Thursday, April 26, 2007

Baba Hasan Meninggal Dunia

Malam ini, tepat tanggal 25 April 2007, saya menerima kabar yang sangat tidak menyenangkan. Sekitar pukul 22.30 Hand phone saya berdering tanda adanya panggilan masuk. Segera saja saya jawab. Dan ternyata, “Id….., dapat salam dari Ivan. Baba Hasan meninggal.” Ternyata Ubay yang mengabarkan berita tak menggembirakan itu, tentu saja dengan nada sedih.

Mendengar kabar itu, saya tak bisa menahan kesedihan. Kesedihan akibat kehilangan seorang lagi yang saya kenal. Baba Hasan, orang tua yang penuh dengan semangat hidup. Seorang yang mengajarkan sebuah arti kehidupan dengan pentingnya sebuah silaturrahmi dengan manusia lainnya.

Setelah mendegar berita itu, pikiran saya langsung tertuju kepada Ivan, Teman sekaligus sahabat terdekat saya. Saya terus bertanya-tanya dalam hati tentang bagaiana perasaan Ivan dengan kejadian ini. Dengan tidak ingin banyak bertanya dalam hati, saya langsung mencoba menghubunginya.

“Assalamu ‘alaikum…” saya memulai pembicaraan.
“Wa ‘alaikum salam…..”

“Bang, saya baru dengar kabar dari Ubay.”

“Iya, Id. Baba duluan yang pergi…..” Ivan bicara dengan nada agak serak. Mungkin ia merasa sedih. Karena ia sangat sayang sekali dan sangat mengidolakan Ayahandanya itu.

“Jam berapa, Bang?”

“Tadi, Id, Jam setengah sepuluh.”

“Sabar ya, Bang….” Saya mencoba menjadi teman saat dirinya sedih.

“Iya, Id. Maafin Baba yah……,” Ivan berhenti sejenak. “Maafin Baba kalau punya salah ya, Id.” Ivan bicara dengan sangat tenang. Walaupun saya tahu dia pasti sangat sedih sekali. Terdengar juga dari suaranya yang memang tak bisa menutupi kesedihannya.

“Di mata saya, baba tuh ga pernah salah ko, Bang. Jadi ga perlu ada yang dimaafin.”
“Ga ada manusia yang ga pernah berbuat salah, Id.”

Saya terdiam sejenak mendengar perkataannya. “Sampeyan bener, Bang.”

“Insya Allah, kalau besok pagi saya bisa keluar kantor, saya ke sana, Bang. Mudah-mudahan Kepala Seksi saya ngijinin untuk melihat Baba untuk yang terakhir kali.” Saya yang memang sedang di Bekasi tak bisa malam itu langsung ke sana. Pikir saya besok pagi saya akan ke sana, insya allah.

“Kalo kamu sibuk banget, ga usah dipaksain untuk datang. Minggu juga bisa ke sini kan.” Ivan seperti berusaha untuk tidak membuat saya repot karena jarak yang jauh dan akan mengganggu pekerjaan saya.”

“Iya, Bang. Tapi Insya Alloh, kalau mendapat ijin saya dateng. Tapi kalau memang tidak bisa, Minggu pasti saya akan datang.” Saya berusaha untuk tidak membuat janji. Walaupun saya ingi sekali datang ke sana dan melihat Baba Hasan untuk yang terakhir kali. Dan tentunya menemani Ivan yang pasti merasa sedih.”

“Makasih ya, Id.”
“Sama-sama, Bang.”
“Ya udah, Assalamu ‘alaikum……”
“Wa ‘alaikum salam…”

Innalillahi wainnailaihi raaji’uun. Sesungguhya kita semua memang milik Gusi Alloh dan akan kembali kepadanya. Semua, yah, semua akan kembali kepadanya tanpa terkecuali. Karena memang seperti itu settingan takdir sebuah eksistensi kita sebagai tercipta sebagai manusia. (dicatat pada Kamis dini hari, 00.30.)

Wednesday, April 25, 2007

Syariat Ayo, Hakikat Monggo...

Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Saya yang merasa panas di dalam rumah, mencoba mencari kesejukan angin malam. Malam itu saya keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Seperti biasa memang kalau saya tak bisa tidur, entah itu karena merasa kepanasan di dalam rumah atau memang karena ada masalah yang dipikirkan. Saya pergi keluar rumah.

Kali ini saya mencoba berjalan lewat pintu belakang rumah saya. Karena memang saya ingin menuju jalan raya untuk sekedar melihat kendaraan lalu lalang di bawah terang lampu jalan. Namun ketika melewati suatu warung saya menemukan Ivan dan Yomi sedang asyik di dalamnya. Mereka sedang ngopi kelihatannya. Tanpa menunggu waktu lama, saya langsung masuk ke warung itu untuk menegur mereka.

Dan ternyata ketika saya tegur mereka tak begitu terkejut. Ketidak-terkejutan mereka, karena mereka sedang serius berdiskusi suatu masalah.

“elu, Id.” Yomi yang saya tegur hanya menjawab demikian. Lalu mereka kembali melanjutkan diskusi mereka.

“Tapi, menurut gue, syariat itu kepentingannya seperti pentingnya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya.” Yomi bicara dengan sangat serius.

“Waw, ngomongin masalah syariat yah?” Saya sedikit tertarik dengan bahasan diskusi di lewat tengah malam itu.

“Iya.” Yomi yang sedang serius bicara dan terpotong oleh pertanyaan saya tadi langsung menjawab dengan agak sedikit kesal.

“Van, coba elu lihat di sana,” Yomi menunjukkan tangannya keluar warung. “Lihat lampu lalu lintas itu. Coba kalau elu pikirin ga ada itu, bagimana jadinya?”

“Mungkin akan terjadi kecelakaan.” Saya yang tidak ingin kelewatan pada diskusi ini langsung menjawab pertanyaan yang Yomi lontarkan, sebenarnya, untuk Ivan.

“Nah, elu bener, Id. Pasti akan terjadi kecelakaan di sana-sini.”

“Apakah tidak mungkin, kalau banyak orang yang telah sadar akan etika bagaimana hidup bersama, walaupun tanpa adanya marka atau lampu lalu lintas itu, tidak terjadi kecelakaan di sana-sini?” Ivan langsung melemparkan pertanyaan yang bersifat kemungkinan.

“Ngga bisa. Tetep harus ada, tuh, yang namanya marka jalan atau lampu lalu lintas. Saya yakin kita akan tidak aman berada di jalan kalau tidak ada aturan lalu lintas itu.” Saya kali ini memihak Yomi.

“Betul. Gua setuju, Id, ama apa yang elu omongin barusan. Kita ngga bakalan aman kalau tidak ada yag namanya aturan lalu lintas.” Yomi senang sepertinya karena mendapat belaan dari saya.

“Tunggu, kan saya bilang, kalau banyak orang yang sudah mengerti akan etika hidup bersama di jalan. Ingat, yang saya bicarakan adalah suatu yang ideal.” Ivan bicara sambil tersenyum dan terlihat sangat tenang. Memang itulah pembawaannya, tenang.

“Ah, ngga mungkin tuh, bakalan kaya gitu. Menurut gue, non-sense ama yang namanya kondisi yang ideal. Tetep perlu ada yang namanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya. Jadi kalo menurut gue, syariat itu yah seperti tanda di jalan itu. Penting dan kaga bisa di tawar-tawar.” Yomi bicara dengan sedikit emosi.

“Jika kita kembalikan masalahnya ke masalah syariat, berarti, menurut sampeyan syariat itu tidak perlu lagi digunakan ketika orang-orang sudah banyak yang mengerti bagaimana cara menuju Tuhan?” Saya bertanya kepada Ivan.

“Bukannya ada suluk atau jalan hakikat untuk menuju Tuhan?” Ivan balik bertanya.

“Menurut gue. Pokoknya ngga ada tuh ceritanya orang yang kaga sholat masuk surga. Orang yang kaga puasa di bulan ramadhan itu kaga masuk neraka. Biar dibilang dia itu penganut ajaran hakikat atau apalah.” Yomi emosi lagi.

