Teman) : mang ada jawabannya ???????????????????
(Teman) : gw rasa otak manusia ga mampu kali mikirnya
kang_aid: iyah.... wong tuhan sendiri yang menyebut namannya dalam alquran
kang_aid: ya kan pan??
kang_aid: bahwa namannya adalah ALLAH
(Teman) : ia tuh uztadz hebat banget klo bisa jawab ya
kang_aid: tapi kalau gw baca di SEJARAH TUHAN nya Karen Amstrong, kalo ngga salah, ditinjau dari segi bahasa.... bahwa ALLAH itu artiya Tuhan yang Khusus...
kang_aid: terdiri dari dua kata, AL menunjukkan kekhususan, sedangkan (I)lah artinya adalah (satu) Tuhan....
(Teman) : tapi lebih tepatnya klo kita kaji surat AL IKHLASH dari awal sampai akhir
(Teman) : kayanya disitu lebih akurat dan jelas banget ya
kang_aid: Tapi orang2 sebelum islam menyebut tuhannya dengan sebutan Alihah... itu menunjukkan mereka menyembah banyak tuhan... alihah itu bentuk jamak dari ILAH
kang_aid: Betul, di ayat ayat tauhid, salah satunya adalah al ihlas, memang di situ Tuhan kita mengenalkan dirinya dengan sebutan ALLAH
kang_aid: bukan yang lain...
kang_aid: kemungkinan di sini adalah, Tuhan kita, ALLAH, ingin mengatakan dan memberikan kabar bahwa Tuhan itu hanya satu.... tidak banyak seperti yang dipercayai orang2 sebelum islam...
(Teman) : ia benar rid
(Teman) : luw dapet darimana buku Karen Amstrong
kang_aid: punya...
kang_aid: emang dia itu seorang oreantalis
kang_aid: tapi sering kali orang2 orientalis seperti dia, menilai islam dengan sangat objektif....
kang_aid: kira2 setuju ngga??
(Teman) : ga tau ah rid
(Teman) : ia iyalah
kang_aid: paling ngga itu yang baru sampai infonya ke gw pan... jadi paling ngga kalo ada yang tanya jawaban gw sekitar itu.... paling ngga kita punya jawaban... tidak melulu yakin tapi tidak memiliki jawaban pendukung tentang keyakinan kita
kang_aid: coba lihat surat thaha
(Teman) : gw ga pegang alqur'an rid
kang_aid: cari aja di internet
(Teman) : udah bahas aja, males nyarinya
kang_aid: emang ga kepingin tahu yah.... ngga penasaran yah?
(Teman) : ia pingin lah rid
kang_aid: di ayat 14 ada artinya gini "SUNGGUH, AKU INI ALLAH, tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat aku”
kang_aid: terbukti.... dan ini jawabannya.... bahwa Allah mengenalkan dirinya sendiri kepada manusia dengan nama ALLAH
kang_aid: tentang kenapa dia menamakan dirinya adalah allah.... itu terlalu dalam.... kalau kita analogikan dengan bayi yang dinamakan oleh orang tuanya... itu jelas analogi yang tidak bisa disematkan pada allah yang mukhalafatu lilhawadits
(Teman) : rid, thanks dah ada tambahan ilmunya
(Teman) : rid pamit dulu ya
(Teman) : dah ngantuk kayanya nih
kang_aid: siap... thx atas advice nya
(Teman) : mo tidur dulu ah, ngantukk
(Teman) : walaupun masih ada yang main
(Teman) : tapi gw dah ngantuk, bobo dulu sekejap
kang_aid: ga papa
(Teman) : ok deh wassalamu'alaikum
kang_aid: alaikum salam
kang_aid: (kapan2 bahas tentang salam)
(Teman) : insya allah
(Teman) : ok deh
(Teman) sudah sign out. (12/14/2008 2:41 AM)
------------------------

Friday, December 12, 2008

Menulis, Kopi, Iwan Fals, dan Konsep Hidup

Mulai dari mana yah? huuh…. bingung. Sudah lama sekali soalnya tidak menulis. Untuk memulai lagi itu rasanya sulit, setelah sekian lama absen mengisi blog ini. Tapi coba dipaksakan deh…. Walau mungkin tulisan ini akan sedikit membosankan. Karena, paling hanya berisi curhatan seorang yang sedang bingung. Kebingungan yang bukan saja hanya pada pencarian ide untuk menulis, tetapi juga kebingungan untuk mencari IDE sebuah kehidupan. Ah, terlalu berat rasanya untuk bicara sebuah IDE kehidupan, apalagi pada sebuah keberanian menulis yang baru lagi muncul.

Sengaja buat kopi dulu untuk menemani menulis. Yang kebetulan ide kesengajaan itu timbul karena gambar sebuah cangkir kopi di head blog ini dan juga warna coklatnya yang sangat membuat hati saya selalu tenang dan sebuah warna kesukaan saya. Yah, sengaja memang. Tapi itu harus dihargai, karena itu juga sebuah ide, meski sederhana. Dengan sebuah harapan sih tentunya. Yaitu penemuan sebuah ide untuk menulis. Walau sampai baris ini, belum juga ada ide yang merasuki imaji saya.

Srup…srup… nikmatnya kopi ini. Tapi saya tidak ingin membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi.

Yang tak kalah peran pentingnya dalam membimbing keberanian saya untuk menulis saat ini adalah Iwan Fals yang terus saja dan tak berhenti menyanyikan lagunya. Musiknya yang sederhana seperti menghantarkan saya pada sebuah kehidupan lain. Kehidupan di luar sombongnya rutinitas yang masih saja tak pernah berhenti. Kehidupan yang hampir-hampir berhasil membuat saya merasa nyaman dan tak mau pergi dari kemapanan duniawi.

Srup…srup… nikmatnya kopi ini. Tapi, lagi-lagi, saya tidak ingin membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi.

= = = = = = = =

Seringkali kita menjalani hidup ini, seperti tidak memiliki konsep. Padahal konsep itu sejatinya ada, tapi kita hanya tidak menyadarinya saja.

Malam ini saja contohnya. Ada sebuah dialog menarik dengan teman baru -rumah kos- di atas sebuah sepeda motor usang. Ide dialog itu bermula dari sebuah warung kumuh yang menjual nasi uduk dengan sepasang tua renta yang menjadi pemilik sekaligus pelayannya.

“Penjualnya itu sepertinya orang betawi bekasi yah, rid”. Sebuah dialog bermula. Pertanyaan ini muncul karena, mungkin, teman saya merasa heran perihal keakraban saya dengan sepasang tua renta penjual nasi uduk itu.

“Iyah. Orang betawi. Kebetulan udah lama ngga makan di sana”. Saya menerangkan tentang sudah jarangnya saya makan di tempat enyak, sebutan untuk penjualnya.

“Oh….Iyah. Aku dah ngira sih kayaknya betawi banget. Betawi bekasi gitu”.

“Kalau makan di sana, seperti terasa di kampung sendiri, Jadi, dulu saya sering makan di sana.”

“Oh…”

“Nikmat kalau sudah ngobrol sama mereka, tidak perlu mikir”

“Hahaha” Teman saya hanya tertawa ringan.

Sering kali kalau lagi sendirian dan sedang merasakan hati yang kesepian di malam hari, saya datang ke sana. Walau hanya makan kue lopisnya saja, sebagai alasan, saya mengobrol dengan “nyak” dan “baba” – panggilan untuk sepasang suami-istri tua renta itu.

Dialog di atas terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Dan setelahnya, saya berpikir kembali tentang ucapan saya pada kalimat terakhir. Yang agak sedikit terasa menyepelakan orang tua itu.

Akhirnya saya pikir-pikir lagi ucapan saya itu, karena memang dalam hati ini tidak ada niat menyepelekan mereka. Dan tiba-tiba sebuah konsep perjalanan hidup saya dengan sendirinya menguak dan muncul ke permukaan dengan sangat jelas dengan diawali sebuah pertanyaan. Mengapa saya sangat senang saling bercerita dengan sepasang tua renta itu?

Akhirnya saya mulai menyadari, dan berani menjawab sendiri pertanyaan di atas. Kalau mengobrol dengan sepasang tua renta itu memang tidak perlu berpikir dengan otak, karena mereka mengajak berdialog dengan hati. Dan hati adalah pusat ketenangan. Dan ketenangan adalah sebab dari kesenangan.

Ingin saya lanjutkan kalimat terakhir saya dari sebuah dialog di atas dan ini menurut saya sebuah konsep kesenangan bagi saya.

“Nikmat kalau sudah ngobrol sama mereka, tidak perlu mikir, karena mereka bercerita dengan HATI

= = = = = = = = =

Srup…srup… tegukan terakhir. Nikmatnya kopi ini. Alhamdulilah, saya tidak membahas sebuah kopi. Karena sejujurnya saya sedang berusaha untuk berhenti dan melupakan kenikmatan tiada taranya sebuah kopi.