“heh…,” Ivan tersenyum sebentar. Dan langsung segera menjawab argumen yang sedikit emosi dari si Yomi dengan ketenangannya. “Yom, pada dasarnya, saya pribadi, ingat kata-kata saya, saya pribadi, setuju dengan pendapatmu. Kenapa saya bilang saya pribadi, karena yang mengerti kadar ketakwaan dan kedekatan saya sama Gusti Alloh, adalah saya pribadi, bukan kamu, dan bukan Aid.”

“Tapi, mbo ya kita dewasa sedikit dengan tidak menyalahkan orang begitu saja karena ia berbeda dengan kita. Bahwa mereka tidak menjalankan syariat yang ada namun berjalan menuju Tuhannya dengan suluk hakikat. Toh, ya sama-sama menuju Gusti Alloh.”

“Terus tadi saya bilang, saya sebenarnya setuju dengan pendapat kamu. Karena saya tahu kadar kedekatan saya sama Gusti Alloh. Saya masih membutuhkan aturan yang bisa mengingatkan saya sama Gusti Alloh. Saya masih memerlukan panduan hukum untuk sekedar dekat dengan Gusti Alloh. Jelas, saya masih membutuhkan sebuah syariat. Mungkin juga kamu, mungkin juga Aid.”

“Tapi, banyak orang yang sudah bisa dekat bahkan merasa menyatu dengan Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat yang kita anut. Nah, orang-orang itulah yang saya bilang tadi sebagai orang-orang yang sudah mengerti etika hidup bersama ketika berada di jalan raya. Dengan ada atau tidak adanya tanda-tanda lalu lintas, mereka mengerti bahwa ketika ada yang sedang menyebrang harus mengurangi kecepatan, ketika mengendarai kendaraan di sekitar perumahan, tidak ngebut. Atau ia tahu bahwa pejalan kaki harus berjalan di sebelah kiri, karena akan membahayakan dirinya. Seperti itulah gambaranya.”

“Namun, saya lebih cenderung mengatakan bahwa kita sebagai manusia masih sangat membutuhkan aturan, masih sangat membutuhkan sebuah syariat yang akan mengatur dan memberikan sebuah perdamaian yang berdampak pada sebuah ketenangan. Kenapa demikian? Karena kita ketahui bahwa sifat kebanyakan manusia, apalagi sekarang ini, adalah cenderung lebih mudah membuat keonaran dari pada melakukan kebaikan. Lebih mudah berbuat dosa dari pada melakukan kebajikan. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana mungkin, jika tanpa aturan, akan terjadi keseimbangan dan perdamaian. Pasti yang ada saling gontok-gontokan. Saling bunuh-bunuhan. Saling tuduh-tuduhan. Dan saling-saling lainnya. Bayangkan, sekarang aja, dengan banyak aturan di sana-sini, manusia masih saja tidak mematuhinya. Apalagi tidak ada tuh yang namanya konsekwensi sebuah ketidak-taatan pada hukum atau, syariat dalam hal ini.”

“Jadi menurut saya, untuk saya pribadi masih sangat memerlukan sebuah syariat untuk ingat kepada Gusti Alloh. Terlepas dari ketidak-tahuan saya tentang apakah kebanyakan manusia memang harus menggunakan syariat karena suatu keadaan atau kondisi sifat kemanusiaan yang memang telah ditakdirkan seperti adanya oleh Gusti Alloh. Tapi, tetap. Saya pribadi tidak punya ke-otoritasan untuk mengatakan bahwa seorang yang berjalan menuju Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat adalah sebuah kesalahan. Jadi menurut saya, SYARIAT AYO, HAKIKAT MONNGO....”

Lama saya dan Yomi terdiam. Kami hanya mendengarkan Ivan yang bicara dengan nada tidak menggurui. Dan tidak memaksakan kehendaknya untuk diikuti dan disetujui. Karena ia selalu saja mengatakan menurut pribadi saya… menurut pribadi saya…..

Dan tak terasa waktu sudah mendekati pukul 2 pagi. Dan tanpa adanya keputusan bahwa saya atau Yomi setuju dengan penjelasan panjang lebar Ivan, kami semua memutuskan untuk pulang.

Monday, April 23, 2007

Wallhu a'lam : Sebuah Bukti Kelemahan Manusia

Kemarin malam, kami, Saya, Ivan, Yomi, dan Ubay, menghadiri undangan muludan Kanjeng Nabi di RW 5. Kami merupakan perwakilan dari remaja mushallah Assyatiriyah, yang ada persis di sebelah rumah saya. Seperti biasa pada hari-hari besar Islam, remaja mushalah atau masjid di sekitar kelurahan kami, selalu mengadakan sebuah “perayaan”. Dan tidak lupa, saling mengundang antara remaja mushalah atau mesjid di sekitar Kelurahan.

Kemarin malam, saatnya kami bertandang ke RW 5, tempatnya remaja mushalah Darul Arqam. Dalam undagannya tertulis bahwa pengisi ceramahnya adalah Habib terkenal di sekitar kelurahan kami. Oleh karena itu, Yomi dan Ubay sangat interest dan memaksa ikut untuk menghadiri undangn tersebut. Padahal kami telah memiliki sebuah konvesi bahwa pada undangan kali ini, yang datang adalah saya dan Ivan. Karena Ubay dan Yomi juga harus menghadiri undangn acara muludan di daerah Kebayoran Lama, yang kebetulan berbarengan. Namun karena mereka memaksa untuk ikut mengikuti acara di Mushallah Darul Arqam di RW 5, maka dengan berat hati formasi dirubah. Kami berempat ke RW 5 sedangan Ade, Roni, dan Dimas pergi menunaikan undangan di Kebayoran Lama.

Setelah bebrapa saat kemudian.

“…….., Inilah dia al mukarom wal muhtarom Habiibina, Habib Rojik al indonisiy….. Kepadanya kami persilahkan” begitu lantang sang MC memperkenalkan penceramah yang memang telah kondang di kelurhan kami, bahkan namanya telah dikenal sampai di luar puau Jawa. Beliau sering kali mendapat “orderan” ke luar Pulau Jawa, terutama sering ke Sumatera. Memang, gosipnya, ada paman beliau yang hidup dan tinggal di sana.

Akhirnya naiklah sang habib itu. Terlihat para undangan begitu antusias. Banyak suara-suara takbir menggema saling bersahutan, “Allahu akbar……Alahu akbar……..”. Malah saya lihat ada yang sampai tidak dapt menahan deraian air matanya. Padahal beliau belum berceramah. Dalam hati saya hanya bergumam begitu besar dan muliakah dia, sehingga patut untuk ditangisi???

Habib yang satu ini tekenal dengan ceramahnya yang sangat lantang. Sehingga ia dikenal dengan Habib Jenggot Pedang. Kebetulan memang ia berjenggot lebat dan sangat lancip mirip kelancipan pedang. Namun sebenarnya, menurut saya, di sebut demikian karena dari mulutnya yang berkumis, saat ia bicara, selalu mengeluarkan kata-kata yang sangat tajam bagaikan pedang. Apalagi tehadap, yang ia anggap, orang-orang sesat.

Cermahnya, pertama-tama, masih sangat relevan dengan acaranya, yaitu mencari makna di balik peristiwa-peristiwa kelahiran Kanjeng Nabi. Namun setelah beberapa lama, dan ketika suasana sudah mulai hangat dengan suara-suaranya yang semakin malam semakin keras dan menggetarkan, mulailah kata-kata tajamnya keluar dari mulutnya.

“…….mereka itulah orang-orang yang selalu berpikir dengan rasional, mereka adalah orang-orang yang bodoh karena ke-liberalannya dalam membuat suatu hukum. Orang-orang yang hanya bisa mendekonstruksi hukum Tuhan, Mereka-mereka adalah orang-orang sesat….. maka kita harus memerangi orang-orang seperti ini. Darah mereka halal untuk dikucurkan, karena mereka sesat dan telah murtad.” Lalu tiba-tiba banyak sekali orang-orang yang saling bertakbir, “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……..”