Wednesday, December 3, 2008

Tuhan (pun) Berlogika

Beberapa minggu lalu, saya dengan beberapa teman mendapat panggilan untuk mengikuti ujian dinas kenaikan pangkat. Sebuah ujian yang kelulusannya dapat membuat golongan kami menanjak lebih tinggi. Ujian ini juga seringkali menjadi sebuah “hantu” bagi para pesertanya. Banyak orang yang tertunda kenaikan pangkatnya karena tidak lulus dalam ujian ini. Walaupun banyak juga yang berhasil.

Ketika Ujian selesai dilaksanakan. Beberapa hari setelahnya. Salah seorang teman saya pernah nyeletuk kepada saya, ketika saya keluar, setelah berada agak lama di dalam mesjid untuk berdoa.

“Rid…rid…. Percuma kalau doa minta lulus ujian dinas sekarang. Ngga ngaruh. Harusnya doa minta kelulusannya sebelum ujian… ngga setelah ujian. Ngga logis.”

Saya hanya tersenyum membalasnya, walau hati sedikit bergejolak. Kalau dipikir secara logika, itu bisa dibenarkan. Usaha kita, belajar sekaligus berdoa, itu memang seharusnya berada di awal. Wong ujiannya sudah. Sejatinya hasilnya sudah ada. Minta atau tidak minta, yah tidak akan pengaruh, karena memang hasilnya, sejatinya, telah ada.

Tapi dalam hati saya, entah kenapa, ada keyakinan lain. Sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa logikanya itu salah. Logika manusia hanya sebuah logika yang partikular. Logika person per person. Dan saya juga yakin bahwa ada logika yang lebih tinggi dari logika manusia yang sifatnya partikular, yaitu logika yang universal.

Ketika pikiran nalar manusia telah kehilangan “benang”-nya, karena terbatasi (dibaca: terputus) oleh tingkat kecerdasan dan pengalamannya yang mengharuskan ada “titik” yang tak bisa dihindari. Namun, logika universal tak akan pernah kehabisan “benang”-nya dan dapat mengganti “titik” menjadi hanya sebuah “koma”. Tapi tentunya, sebagai manusia, hal ini membutuhkan sebuah “keyakinan” atau “iman” untuk menerima logika tersebut.

Dengan nada yang sedikit rendah, mungkin tak terdengar, saya menjawab “Ah…, Tuhan juga punya logika, Kang.”

Monday, May 19, 2008

Belajar Hidup untuk Sukses

Saat lari pagi bersama teman-teman, saya didatangi oleh seorang wanita. Nampak ia membawa sebuah buku. Dari gelagatnya sepertinya wanita ini ingin menawarkan sebuah buku yang berada di tangannya itu. Yah, seorang sales wanita dengan warna pakaian persis sama dengan bukunya. Ternyata ia adalah tim sukses atas penerbitan buku itu. Begitu akunya. Dia khusus mendatangi saya, padahal saya sedang bersama teman-teman yang lain saat itu.

Wanita itu menawarkan sebuah buku motivasi untuk menjadi orang sukses. Dengan berbagai cara ia menjelaskan dan menceritakan buku itu. Akhirnya, saya langsung meminta wanita itu untuk menyimpulkan bukunya dengan kalimat yang singkat. Dan ia menjawab dengan mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan singkat buku itu, “Ku tahu yang ku mau!” Entah maksudnya apa(?).

Wanita itu bilang kepada saya bahwa buku itu menjelaskan seberapa pentingnya kita belajar dari orang-orang besar. Entah mengapa saya tertarik untuk berpikir menyalahkan persepsinya, mungkin tepatnya persepsi dari buku itu. Padahal kalau saja wanita itu tahu, saya banyak belajar darinya. Bagaimana ia begitu kuat dan ulet ketika ia berusaha menjual buku itu kepada beragam orang dan bagaimana pandainya ia berbicara dengan santun juga kepada setiap orang yang ditemuinya, termasuk saya. Dan itu terbukti saya bisa mengambil pelajaran bukan dari orang-orang besar saja.

Saya jadi teringat juga dengan perkataan teman saya di suatu malam saat kita berdiskusi masalah arti sukses di sebuah warung makan nasi goreng di kawasan selatan Jakarta. Kebetulan dia adalah seorang penjaga toko. Dia bilang kepada saya bahwa seharusnya ia banyak belajar kepada orang-orang hebat untuk menjadi pribadi yang sukses. Ia malu pada keadaan dirinya. Ia merasa malu karena teman-temannya telah banyak yang, menurutnya, telah sukses dengan pekerjan yang layak. Sedangkan ia belum.

Pendapat itu ada benarnya, namun saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, kita bisa belajar dari siapa saja, tidak terkecuali dari seorang pengamen jalanan atau tukang koran dijalan atau bahkan dari anak kecil sekalipun. Dan saya tak habis pikir kenapa sales wanita dan teman saya itu tidak berpikir sama dengan saya bahwa kita tidak mesti selalu belajar dari orang-orang besar, toh dari orang-orang lemah pun kita bisa banyak mengambil pelajaran.

Ternyata jelas mengapa mereka dan saya berbeda pendapat. Hal itu karena sukses menurut mereka adalah sebuah materi yang banyak dan berlimpah. Menurut mereka kesuksesan itu berarti uang banyak, rumah besar, mobil mewah, ekerjaan layak dan lain sebagainya. Sedangkan menurut saya sukses itu sangat erat kaitannya dengan “kekayaan hati”. Ketika saya merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang saya punya itu berarti kesuksesan saya.

Sebenarnya yang harus mereka dan saya pelajari adalah bagaimana caranya bisa senang dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Keadaan bersyukur disini bukan berarti kita harus puas dan tidak perlu meningkatkannya. Karena agama, sejalan dengan sosial-budaya, memerintahkan kita untuk selalu ikhtiar dalam hidup, baik ikhtiar yang sifatnya mengumpulkan materi maupun ikhtiar yang sifatnya menguatkan hati.
Saya jadi ingat ketika seorang sahabat, yang sangat dekat dan mengenal saya, tiba-tiba menegur bahwa seharusnya saya banyak belajar dari anak-anak kecil. Saat itu saya tidak tahu apa maksud dari perkataannya itu. Ketika saya tanyakan maksud dari kalimatnya itu, dia hanya menjawab nanti kamu juga akan mengerti. Dan ketika saya pikirikan, ternyata anak kecil itu sangat ikhlas, tulus, total dan jujur dalam melakukan sesuatu. Sangat berbeda dengan saya yang masih sering tidak tulus dan jujur dalam bertindak. Ternyata saya belum sukses dalam hidup. Mungkin saya cukup dalam meteri, tapi tidak dengan hati.

Friday, May 16, 2008

Bapak, Malam Ini...

Malam membidani kerinduan
Sosok pahlawan yang telah lama hilang
Bersama debu yang menutupi
Dengan sebongkah nisan yang mematri
Sunyi menusuk memori
Kenangan indah dimanja dan dikasihi
Dibuai, digendong, dan dipeluk erat
Dan sebuah dongeng pengantar lelap
Senyap memeras air mata
Terngiang suara berat dalam nasehat
Seyuman yang tak hilang dalam marah
Dihiasi bau hangat tubuh yang jumawa

Bapak, malam ini aku rindukanmu…
Dan entah pada malam yang mana lagi…

Diam: Hubungan Bathin dan Lahir

Rasul pernah menegur seseorang yang anggota tubuhnya banyak bergerak di dalam shalat, beliau berkata setelah orang itu shalat, “Apabila hatimu khusyuk ketika shalat tadi, maka khusyuk pula seluruh anggota tubuhmu.”

Ibn ‘Atha’illah pernah berkata, “Apa yang tersimpan dalam kegaiban hati, akan teraktualisasikan (termanifestasikan) di dunia nyata”. Dalam kesempatan lain dia menuliskan, juga termaktub dalam magnum opus-nya -al-Hikam, “Setiap ucapan yang keluar pasti menunjukkan kondisi hati yang mengucapkannya”.

Ketika ‘Atha’illah menyatakan bahwa apa yang tersimpan dalam hati itu akan dimengerti lewat sikap dan ucapan seseorang, tentunya secara tidak langsung ia percaya bahwa tingkat kearifan, kedewasaan, atau kejumawaan seorang terhadap ilmu dapat terukur atau diukur. Hal ini tidak jauh berbeda dengan teguran Rosul pada seseorang yang banyak menggerakkan anggota tubuhnya dalam shalatnya dengan memberikan sebuah nlai atau ukuran terhadap shalatnya. Khusyuk dan ketidak khusyuk-an seseorang dalam shalat ternyata bisa dilihat dan dinilai.

Memandang atas apa yang dikatakan sang maestro hikmah (dibaca: ‘arif), Ibn ‘Atha’illah, di atas, sepertinya beliau ingin mengajak supaya manusia itu seharusnya lebih banyak diam dan bersikap tenang. Hal ini senada dengan ungkapan “silent is golden”. Diam itu adalah bagai sebuah emas permata. Namun saya masih sepakat dengan pendapat sebagian orang, bahwasanya diam itu tidak berarti tak mengerti. Dan tenang itu bukan berarti pasif.

Jalaludin Rumi, seorang penyair sufi, pernah menuliskan sebuah kalimat,
“Hatiku penuh dengan kata-kata,

karena itu tak kuucapkan sepatah pun suara.”


Memang tidak mudah menebak atau mengartikan kalimat penyair sufi itu. Karena kalau dilihat secara tekstual, kalimat dan anak kalimat di atas tidak sejalan. Tapi barangkali kalimat itu mengandung kedalaman pikiran seseorang yang selalu dan lama dalam sebuah perenungan tasawuf. Atau barangkali itu adalah pernyataan seseorang arif yang berada dalam suatu zaman yang tidak mudah. Namun yang pasti, ketika Rumi tidak bersuara atau diam, tidak berarti ia tak punya kata-kata atau pandangan terhadap sesuatu. Terbukti dengan banyaknya buah pemikiran dari Rumi melalui kitab-kitab yang dituliskannya. Mungkin dia berpendapat bahwa tidak semua kata-kata dan pandangan terhadap sesuatu itu harus dituliskan dan dijadikan sebuah kitab. Lagi-lagi semua itu adalah sebab atas perlakuan zaman yang berbeda. Mungkin.

Di Persia, pernah ada seseorang yang bernama Omar Khayyam. Seorang yang terkenal dengan sajak-sajaknya dalam bentuk rubayyat. Meskipun ia lebih dikenal karena sajak-sajaknya, bukan berarti dia hanya pandai pada sastra. Sebenarnya dia adalah seorang ahli matematika, juga astronom. Dia adalah seorang pengikut dari Ibnu Sinna. Namun ia memilih tidak menunjukkannya atau lebih memilih diam. Rumi pernah berkata tentangnya, “hatinya penuh dengan isi, tapi ia tak mencoba mengundang orang lain bertukar pikiran”.

Memang berbeda sekali pribadi Socrates dengan Khayyam. Ketika Khayyam lebih banyak diam dan lebih memilih menuliskan segala macam pikirannya lewat sajak-sajaknya, berbeda dengan Socrates, ia seorang yang tidak pernah menuliskan buah pikirannya. Ia lebih suka berdiskusi. Namun diskusi yang ia lakoni bermula dari seringnya ia mendengar pendapat-pendapat yang menurutnya tidak sesuai. Benar adanya bahwa Socrates pernah mengatakan, Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Itu artinya seharusnya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

Abu hasfah pernah berkata, “Indahnya adab secara lahir mencerminkan apa yang tersembunyi di dalam batin”. Dengan perkataan itu kita sepertinya dapat mengambil hikmah bahwa yang tersembunyi pada hati dan pikiran, yaitu berupa cahaya ilahi, makrifat, dan ilmu, akan mempengaruhi gerak-gerik pada anggota tubuh atau lahiriah seseorang.

"Transaksi" Sebuah Maaf

Ibunda Malin Kundang sejatinya tak pernah tega, dan mungkin ada rasa penyesalan, ketika mengutuk anaknya menjadi sebuah batu. Atau sebenarnya kutukan itu adalah sebuah kasih sayang dalam bentuk lain yang diberikannya kepada sang anak, Malin Kundang. Namun, kutukan sang ibu itu hanyalah sebuah reaksi dari “transaksi” maaf-memaafkan yang “sulit”.

Kita juga ingat ketika Musa membawa para budak fir’aun yang dibebaskan ke negeri yang dijanjikan Tuhannya. Disaat sebagian kaum yang dijanjikan merasa tidak puas dengan Tuhan yang tidak berbentuk atau, paling tidak, ter-representasi-kan oleh sesuatu, Musa dalam hati kecilnya, sebagai manusia yang manusiawi, tak pernah merestui perbuatannya membunuh sebagian dari pada mereka, padahal mereka dalam keadaan sudah kalah dan berlutut, karena telah melakukan kesyirikan dan pelanggaran setelah janjinya. Tetap ada air mata ketika eksekusi. Namun, pebunuhan itu hanyalah sebuah reaksi dari “transaksi” maaf-memaafkan yang “sulit”.

Memaafkan itu lebih sulit dari pada meminta maaf. Ah, atau terbalik. Sebenarnya, lebih sulit meminta maaf dari pada memaafkan. Tapi mungkin jawaban dari semuanya adalah tergantung. Karena memang hidup dalam dunia yang fana ini tak pernah ada yang pasti dalam keterikatan yang kuat. Semuanya selalu menggantung, tergantung, atau digantung.

Namun, pernyataan diatas akan sangat berbeda ketika kita mendengar perkataan ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam, “Engkau merdeka dari segala yang engkau berlepasdiri darinya, dan engkau adalah budak dari segala sesuatu yang engkau tamak terhadapnya”.

Kuntoyo

Akhirnya saya melihat lagi Pak Kuntoyo, satpam kantor, setelah hampir dua minggu tidak menjenguknya. Sebenarnya kemarin saya sempat datang ke rumah sakit umum di Bekasi untuk menjenguknya, sekalian menjenguk orang tua dari teman lama yang kebetulan dirawat di tempat yang sama. Apa mau dikata, ternyata saya tidak tahu kabar bahwa beliau sudah kembali ke rumahnya.

===================

Pak Kuntoyo adalah satpam di gedung kantor saya sejak pertama kali kantor saya pindah. Dia adalah seseorang yang sangat berusaha friendly terhadap siapa saja. Walau asli jawa, tapi sudah sangat medok logat betawinya. Di Bekasi, ia tinggal bertiga dengan istri dan seorang putri di sebuah rumah petak yang ia sewa per bulannya.

Dia adalah termasuk seorang satpam senior. Pengalamannya telah banyak sekali menjadi seorang pengaman gedung. Pernah dahulu, menurut ceritanya, ia menjadi satpam di suatu bioskop di bekasi. Jaringannya sangat luas. Teman-temannya sangat banyak. Itulah bukti bahwa dia sangat friendly terhadap siapa saja. Tertawanya sangat khas, walau kadang berlebihan. Tapi itulah salah satu kelebihannya sehingga kita tak pernah bosan berbicara dengannya.

====================

Infeksi otak. Penyakit itu yang menjadi diagnosa dokter. Namun kabar pertama yang saya dengar dari teman-teman cleaning, dua minggu lalu, adalah serangan gejala stroke. Ketika mendengar kabar tersebut, yang pertama kali saya dengar dari Pak Kurniadi, hari itu juga saya langsung bergegas untuk menjenguknya bersama teman-teman cleaning dan security kantor.

Jabatan tangan saya tak kunjung dilepasnya saat awal bertemu dengannya. Namun genggaman tangannya dihiasi dengan tatapan mata yang kosong. Ia sempat merintih kesakitan. Namun tetap jabatan tangan saya sulit sekali untuk dilepaskan. Dia terus menggenggam tangan saya. Dalam hati saya menangis mendengar rintihannya. Ingin sekali melepaskan tanganya dan berbalik meninggalkannya karena saya sangat tidak kuat menghadapi tatapan dan rintihannya.

=====================

Ya Allah, apakah Engkau tidak punya rasa kasihan memberikan penyakit ini untuknya?

Ya Allah, apakah ujian ini tidak terlalu berat untuk ditanggung keluargnya?

Ya Allah, tidakkah Engkau punya mata, telinga, dan hati?



Atau apakah cobaan ini adalah jalan terbaikMu untuk dia dan keluarganya?

Atau apakah sebenarnya ujian ini semata bukan hanya untuknya, melainkan juga untuk orang-orang disampingnya, teman-temannya, dan para atasannya untuk saling berbagi?


Ya Allah, saat ini pintaku hanya satu, berilah kesabaran dan keikhlasan atasnya dan keluarganya. Karena saya yakin inilah sejatinya hidup, Sabar dan Ikhlas.


Kalimat dalam hati tak terhindarkan sesaat setelah genggaman tangannya terlepas. Ada rasa menggugat, walaupun pada akhirnya saya berusaha mengerti takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan. Karena memang itu tugas kita sebagai manusia di dunia ini. berusaha mengerti dalam setiap takdirNya. Itulah hakikat sabar dan ikhlas.

=====================

Selasa, 13 Mei 2008. Saya di telepon oleh Pak Kurniadi. …Id, mau jenguk Pak Kuntoyo? Dia mau pulang ke Jawa jam 9 pagi ini… Kabar kepulangannya yang sebenarnya telah saya ketahui sejak kemarin. Jam saat itu menunjukkan pukul 8 lebih. Akhirnya saya mengiyakan ajakan Pak Kurniadi, kepala seksi saya. Kembali seperti jengukan sebelumnya, teman-teman claning dan security kantor pun ikut turut serta.

Kami semua naik sepeda motor, karena rumahnya berada di suatu gang dengan jalan yang tidak besar. Ketika sampai di rumah kontrakannya, terlihat begitu banyak orang. Sepertinya mereka telah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya.