Setelah beberapa saat, sang Habib menutup ceramahnya……

“……….. kurang lebihnya saya meminta maaf, karena kesalahan adalah milik manusia dan kebenaran hanyalah milik tuhan. Wallahu a’lam Bishshawab. Wal ‘afwu minku, Wassalamu ‘alaikum wa rahatullahi wabarakatuh.” Dan acara akhirya berakhir.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada Ivan, “Bang, habib Rojik itu keras banget yah pendapatnya? Menurut sampeyan gimana, Bang?”

“Kontradiksi” Ivan menjawab dengan sangat santai.
“Hah? Maksud sampeyan dengan kontradiksi itu apa, Bang?
“Padahal dia tahu kekurangan dia sebagai manusia dan bahwa cuma Gusti Alloh yang tahu segalanya. Namun tetap saja dia seenaknya menilai orang lain sesat dan murtad.”

Saya sedkit mengernyitkan dahi tanda berpikir. Berpikir untuk mengerti maksud dari perkataan Ivan tadi. Dan akhirnya, “oh…….., iya yah.” Dan ahirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kami masing-masing.

Tuesday, April 10, 2007

Mengemis (tidak lagi) Dilarang

Hari itu di Bilangan Senayan, ada sebuah pergelaran pameran di sana, tepatnya di JHCC. Dari segala macam komputer sampai telepon seluler di pamerkan di sana. Saya sengaja datang mengunjungi pameran itu sendirian karena ingin berlama-lama di sana. Kalau saya mengajak teman, agak khawatir dia akan cepat bosen berlama-lama di sana.

Hari itu waktu sudah beranjak sore. Terlihat warna langit sudah mulai memerah. Saya yang sejak siang tadi berada di dalam gedung JHCC, mulai agak keletihan. Kaki saya sudah mulai terasa agak pegal, perut saya menjerit ingin meminta jatahnya yang sejak siang belum diberikan, dan kerongkongan saya seperti sudah kering tak ada setitik air pun mengaliri.

Dengan keadaan seperti itu saya langsung memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu saya harus memenuhi hak perut dan kerongkongan saya. Akhirnya saya mampir di salah satu warung tenda persis di depan gerbang JHCC dekat dengan parkir timur senayan. Kebetulan memang di parkir timur senayan saat itu disesaki dengan kendaraan, maklum, karena memang hari itu hari terakhir pameran.

Saat saya makan siang yang tertunda, ada seorang ibu tua bersama anaknya yang duduk tanpa alas persis di samping saya dengan hiasan satu gelas plastik air mineral kosong di hadapannya. Ibu tua itu sepertinya adalah seorang pengemis. Kelihatan sekali dengan penampilannya yang agak kotor. Ibu tua itu berusia sekitar 50 tahun-an. Terlihat nampak tapak tangannya yang sebelah kanan sudah tak bisa di kontrolnya, terus saja bergerak. Mungkin ibu tua itu sudah mengalami struk. Ia membawa seorang anak dengan masih menggunakan seragam putih-merah. Anaknya itu berumur sekitar 6-7 tahun. Namun saya yang sambil makan, melihatnya agak terharu namun tetap ada perasaan senang karena anak itu sangat ceria dan bermanja-manja dengan ibunya.

Lalu saya coba mendekati anak ibu itu, “De, lagi main apa?” saya bertanya demikian sambil menaruh sedikit duit recehan ke dalam gelas plastik air mineral kosong yang tepat berada di depan ibu tua itu yang sedang mengajak anaknya bermain-main dengan sebuah kelereng.

“Eh, makasih, Mas. Hayo jawab, tuh kamu di tanya sama om-nya tuh. Bilang makasih dulu hayo!” ibu tua itu menagajak bicara anaknya dan menyuruhya untuk menjawab pertanyaan saya sambil membetulkan posisi duduk dan mulai memangku anaknya itu.

Namun anak kecil itu tidak menjawab apa-apa hanya sedikit menahan rasa malu dan mulai memeluk ibu tua itu. Yang terdengar hanyalah suara ringisan dari anak itu, pertanda bahwa anak itu sangat malu untuk bicara dan menjawab pertanyaan saya.

“Maaf, Mas, memang anaknya sangat pemalu.” Ibunya seperti tidak enak dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ananya.

“Tak apa-apa, Bu, namanya juga masih kecil”
“Iya, Mas.”
“Usia berapa, Bu, anaknya?
“Enam tahun, Mas.”
“Pulang sekolah?”
“Iya, tadi pulang sekolah langsung saya bawa ke sini.”
“Kelas berapa, Bu?”
“Baru kelas satu, Mas.”

Setelah sedikit banyak bicar dan bertanya, ada yang membuat saya sangat peasaran ingin menanyakan. Yaitu dari mana biaya sekolah anaknya itu. Apakah dia masih punya suami yang bekerja atau kah….??? Sebelum hati saya menjawab yag bukan-bukan, akhirnya saya coba beranikan untuk bertanya kepada ibu tua itu. Namun dengan sedikit strategi bertanya.

“Bapaknya kerja apa, Bu?””
“Oh, sudah lama meninggal, Mas. Saat dia umur tiga bulan.”
“Oh, maaf, Bu. Saya tidak tahu.”
“Tak apa-apa toh, Mas. Wong memang kenyataannya sudah meniggal. Tapi ngalhamdulillah, walaupun Bapaknya sudah meninggal, anak ini tetap bisa sekolah.”
“Alhamdlillah ya, Bu.”
“Iya, Mas. Meskipun cuma ngemis-ngemis kaya gini masih bisa nyekolahin anak.”
“Cuma ngemis?”
“Ya iya toh, Mas. Memang saya harus cari uang bagaimana lagi, wong tangan kanan saya ini aja udah ga bisa diam,” Ibu itu bicara sambil mengangkat sedikit tangan kanannya yang sudah struk. “Dulu sebelum tangan saya seperti ini, kerjaan saya yah, jadi pembantu di rumah orang kaya, Mas. Dapat kerjaan sekalian dapat tempat tinggal. Sekarang karena tangan saya sudah ga bisa saya pakai untuk bekerja, ya akhirnya saya ngemis aja untuk biayain hidup anak.”

Akhirya saya disedikit tersentil dengan pembicaraan kami tadi. Setelah saya menggoda kembali anaknya ibu tua itu. Saya mencoba mencubit pipi anak itu yang memang terlihat tembam. Namun di saat menggoda anak itu hati saya terus bertanya-tanya.

“Mengemis. Mengemis bukannya suatu yang tidak baik, bahkan dilarang dalam pandangan agama, dan sepertinya juga pandangan sosial-budaya? Bukannya ustadz-ustadz di majlis-majlis ta’lim selalu mengatakan bahwa ‘tangan yang di atas adalah lebih baik dari tangan-tangan yang di bawah’?”

“Namun bagaimana dengan kejadian ibu tua pengemis ini? Mengemis dengan sebuah tujuan mulia, mempertahankan hidupnya dan memperjuangkan kehidupan anaknya sehingga dapat suatu yang bisa dikatakan ‘layak’. Apakah tidak lebih baik Ibu pengemis tua ini dibanding dengan orang-orang kaya yang selalu memberikan sumbangan namun tetap juga melakukan korupsi?”

“Lalu apakah mengemis terlarang bagi ibu tua ini yang sudah tidak punya daya apa-apa lagi untuk mencari sebuah nafkah kehidupan, kecuali hanya dengan mengemis, demi sebuah tujuan mulia memberikan kehidupan bagi anaknya? Apakah agama masih tega melarang ibu tua itu menjadi seorang pengemis, ditengah-tengah orang-orang kaya yang borjuis dan egois dan negara yang tidak mempunyai rasa simpati dan empati?”

Akhirnya waktu seakan-akan menyuruh saya untuk segera pulang. Dan akhirnya dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada ibu tua itu, saya beranjak ke tempat parkir motor dan segera meninggalkan senayan.