Satu persatu kami menyapa dan bersalaman dengan Pak Kuntoyo. Tubuhnya semakin terlihat kurus dan lusuh. Matanya yang sangat cekung memberikan tatapan yang kosong. Dia tidak kenal kami. Ingatannya seperti menghilang. Ia seperti kembali menjadi bayi, tanpa suara tak bisa bicara. Gerakannya pun dibantu oleh sang istri. Walau akhirnya tersurat senyum di bibirnya, namun masih terlihat memaksa, karena tatapannya kembali kosong. Kembali hati saya terasa sakit. Melihat seorang teman ngobrol disaat lembur saya, tidak mengenali saya lagi.

Tapi itulah yang terjadi. Pak Kuntoyo akhirnya memang harus menjalani tahap ini. Tahap dimana memang terasa sulit untuk menerimanya. Infeksi Otak. Penyakit yang, mungkin, tak pernah terpikirkan oleh dia dan keluarganya, namun akhirnya menjadi sesuatu yang harus mereka hadapi. Entah ini sebuah sandungan atau ini sebuah lubang besar, tergantung dari sudut apa mereka atau kita ingin memandangnya. Yang saya yakini adalah bahwa baik atau tidaknya af’al Tuhan itu tergantung atas bagaimana kita memandangnya dan meyakininya.

Dan dengan rasa berat hati, kami semua akhirnya kembali dan berpisah dengannya, entah untuk waktu yang berapa lama. Dan hidup serta waktu harus tetap bergulir seperti daun-daun yang tak henti berguguran dari pohonnya. Lekas sembuh, Pak…

=======================

Tulisan ini saya persembahkan untuk Pak Kuntoyo. Karena, mungkin, itu adalah pertemuan terakhir saya dengannya. Dia telah pulang ke kampung halamannya, entah untuk waktu yang sebentar, lama, atau sangat lama, atau bahkan untuk selamanya. Tapi saya berharap kita dapat bertemu kembali, walau entah kapan dan dimana.

Monday, January 28, 2008

Selamat Jalan Pak Harto…

Akhirnya kita, rakyat Indonesia, berkabung – bagi yang merasa berkabung. Innalillahi Wa Innailaihi Raaji’uun. Tanggal 27 Januari 2008, tepat pukul 13.10 WIB, menjadi hari yang sangat bersejarah. Mudah-mudahan semua amal kebaikannya menjadi pengawal bagi kehidupannya yang abadi kelak. Amin.

Saat menulis, saya sengaja sambil mendengar radio yang sedang membahas tentang kematian mantan presiden Soeharto, dan saya sedikit terenyuh. Bagaimana saya tidak merasa terenyuh, ketika penyiar radio tersebut membacakan beberapa pesan singkat dari para pendengarnya. Banyak yang ikut berduka, tetapi lebih banyak lagi yang menyatakan kebenciannya. Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, Bagaimanakah seharusnya kita menyikapinya?


Sebagai manusia memang kita mesti mempunyai pandangan subyektif. Ketika saya bertanya kepada hati saya, ada jawaban subyektif yang menjawabya. Saya lebih memilih memaafkannya. Jawaban subyektif itu muncul tentunya tidak begitu saja muncul. Ada beberapa pandangan yang bersifat moral-religi-humanis sebagai nafasnya. Ketika saya memandang hukum, yang sejatinya hanya menjadi perangkat dalam menegakkan kebenaran, tidak bisa ditegakkan, saya lebih memilih perangkat lain. Perangkat itu adalah kemanusiaan.

Walau dikesempatan lain saya setuju dengan pendapat Cak Nun yang menyatakan bahwa dalam menegakkan kebenaran, sejatinya, tidak bisa dengan Cinta, yang memiliki kesan subyektif. Namun penegakan kebenaran seharusnya dengan objektivitas, bukti-bukti, dan tentu saja perangkat hukum. Tapi, sayang sekali, sering kali hukum dikalahkan oleh Subyekivitas, lebih-lebih jika hukum itu tidak pernah ditegakkan.

Jawaban subjektif saya tentu saja didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman saya tentang kehidupan mantan presiden Soeharto. Apalagi dengan kenyataan sekarang ini yang saya rasakan tidak pernah se-sejahtera rakyat miskin di zaman Soeharto. Banyak prestasi yang ia dapatkan atas semua kebijakan dan keputusan beliau, walau sebagian masyarakat menganggap semua itu adalah suatu kebijakan dan keputusan diktatoris atau otoritatoris. Tapi tentu saja, sebagai manusia, beliau memiliki kesalahan dan kekurangan. Tentu yang paling kita sadari adalah kesalahan atau pelanggaran atas Hak Asasi Manusia (HAM) yang sampai sekarang ini masih saja dituntut kejelasan hukumnya dari keluarga dan kerabat para korban, namun belum berhasil.

Terlepas dari keharusan kita untuk memaafkannya atau tidak memaafkannya, karena itu adalah hak masing-masing orang, Di sebuah stasiun TV ada sebuah wawancara dengan seorang ibu bernama “Bu Siti”. Ibu Siti adalah seorang yang berasal dari purwokerto. Ketika dia ditanya tujuannya datang ke Jakarta, ia menjawab, bahwa ia ingin sekali menjenguk Mantan Presiden Soeharto yang sedang dirawat di RSPP, walau setelah itu ia juga ingin kerumah saudaranya. Namun ketika ia datang ke RSPP untuk menjenguk atau melihat suasana di sana, dia hanya mendengar bahwa Pak Harto telah meninggal dan telah dipulangkan ke Cendana. Lalu dengan niat yang mantap, berbeda dengan niat semula yang hanya ingin menjenguk, beliau langsung pergi ke Cendana untuk melayat.

Ketika ia ditanya kesan-kesan masa kepemimpinan Pak Harto ia menjawab bahwa saat Pak Harto memimpin yang ia tahu adalah bahwa Pak Harto itu sangat peduli dengan rakyat miskin. Wajar saja jawaban dari Ibu Siti yang memang dari kalangan orang kecil juga. Lalu ia lanjutkan jawabannya dengan menyatakan bahwa sebagai orang kecil yang ia tahu adalah murah beli beras, beli tempe tidak mahal, atau beli minyak tidak mengantri. Dia menambahkan bahwa hal itu berbeda sekali dengan sekarang yang tempe sudah sangat mahal, beras banyak yang oplosan dan mahal, serta minyak sudah jarang sekali sehingga seringkali untuk mendapatkannya harus antri beberapa jam. Tapi itu hanya sebuah dialog kecil dengan salah satu orang kecil.

Tapi saya juga tidak akan pernah mengenyampingkan orang-orang yang pernah menjadi korban atau salah satu keluarganya atau saudaranya yang pernah jadi korban rezim Orde Baru. Saya yakin pendapat mereka sangat bertolak belakang dari pendapat Ibu Siti.

Saat ini yang saya yakini adalah bahwa kesalahan ini bersifat kolektif. Kesalahan tidak semata-mata milik Pak Harto. Kesalahan adalah milik bersama, milik bangasa Indonesia yang selama 32 tahun tidak berani menentang dan membiarkan setiap kebijakan dan tindakan negatif Pak Harto. Walau saya tahu bahwa sangat berat tantangannya saat itu jika kita berani bersuara dan bilang “tidak” atas tindakan Soeharto.

Saya memaafkan beliau, tapi saya tidak memaksakan yang lain untuk memaafkannya. Kalau memang harus diselesaikan secara hukum, ya monggo. Karena saya tahu pengalaman dan pengetahuan kita berbeda. Wajar saja kalau tindakan kita berbeda. Yang penting kita bisa ambil pelajaran dari peristiwa ini. Itu yang penting.

Tapi sudahlah. Soeharto telah tutup usia. Sekarang marilah kita mengambil pelajaran dari kejadian ini. Bahwa kita seharusnya tidak mencintai seseorang dengan sangat mencintai, bahkan sampai mengkultuskan, dan juga tidak membenci seseorang dengan sangat membencinya. Kesalahan ini terbukti dengan menjabatnya Soeharto selama 32 tahun menjadi Presiden Ri dan ketika ia diturunkan dari singgasana kepemimpinan hingga wafatnya.

Sekarang, Kita harus berubah. Karena zaman akan terus berubah. Dan semua pendapat juga akan terus berubah. Karena yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri.

Aliran (sesat)

Seorang yang sudah saya anggap seperi orang tua saya sendiri suatu saat datang menghampiri saya. Dari mulutnya saya mendengar sebuah pertanyaan yang sangat tidak terduga. Dia menanyakan tentang bagaimana menyikapi terhadap banyaknya aliran-aliran yang muncul saat ini. Dia merasa tidak nyaman dengan peristiwa ini. Pertanyaan yang sebenarnya juga pernah mengusik ketenangan dalam diri saya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sekarang ini banyak sekali aliran-aliran yang bermunculan. Dari alilran yang menganggap suci kalangannya sendiri sampai aliran yang mengatakan ada nabi terakhir setelah nabi Muhammad. Dan aliran-airan itu masih menganggap bahwa aliran-aliran mereka masih dalam koridor agama Islam..

Pertanyaan dari orang tua saya itu memang sangat diwajarkan. Namun saya mengerti bahwa orang tua saya itu merasa tidak nyaman bukan dengan munculnya aliran-aliran itu -walaupun munculnya aliran-aliran itu juga harus menjadi koreksi bagi keberagamaan kita-, tetapi dengan banyaknya reaktif yang berlebihan dari masyarakat islam. Beliau tidak merasa nyaman dengan adaya kekerasan dan pertengkaran antar muslim akibat terciptanya perbedaan.

Pertanyaan itu memang harus kita pikirkan. Dan memang seharusnya membuat kita tidak merasa nyaman. Kalau saja yang bertengkar itu pernah menghayati sebuah hadis yang memiliki isi bahwa sayangilah saudaramu sepeti kamu menyayangi dirimu sendiri, pertengkaran dan keonaran seharusnya tidak pernah terjadi. Namun sayang yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka masih sangat menyayangi diri dan golongan mereka sendiri dari pada harus berbagi kasih sayang dengan yang lain. Dalam kaitannya di sini, kita jangan mengartikan Saudara itu hanya teman seliran atau seagama, namun lebih dari itu. Kita hidup di dunia ini semuanya bersaudara.

Apakah ibadah vertikal atau ibadah horizontal kita menjadi terganggu dengan adanya alliran-alliran itu. Disaat dia tidak mengganggu kegiatan shalat kita, puasa kita, atau malah ikut bergotong royong membangun sebuah rumah ibadah atau jembatan, apa yang dapat membuat kita merasa tidak nyaman dengan munculnya aliran-aliran itu. Rasa tidak nyaman itu yang menurut saya adalah reaktif yang berlebihan.

Allah saja pernah berkata bahwa Dia memang menghendaki adanya perbedaan di dunia ini. Mengapa kita tidak ridho, dan malah melawan, atas kehendak Allah. Seharusnya kita yakin bahwa perbedaan itu adalah semata-mata untuk fastabiqul khoiraat atau suatu ajang lomba dalam memperbanyak kebaikan-kebaikan. Sikap inilah yang seharusnya ditonjolkan, bukan sikap fastabiqul sayyiat (istilah penulis sendiri) atau berlomba-lomba untuk saling mengkasari dan saling memfatwakan sesat atas aliran yang lain.

Saya sempat menjawab pada orang tua saya bahwa yang penting itu Quu Anfusakum Wa Ahliikum Naaro atau menjaga diri kita dan keluarga kita untuk selalu berada dalam jalan yang kita anggap adalah yang terbaik dan benar. Maksudnya adalah seharusnya kita rajin-rajn membentengi aqidah dan keyakinan kita serta anak-anak dan saudara kita dengan ajaran-ajaran quran dan hadis yang kita anggap terbaik dan benar. Kita tidak perlu merasa tidak nyaman dengan adanya aliran diluar kepercayaan kita.

Yang penting itu adalah penanaman aqidah dan kepercayaan dari internal pribadi dan internal lingkungan terdekat. Dengan bekal itu, banyaknya aliran yang muncul dengan berbagai cara “merketing”-nya tidak akan membuat kita merasa terganggu karena aqidah kita dan keluarga kita telah terbentengi. Bahkan kita bisa lebih bijak lagi dalam menyikapi perbedan yang ada.

Tapi saya tidak memungkiri dan melarang orang lain, juga kepada orang tua saya, untuk merasa tidak nyaman dengan banyaknya aliran-aliran yang muncul atau dengan sikap kasar antar muslim sendiri. Hidup itu adalah pilihan. Tergantung mana atau apa yang kita pilih. Yang pasti atau seharusnya adalah kita selalu merasa tenang dalam beragama. Karena tenang dalam beragama akan membawa kita pada pengenalan arti hidup yang sejati.

Haji: Gelar dan Amanah

Suasana mendadak berubah. Sepi tak lagi terlihat. Semua dikejutkan oleh dentuman. Dentuman petasan berantai. Dar, dar, dar. Semuanya menyunggingkan senyum. Tidak ada rasa takut. Dentuman petasan itu tidak membuat masyarakat khawatir, namun sebaliknya. Semua merasa senang dan bahagia. Dentuman petasan itu memang tidak berbahaya. Petasan itu hanya sebuah tanda. Sebuah pertanda kebahagiaan. Suatu sambutan atas datangnya seorang yang istimewa. Seorang tokoh masyarakat, seorang ayah dari anak-anaknya dan juga seorang paman dari para keponakannya baru saja kembali dari tanah suci.

Keluarga saling menebar senyum. Semuanya merasakan kebahagian. Tak terkecuali saya. Semua terasa menyatu. Menyatu dalam sebuah ekstasi. Kebahagian yang teramat sangat karena terpenuhinya nafsu rindu. Peluk mesra menjadi tontonan biasa dengan dibubuhi ciuman rasa sayang. Ciuman pipi kanan dan kiri. Bahkan air mata yang menjadi identitas kesedihan bercampur baur mengiringi kebahagiaan yang teramat sangat.

Senda gurau dan tawa mesra yang sempat hilang kembali lahir. Cerita-cerita mulai diorasikan dengan balutan canda. Semuanya dahaga akan cerita-cerita yang akan keluar. Semuanya mengharapkan keberkahan. Semuanya ingin berbaur dan merasakan kebahagian. Semuanya tak ingin hanya melihat. Mereka ingin memegang. Mereka ingin memeluk. Bahkan mereka ingin mencium. Semuanya ingin merasakan kebahagiaan dalam sebuah pesta penyambutan seorang ulama kampung, seorang ayah, dan juga seorang paman yang kembali ke tanah kelahiran dari tanah haram dengan raga sehat dan telah lama mereka rindukan.

Sekarang namanya telah berubah. Bertambah, tepatnya. Ada satu kata yang mulai disematkan pada setiap penulisan namanya. Gelar “HAJI”. Paling tidak itu yang membuat perbedaan setelah ia pulang dari tanah haram. Semuanya hampir terlihat tidak berubah. Wajahnya masih seperti dahulu. Senyumnya tak kehilangan manisnya. Perawakannya yang kecil juga tidak bertambah tinggi. Suaranya masih saja berat dan merdu. Matanya tidak kehilangan cahaya kasih sayang. Hanya ada sedikit yang berbeda ketika memandang rambutnya dan jenggotnya yang hampir habis terpangkas. Selain itu semuanya sama. Tidak berubah.

Namun semua itu hanya sebuah perayaan. Itu baru permulaan. Ada yang terpenting dari itu semua. Dan itu tidak semudah penyematan gelar haji yang kini akan terus mendampingi namanya. Haji, bukan saja sebuah gelar, ia adalah sebuah amanah yang harus diemban dan dipertanggungjawabkan. Haji, bukan saja bagai sebuah mesin cuci yang ketika telah selesai kita merasa suci dan bersih seperti bayi, namun ia adalah sebuah awal untuk menyucikan diri dari kotoran-kotoran yang dulu pernah ada.

Selamat atas hajinya*. Semoga ibadah hajinya tidak hanya diterima (mabrur) oleh Allah, namun lebih dari itu. Yaitu menjadi seorang yang mampu peduli terhadap orang lain. Menjadi orang yang peka terhadap kesusahan tetangganya dan lingkungannya. Senantiasa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena haji adalah penyempurna keislaman, maka secara tidak langsung ibadah itu juga menginginkan kedewasaan dan kebajikan kita menjadi sempurna. Sekarang ini yang dibutuhkan negeri ini adalah orang-orang kecil yang berlaku baik.

*Selamat untuk paman saya dan semua jemaah haji indonesia yang telah kembali.

Drama Eksistensi

Apakah ada di dunia ini kebenaran mutlak? Atau yang seharusnya dipertanyakan tidak demikian bunyinya. Apakah kita, manusia yang telah dianugerahi dengan akal, dapat menemukan kebenaran mutlak di dunia ini?

Dua pertanyaan di atas sepertinya tidak ada perbedaan. Keduanya sama-sama ingin mengatakan bahwa di dunia ini manusia bisa menemukan kebenaran mutlak. Saya jadi teringat Aristoteles dan Hegel dengan filsafat Idealismenya. Filasafat yang ingin mengatakan bahwa sesungguhnya kebenaran mutlak itu dapat diformulasikan secara sistematis melalui pencarian yang sungguh-sungguh. Aliran ini tidak ubahnya dengan apa yang diusung oleh Socrates secara umum, namun Hegel lebih kepada eksistensialis idealis. Pemikiran yang terkonsentrasi dengan eksistensi. Hegel pernah mengatakan bahwa ada roh semesta yang mendampingi para subjek atau manusia dikehidupan ini. Roh semesta yang, mungkin, ingin disampaikan olehnya adalah sebentuk kebenaran mutlak. Dan manusia atau subjek-subjek dengan akalnya suatu saat nanti, seharusnya, dapat menemukan dan memformulasikan secara sistematis kebenaran mutlak itu. Wajarlah jika akhirnya Hegel dikatakan sebagai pembawa aliran filsafat Idealis. Karena hal itu menunjukkan bahwa ia menginginkan adanya idealisasi pada manusia dalam menjalani hidup.