Monday, April 9, 2007

Ulang Tahun di Warung Nasi Uduk

Perbincangan di warung nasi uduknya Mpo Lilis. Saat saya, Ivan, Ubay, dan Yomi sedang makan nasi uduk lalu datanglah Om Kur.

Om Kur : Assalamu’alikum….
Kami : Wa’alikum Salam…
Saya : Eh, Om Kur.
Om Kur : Ap kabarnya nih anak-anak muda?
Ivan : Om Kur, kaya sudah tua aja. Wong masih kelihatan muda ko.
Om Kur : Iya, nih. Hari ini jadi semakin tua karena tambah umur.
Ubay : Lho, hari ini Om Kur ualng tahun?
Om Kur : Ya gitu deh.
Ubay : Wah, kalau gitu selamat ulang tahun Om. Mudah-mudahan selalu bahagia dan hidup senang serta dijauhkan dari bala bencana.
Om Kur : Doa sampeyan panjang banget, Bay?! Makasih deh.
Saya : Selamat juga Om. Mudah-mudahan dipanjangkan umurnya.
Ivan : Selamat yah Om, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.
Yomi : Iya saya juga ucapin selamat yah Om. Semoga-moga tambah kaya. Biar bisa traktir kita-kita di sini. Hehehe…..
Om Kur : Makasih yah anak-anak muda. Ya udah sekarang makan aja nasi uduknya Mpo’ Lilis gratis. Saya traktir lah.
Ubay : Wah jadi ga enak nih, Om. Harusnya ga usah didengerin omongannya Yomi. Tapi kalau emang Om Kur maunya traktir kita-kita ya ga apa-apa lah.
Saya & Yomi : Yeh…………. (sambil menempeleng kepalanya Ubay).
Om Kur : Ya udah. Tapi saya harus segera kembali ke rumah. Lagi ada mertua.
Saya : Oke Om, Makasih banyak yah….
Om Kur : Yah, sama-sama. Makasih juga doanya.

(Selagi kami makan, tiba-tiba Ubay nyeletuk bertanya kepada Ivan)

Ubay : Van, kenapa ente tadi doanya untuk Om Kur simpel banget?
Ivan : Masa simpel?
Ubay : Iya. Semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.
Ivan : Menurut saya itu ga simpel ko.
Ubay : Memangnya apa maksud doanya itu?
Ivan : Saya cuma ngucapin suatu yang wajar dan, menurut saya, semestinya.
Ubay : Wajar? Jadi menurutmu doa-doa kita tadi tidak wajar?

Ivan : Menurut saya, hidup tidak akan selalu mudah dan hidup tidak akan selalu bahagia. Karena bukannya hidup namanya kalau tidak ada kesedihan, tidak ada kesulitan. Gambaran kehidupan yang benar ada dalam surah Al-Insyirah, bahwsanya ada sulit dan juga ada mudah, ada senang dan juga ada sedih. Saya pikir mendoakan supaya selalu hidup bahagia, selalu dimudahkan, dijauhkan dari bala bencana adalah suatu gambaran kehidupan imajiner. Dalam arti, menyalahi definisi kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Karena tidak mungkin hidup itu akan bahagia terus, tidak mungkin hidup itu akan mudah selalu. Oleh karena itu saya cuma mendoakan Om Kur, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh. Jadi sedih-senang, mudah-sulit-nya yang beliau rasakan tetap berada dalam lindungan Gusti Alloh. Tidak lupa sama Gusti Alloh.

Yomi : Menurut lu, bagaimana kita menyikapi ulang tahun, Van?
Ivan : Senang..
Yomi : Iyah, gue setujuh banget tuh. Emang kita harus senang.
Ubay : Lho, bukannya seharusnya kita sedih bahwa umur kita malah berkurang satu tahun? Berarti ajal kita semakin dekat.
Saya : Betul. Sejatinya kan bukan umur kita bertambah, namun berkurang.
Ivan : Memang sejatinya umur kita berkurang, tapi bukan berarti kita harus bersedih. Namun seharusnya kita menyikapi dengan penuh kegembiraan bahwasanya sebentar lagi kita akan bertemu dengan Gusti Alloh.