Tapi sepertinya Hegel sedang bermimpi. Keinginan ia dengan idealismenya memang sangat brilian. Tetapi bagaimana jika ia ditanya dengan, bagaimana memformulasikan kesedihan, putus asa, patah hati, kebahagian, atau jatuh cinta? Apakah itu semua bisa diformulasikan secara sistematis atau didefinisikan? Apakah sama definisi jatuh cinta yang Dewi rasakan kepada Rudi dengan yang dirasakan Rani kepada Rudi? Saya yakin definisi mereka berbeda walaupun pada dasarnya jatuh cinta itu adalah suatu kebahagiaan. Namun tak jarang pula jatuh cinta itu menjadi sebuah racun bagi sang pencinta.

Saya mungkin lebih tertarik untuk mengatakan bahwa manusia menilai suatu kebenaran berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah ia dapatkan. Dalam kata lain, saya ingin mengatakan bahwa, kebenaran objektif atau kebenaran mutlak seperti yang dikatakan Hegel, itu tidak akan bisa diraih apalagi diformulasikan dengan sistematis di kehidupan dunia ini. Yang ada adalah kebenaran subjektif. Mungkin yang seharusnya dikatakan adalah bahwa manusia seharusnya, dengan akalnya, membuat komitmen dan menjaga konsistensi dengan kebenaran-menurutnya. Kebenaran-menurutnya di sini adalah suatu penilaian atas pengalaman-pengalaman atau budaya yang telah ia dapatkan atau mungkin sedang dijalani. Dan ini yang disebut dengan kebenaran subjektif.

Pada dasarnya yang diajarkan oleh Aristoteles maupun Hegel tidak seluruhnya keliru. Saya juga yakin bahwa ada Roh semesta, menurut istilah Hegel, atau Kebenaran mutlak yang mendampingi perjalanan kehidupan di dunia ini. Mereka mungkin lupa, atau mereka memang tidak tahu, bahwa ada kitab suci dalam agama-agama. Itu bukti adanya petunjuk tentang kebenaran mutlak. Namun ketika kitab suci itu berinteraksi dengan manusia, akhirnya pandangan tentang suatu kebenaran menjadi subjektif. Hal itu dikarenakan penafsiran yang berbeda atas ayat-ayat dalam kitab suci yang dilakukan oleh manusia.

Saya tertarik sekali dengan pendapat Kierkegaard, seorang filosof Kopenhagen, Denmark, bahwa manusia dalam tindakannya terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah manusia yang bertindak spontanitas (tindakan esteteis). Yang kedua adalah kelompok manusia yang betindak dengan menilai terlebih dahulu baik dan buruk (tindakan etis). Dan yang terakhir adalah manusia yang bertindak atas pertimbangan agama (tindakan relijius). Dari golongan-golongan manusia tersebut di atas, kita dapat menyimpukan bahwa penilaian atas kebenaran akan sangat berbeda adanya pada tiap subjek. Coba kita renungkan itu. Itulah drama eksistensi yang terjadi di dunia ini.

Pesta Kesombongan

Kemarin saya ikut sebuah pesta pernikahan seorang *teman masa sekolah dulu. Sebuah perayaan sederhana dengan menu ketupat sayur dan sate ayam. Namun yang hadir di sana tidak sesederhana pergelaran pestanya. Pakaian bermerek asing, kendaraan-kendaraan keluaran terbaru, kilauan-kilauan emas yang sengaja menempel dan menggantung, serta yang tak kalah pentingnya adalah ucapan-ucapan penuh kesombongan dan pamer kepintaran. Mungkin, secara tak sadar saat itu, tidak terkecuali dengan saya.


Pesta itu secara tidak langsung memang mengumpulkan teman-teman lama saya yang telah lama sekali tidak saling bertemu. Pertemuan, kata banyak orang, adalah suatu yang sangat menyenangkan. Namun tidak dengan saya. Saya begitu terbebani dengan pertemuan. Karena kita memang sudah lama tidak saling bertemu -dan ini yang sangat saya tidak suka- tanya jawab tentang segala hal, seperti pacar, pernikahan, karier, atau pekerjaan.


Ketidaksukaan saya, mungkin, karena saya sejatinya adalah orang yang tidak suka banyak bicara. Tapi, juga, saya adalah seorang yang tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman karena saya. Akhirnya saya pun, sama dengan yang lain, menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan saya. Cerita-cerita akhirnya keluar dari mulut saya. Sampai akhirnya saya merasa seperti yang terhebat saat itu. Mungkin sama dengan teman-teman yang lain ketika bercerita. Aroma saling pamer dan kesombongan mulai tampak.


Setelah selesai pesta, saya tak kuasa mengingat-ingat apa yang telah saya ceritakan kepada teman-teman. Ingatan itu hadir karena memang pada dasarnya saya tidak suka banyak bicara dan banyak cerita. Ingatan yang pada akhirnya saya sadari seperti suatu kesombongan. Ternyata saya termasuk orang yang sombong. Kalau pamer materi mungkin kesombongan yang bisa dipahami, namun jika kesombongan dalam bentuk ucapan-ucapan membanggakan diri, atau seolah-olah membanggakan diri, adalah tingkah laku yang konyol dan tidak baik. Mungkin saat pesta itu teman-teman saya mengira bahwa saya hebat, sukses, atau luar biasa. Namun sejatinya saya adalah sebaliknya. Yang saya tahu, malam ini saya sadar dan menyadari bahwa saya tidak sehebat yang mereka kira. Saya bukan orang yang sukses seperti yang mereka kira. Atau saya bukan orang yang luar biasa seperti yang mereka lihat.


Ah, kalau saja mereka mengartikan hebat, sukses, atau luar biasa tidak dengan banyaknya materi atau tingginya jabatan, tetapi dengan sebuah keberhasilan meraih kedewasaan ruhiyah atau batin. Mereka pasti setuju dengan pendapat saya, bahwa saya masih sangat jauh dari itu semua. Dan mungkin juga mereka. Namun sangat manusiawi jika penilaian seseorang terhadap orang lain adalah karena apa yang telah ia lihat atau dengar. Terakhir, saya mau minta maaf pada Allah, kalau menurutnya pula saya adalah orang yang sombong.


*Selamat untuk Jazuli dan istri

Thursday, December 27, 2007

Sekarang, Kita Mulai Lagi... (Perenungan Tahun Baru)

Muhammad sang Nabi begitu bergetar ketakutan saat Sang ruhul kudus Jibril mendatanginya di sebuah gua yang sunyi. "IQRA....IQRA...." Sebuah perintah awal dari sang penyampai pikiran suci atau wahyu Tuhan.....

Itu sebuah awal. yah, itu adalah awal dari kerumitan yang harus ditanggung seorang pedagang dalam mencipta, mengatur, menjaga, dan memelihara suatu umat. Suatu awal yang begitu mencekam, namun akhirnya terlewati dengan sebuah kesungguhan hati. Meskipun sebuah awal itu tidak menjadikannya sebagai histori sebuah pertanggalan.

Sama halnya dengan Socrates, seorang "buruk rupa", yang berasal dari sebuah polis besar penyumbang kebudayaan eropa dan dunia, Athena, ketika dia mulai berpikir tentang kebenaran-kebenaran yang mulai diselewengkan oleh para sophis di sekitar kota. Untuk memulai peperangan diskusi dengan para masyarakat yang telah terhipnotis oleh sophis-sophis - yang menjual ilmunya dengan sebuah atau beberapa logam perak hingga emas-, saya yakin ia sangat berat dan terbebani.

Dari awalnya sebuah keresahan, akhirnya dia sadar harus memulai peperangan itu. Dia mulai berjalan ke pasar-pasar, alun-alun kota, serta ke perkampungan hanya untuk mencari sebuah kebenaran melalui diskusi-diskusi filosofis. Sekali lagi, melalui diskusi-diskusi filosofis, bukan dengan suatu kekerasan. Itu adalah sebuah strategi menarik tawaran dari seorang filosof agung dalam memulai menghadapi sesuatu perbedaan. Walaupun akhirnya beliau dihukum mati, melalui racun, hasil putusan pengadilan tertinggi dikota itu. Tragis memang. Namun kita harus menghargai proses sebuah permulaan yang beliau hadapi dan akhirnya beliau berani untuk keluar dan berperang.

Socrates mungkin mirip dengan Isa al-Masih (bagi sebagian golongan), seorang utusan, bahkan banyak pula yang mengakuinya sebagai anak dari Tuhan. Ketika Tuhan memberikan Titahnya untuk menyampaikan pesan kebesaran dan ke-esa-an Tuhan. Sebuah tugas yang berat. Ketika diawali dari takdir yang menempel padanya, sebuah persalinan di sebuah kandang yang tidak biasa, serta tanpa adanya seorang pejantan yang mengakui pernah menghamili seorang Maryam, ibunya.

Memulai untuk menyampaikan wahyu dengan permusuhan dengan sebagian orang adalah suatu yang berat. Yah, itu adalah permulaan yang sangat berat. Namun dengan sebuah keyakinan dan kepasrahan total, ia berani untuk memulai sebuah tugas suci dari Tuhan, walaupun dengan sembunyi di hutan, mendaki pegunungan, serta masuk-keluar perkampungan, akhirnya permulaan yang berat itu terlewati. Banyak pula yang akhirnya simpatik dan menaruh kepercayaan padanya. Yah, permulaan telah terlewati, walaupun akhirnya (menurut sebagian orang) dia ditangkap, disiksa, dicaci-maki, dan dihukum salib di Golgota.

Sebuah permulaan memang terasa sulit. Apalagi jika kita terus saja melihat hari-hari lalu yang terasa sangat buruk.

Saya sebagai rakyat indonesia, sebagai anak manusia, dan sebagai khalifah di bumi ingin mengajak kita untuk bangkit dan memulai. Yah, memulai berlaku baik dan membawa firman Tuhan untuk sebuah tahun yang baru meski dengan bayangan kobobrokan. Permulaan memang berat, namun... Sekarang, kita mulai lagi...

Tulisan dan Tuhan

"Tulisan itu adalah hal-hal, sebagaimana Tuhan, yang tak pernah selesai..."

Sebuah kalimat yang saya tiru dari seorang kolumnis, Goenawan Muhammad, dengan sedikit perubahan.

Sebuah tulisan ambigu dengan probabilitas yang tinggi sama halnya dengan Tuhan. Tak akan pernah selesai. Kalimat ini tidak menginginkan sebuah interpretasi negatif tentang Tuhan, namun sebuah interpretasi positif terhadap Tulisan.

Thursday, November 8, 2007

PSSI: Sebuah Representasi Politik Negeri

“Saya tak habis pikir dengan PSSI, Bang!” saya memulai pembicaraan.

“Masalah ketuanya?” Ivan langsung menebak dengan sebuah pertanyaan.

“Iya! Saya masih tidak bisa mengerti dengan pengurusnya.”

“Kenapa memangnya?”

“Loh, bukannya ketuanya sudah di vonis bersalah? Kenapa masih dijadikan atau dipertahankan menjadi ketua?”

“Mungkin…, memang ia masih dipandang pantas untuk memimpin PSSI.”

“Pantas apanya? Wong kriminalis ko’ masih dipilih dan dipertahankan untuk menjadi pimpinan.”

“Apa salahnya seorang kriminalis diangkat menjadi pemimpin?”

“Ya salah dong! Seharusnya seorang pemimpin itu menjadi panutan yang baik. bukan memberi contoh yang buruk. Kriminalis itu kan suatu keburukan. Dan itu jelas, tak pantas untuk dijadikan panutan.”

“Mungkin memang itu wajah politik Indonesia, Id.”

“Maksud sampeyan apa, Bang?”

“Masih mengedepankan jiwa ‘teman atau lawan’ dalam berpolitik! Bukan mendahulukan jiwa ‘kepentingan masyarakat’ dalam tindakan politiknya.”

Sebuah Puisi Tentang Puisi

Kata-kata terangkai
Bagai gerbong-gerbong yang saling di kaitkan
Memberikan sebuah perwujudan
Kereta api yang memiliki arti

Kata-kata dirangkai
Seperti bunga-bunga yang terikat
Membuat rangkaian keindahan
Untuk sebuah arti kerinduan

Kata-kata tersusun
Mirip sebuah mata rantai kehidupan
Hewan, tumbuhan, dan manusia
Sehingga memberi sebuah kehidupan

Kata-kata disusun
Menyerupai permainan bongkar pasang yang dibentuk utuh
Sehingga membentuk sebuah wujud
Yang semula terserak terlepas

Kata-kata terangkai, tersusun
Ingin memberikan sebuah makna
Namun tak dibatasi
Oleh sebuah interpretasi
Kesenangan penafsiran, dapat berubah satir
Kesedihan interpretasi, berbuah arti prasangka
Namun seperti tadi
Puisi tak pernah dibatasi
Lebih-lebih oleh sebuah dikotomi

Sebuah kepastian
Hanyalah sekitar entitas puisi
Sebagai pencurahan niat,
Pergolakan pikiran yang dituliskan,
Pengilustrasian rasa di jiwa
Dengan kata-kata yang dirangkai dan disusun dengan kait keindahan

Aliran Sesat : haruskah ada campur tangan negara?

Mesjid mulai sepi dari jamaah Jumat-an. Jam menunjukkan sudah jam setengah dua lebih. Yang tersisa adalah saya, Ivan, dan Yomi. Seperti biasa, kami sengaja tidak langsung kembali ke rumah masing-masing. Sambil sekedar meregangkan otot-otot yang terasa kaku, kami mencoba mendiskusikan apa yang disampaikan khatib tadi.


“Memang sekarang ini banyak sekali ajaran-ajaran yang sesat,” Yomi membuka diskusi. “Tadi sayang aja khatib tidak menyebutkan nama-nama aliran tersebut. Padahal banyak sekali. Yang baru dan masih sangat ramai adalah aliran Al-qiyadah Al-islamiyah, lalu ada aliran Alquran Suci di Bandung, dan aliran yang pernah dipimpin oleh Lia Eden, dahulu.” Yomi menambahkan.


“Betul, Yom,” saya menimpali. “Ada juga aliran Wahidiyah yang katanya punya juru selamat atau yang mereka bilang Ghauts.” Gelengan kepala saya tak bisa tertahan karena begitu banyaknya aliran yang dianggap sesat.


“Gua setuju dengan khatib bahwa aliran-aliran seperti itu harus kita perangi karena mengganggu ketentraman dan menodai akidah.” Yomi berbicara dengan luapan semangat.


Keadaan Yomi yang sangat menggebu-gebu dalam menghakimi aliran-aliran sempalan itu, karena pernah ada Saudaranya yang hampir di baiat oleh aliran-aliran yang dianggap sesat.


“Atau seharusnya polisi langsung tangkap saja pimpinan dan konco-konconya. Toh, MUI sudah membarikan fatwa sesat.” Saya menambahkan.


“Gua setuju, Id. Polisi harusnya turun tangan. Karena peristiwa ini sudah sangat mengganggu ketentraman umat islam.” Yomi sekali lagi begitu bersemangat.


Ivan yang sejak tadi hanya memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya, mulai mengeluarkan suaranya dengan sebuah pertanyaan, “Menurut kalian, apakah Negara seharusnya campur tangan dalam urusan beragama yang notabene bersifat privat atau pribadi?”


Saya sempat tergeragap mendengar pertanyaan dai Ivan. Begitu juga ketika saya melirik ke Yomi, dia juga sempat mengerutkan dahinya.


“Maksud kamu apa, Van?” Yomi balik bertanya.


“Tindakan polisi adalah tindakan negara” Ivan menjawab singkat.


“Kalau saya tangkap pertanyaan sampeyan, sepertinya sampeyan ingin mengatakan seharusnya negara atau polisi tidak ikut campur dalam masalah ini?” sama seperti Yomi, saya balik bertanya.


“Yup!” Ivan mulai mengeluarkan senyuman kemenangan.

“Loh, polisi itu kan tugasnya menjaga warga dari ketidaknyamanan, keonaran, serta pembuat keresahan. Dan bukannya kesesatan aliran itu sudah mengganggu ketentraman dan membuat resah warga. Muslim khususnya. Menurut saya sudah seharusnya negara campur tangan melalui polisi.” Yomi tak mau kalah dalam berpendapat.


“Tunggu, atau jangan-jangan kamu meragukan kesesatan aliran-aliran tersebut? Padahal MUI sendiri sudah memberikan fatwa.” Yomi mendesak Ivan.


“Kalau kamu tanya saya soal aliran itu sesat atau tidak, yah saya secara pribadi menganggap aliran itu sangat bertentangan dengan apa yang sudah menjadi keyakinan saya, mungkin juga kalian. Saya setuju mengatakan itu sesat. Berarti dalam hal ini saya setuju dengan MUI.” Ivan mulai mengangkat tubuhnya.


“Yang saya kurang setuju adalah tindak anarkis masyarakat dan anggapan kriminalisasi atas masalah yang sejatinya bersifat pribadi dan asasi. Beragama!” Ivan menambahkan.


“Tidak seharusnya, menurut saya, penangkapan langsung dilakukan oleh polisi setelah MUI mengatakan aliran itu adalah sesat. Dan, menurut saya pula, seharusnya polisi tidak perlu ikut campur dengan masalah ini.” Ivan terus bicara.


“Menurut saya, harus ada penelitian lebih lanjut dari para pemuka agama, islam khususnya, tentang maraknya aliran-aliran sempalan yang muncul. Diskusi saja tidak cukup tanpa ada penelitian yang kemprehensif tentang latar belakang sosial-psikologis dari pendirinya, misalnya. Dan sudah seharusnya para pemuka agama mulai berbenah diri tentang strategi dakwahnya dalam zaman ini.


“Oleh karena itu, menurut saya pengrusakan, pembakaran, atau penghancuran yang dilakukan oleh masyarakat dan penangkapan yang dilakukan oleh polisi yang menjadi tangan dari negara, tidak perlu terburu-buru dilakukan, atau barangkali memang tidak perlu dilakukan.


“Memang saya maklum terhadap kemarahan dan keresahan warga muslim, karena saya juga merasakan hal serupa. Namun seharusnya yang kita lakukan adalah bertanya lebih dahulu atau introspeksi terhadap diri kita sendiri, mengapa islam yang sangat kita yakini kebenarannya dan kita yakini akan membawa keselamatan hidup di dunia dan akhirat kurang memberi rasa aman dan nyaman bagi banyak pemeluknya sehingga muncul aliran sempalan, yang menurut saya timbul dari keadaan atau perasaan tertekan seseorang atau kelompok.

“Nah pertanyaan yang tepat untuk umat islam, baik itu para pemukanya ataupun kita sebagai individu, saat ini adalah ‘Sudahkah kita membuat Islam sebagai agama yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemeluknya?’” Ivan mengakhiri pembicaraannya kembali dengan pertanyaan.

Semuanya terdiam. Mungkin memikirkan pertanyaan yang sangat mengena dari Ivan. Pun begitu juga dengan Ivan sendiri. Terdiam.

Dokter Khitan

Baru beberapa lewat hari kembai kepada kesucian, Idul Fitri., yang seharusnya, atau tepatnya biasanya, dilalui dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, namun yang terjadi malah sebaliknya. Berita duka datang tadi pagi, 16 Oktober 2007 (4/5 Syawal 1428H), sekitar jam 10-an. Seorang yang pernah berjasa terhadap saya dan keluarga saya, dan mungkin terhadap banyak orang, harus merasakan sunnatullah, meningal dunia atau tepatnya kembali kepadaNya diusiannya yang ke-68 tahun.

INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI”UUN

Sesungguhnya kita adalah milkNya dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya.

Eddy Enggu adalah namanya, atau biasa disapa dengan ‘Panggu’ (Pak Enggu). Beliau adalah seorang dokter. Sebetulnya title ini juga tidak pernah terbuktikan oleh kertas yang ter-legalisir atau biasa di sebut ijazah, namun entah darimana kemampuannya serta izinnya ia bisa buka praktek di sekitar rumah. Tapi yang jelas orang-orang di kampung saya sudah sangat percaya dengan kepandaiannya. Sebetulnya beliau lebih dikenal sebagai “tukang sunat” di kampung saya, apalagi oleh kalangan anak-anak disekitar rumah. Karena beliau lebih sering didatangi oleh para orang tua yang anaknya ingin dikhitan.

Kenapa saya katakan ia sangat berjasa terhadap saya dan keluarga saya, karena beliaulah yang telah membantu menunaikan kewajiban saya, KHITAN. Khitan adalah salah satu kewajiban dalam agama Islam. Beliau adalah salah satu orang yang telah menyempurnakan keberagamaan saya. Beliau adalah salah satu orang yang telah menggugurkan salah satu kewajiban saya sebagai manusia beragama.

Terima kasih Panggu. Selamat jalan Panggu. Semoga engkau bersama amalmu dalam setiap pertanyaan akhiratmu tentang duniamu…

Tuesday, October 23, 2007

Hammas-Fatah dan Israel, dimana Palestina?

Presiden Palestina, Mahmood Abbas, sedang berada di Indonesia saat ini. Niat kedatangan beliau ke Indonesia, dan ke negara lainnya di Asia, adalah ingin meminta dukungan kepada beberapa “Negara Islam” di kawasan Asia untuk membuat dokumen kerja perdamaian yang akan diajukan nanti saat konfrensi perdamaian konflik Palestina dan Israel beberapa waktu ke depan. Dan negara adikuasa Amerika Serikat, adalah sponsor dari sidang perdamaian itu.


Beragam wacana muncul. Wacana yang paling menarik adalah ketika timbul isu bahwa Palestina di bawah kepemimpinan Presiden Mahood Abbas menginginkan negara kita menjadi juru damai dalam konflik Palestina dan Israel. Mendengar isu ini, tentu kita mengerti alasan Abbas, kenapa negara kita, Indonesia, yang diharapkan untuk menjadi juru damai dalam konflik yang tengah terjadi tersebut. Karena Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Saya pikir kita semua setuju dengan, perkiraan, alasan itu. Atau memang ada alasan lain, bahwa Abbas sudah sangat putus asa dengan tidak adanya dukungan dari negara-negara arab lalu kemudian Indonesia menjadi pilihan alternatif yang terpaksa sifatnya.


Mungkin kita perlu berbangga dengan keinginan Abbas terhadap negara kita. Walaupun pada kenyataannya, sering kali, politik luar negeri kita masih sangat lemah. Terutama jika dihadapkan dengan Bapak Angkat negara kita, Amerika Serikat. Menyikapi pernukliran Iran, misalnya. Ketika kita hanya “manggut-manggut” dengan resolusi PBB, yang memang kita ketahui bersama bahwa organisasi dunia itu seperti “kendaraan”-nya Negeri Paman Sam.


Wacana ini banyak menimbulkan pertanyaan. Ketika Indonesia diharapkan bisa menjadi juru damai konflik Palestina-Israel, padahal Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan israel, lalu bagaimana caranya, pertanyaan selanjutnya. Memang hubungan diplomatik, menurut saya, bukan berarti tidak bisa menjalin hubungan. Toh kalau ada istilah ‘hubungan diplomatik’, seharusnya juga ada istilah ‘hubungan non-diplomatik’. Menurut saya menjalin hubungan dengan negara lain, tidak harus punya ikatan yang bersifat diplomatis, apalagi masalah yang akan diangkat adalah masalah perdamaian. Tapi itu adalah menurut saya, tentunya pasti berbeda jika dilihat dari pandangan hukum.


Kalau memang hukum memandang berbeda, apakah kita harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Ini adalah pertanyaan yang menarik selanjutnya. Menurut saya membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara di dunia adalah suatu yang baik, termasuk Israel. Toh, tidak berarti dengan terbukanya hubungan diplomatik, suatu negeri harus tunduk degan nagara lainnya. Tapi pasti pendapat ini akan banyak ditentang. Saya yakin itu. Karena memang sebenarnya wacana ini bukan wacana baru. Masih banyak orang indonesia menganggap sangat berisiko jika membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sebenarnya pertanyaan yang sangat relevan dimunculkan adalah masalah dana. Indonesia dapat dana dari mana untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara lain? Apalagi yang meminta Indonesia menjadi mediator perdamaian adalah negara lain, dalam konteks ini adalah Palestina. Apakah Palestina mau membiayai hal tersebut? Atau Indonesia akan membiayai sendiri? Suatu kesalahan menurut saya. Karena kita ketahui, banyak sekali orang yang tidak setuju terbukanya hubungan diplomatik dengan Israel. Dan kita juga ketahui masih sangat banyak masalah besar yang dihadapi oleh Indonesia sendiri. Apakah pemerintah kita mau mengorbankan masalah besar yang tengah dihadapi dengan suatu masalah yang tidak bersifat urgent bagi negara kita. Pastinya akan terjadi keos dan dema-demo di sana-sini.


Yang menarik pula berkenaan dengan wacana ini adalah Palestina menginginkan Indonesia menjadi juru damai konlik Palestina dan Israel, padahal sama-sama kita sudah ketahui, masalah Palestina bukan hanya dengan Israel, namun ada masalah internal Palestina. Masalah yang sebenarnya, menurut saya, memegang kunci dari keinginan untuk berdamai dengan Israel. Yaitu perang saudara antara Fatah dan Hammas. Kenapa ini saya katakan sebagai kunci, karena berdamainya kedua pergerakan tersebut merupakan barometer kepercayaan dari Israel dan negara-negara lainnya. Kita ketahui Israel, dan Amerika, tidak meyukai visi dari Hammas yang terkesan sangat ekstrim. Berbeda dengan Fatah yang moderat. Oleh karena itu menurut saya, terlebih dahulu harus ada rekonsiliasi antara dua pergerakan tersebut sehingga dapat memberikan nilai baik dari negeri-negeri lain. Apakah Indonesia seharusnya menjadi mediator terlebih dahulu untuk rekonsiliasi Fatah-Hammas? Mengingat, pemerintah kita punya pengalaman dalam memediasi rakyat di Aceh.


Sebenarnya pertanyaan yang sangat substansial adalah apakah Indonesia seharusnya memenuhi keinginan tersebut atau lebih baik mengurus rumah tangga sendiri, toh gunung kelud, lumpur lapindo, pengangguran, kemiskinan, pemboman, konflik agama, dan masalah pelik lainnya. Bagaimana menurut anda?