Tuesday, August 28, 2007

Berlaku Baik

Aku bosan selalu berbuat baik
Kenapa?
Karena suatu alasan
Berbuat baik ko’ bosan?
Kamu tak akan pernah mengerti.
Makanya kamu jelaskan kenapa?
Pasti kamu juga akan tertawa mendengarnya.
Tapi bukankah kita memang seharusnya selalu berbuat baik?
Itu aku tahu.
Lalu kenapa kamu malah bosan.
Lebih tepatnya bukan bosan.
Lalu apa?
Lelah.
Lelah kenapa?
Yah karena suatu alasan.
Alasannya apa?
Sekali lagi, kamu tak akan pernah memahaminya.
Bukankah berbuat baik itu nanti akan menghasilkan buahnya?
Kamu tak usah mengajarkan aku soal itu.
Lalu kenapa kamu bosan dan lelah untuk berbuat baik?
Karena alasan yang tak akan kamu mengerti.
Alasannya apa?
Kamu tak akan bisa memahaminya, percuma.
Kamu tak pernah menjelsakan padaku. Mana mungkin aku bisa mengerti dan paham?

Karena aku akan merasa terpuruk dan hina jika sedikit berbuat salah. Dan aku malu untuk meminta maaf, karena meminta maaf bukan kebiasaanku.

Susu Tak Lagi Bersahabat

“Saya lagi Kesal, Bang” saya mengawali pembicaraan di atas sepeda motor kepunyaan Ivan.
“Jadi mau curhat?” Ivan menjawab sambil mengurangi kecepatan sepeda motornya, ”Ya udah, hayo atuh didegerin”
“Serius ini, Bang”
“Iya. Kenapa?”

Sebelum bercerita, saya membenarkan posisi duduk terlebih dahulu. “Sampeyan kenal Eti kan, Bang?”
“ Eti anaknya Mpo Jujum?” Ivan memastikan.
“Betul. Jadi ceritanya begini, beberapa hari yang lalu ia datang ke rumah, Bang”
“Tumben?”
“Ia datang untuk meminjam uang. Bayangkan coba Bang? Datang pertama kali ke rumah, sendirian, cuma untuk meminjam uang.”
“Saya pikir dia ngajak akhwat untuk dikenalkan sama kamu, Id. Lagian pasti banyak temanmu yang kasihan melihatmu yang sampai sekarang belum juga punya calon, Id.”
“Hus, usil banget sih sampeyan, Bang. Sampeyan kayak udah punya calon aja! Ingat umur, Bang.”
“Iya…iya….maaf, ceritanya teruskan deh”

“Sampeyan tahu dia mau pinjam uang karena apa?”
“Mana saya tahu, Id. Wong kamu belum bicara”
“Dia pinjam uang untuk anaknya.”
“Memang anaknya kenapa, Id? Sakit?”
“Bukan, Bang”
“Lalu kenapa?””Anaknya sudah lama tidak minum susu.”
“Apa?”
“Anaknya yang masih balita sudah hampir tidak pernah minum susu.”
“Lalu kamu meminjamkannya?”
“Iya. Saya tidak tega membiarkan anak balitanya tidak minum susu. Apalagi suaminya yang kerjanya serabutan pulangnya tiga hari sekali.”
“Bagus dong kalau begitu.”
“Apanya yang bagus?”
“Ya itu tadi, kamu mau meminjamkan uangmu untuk anaknya beli susu. Kan memang susu lagi mahal, Id. Susu sudah tidak bersahabat lagi dengan orang-orang miskin. Entah siapa yang tega-tega menaikkan harga susu sehingga malambung tinggi. Kamu memang baik, Id”

“Tapi aku kesal, Bang”
“Loh kesal kenapa?”
“Sampai sekarang si Eti belum mengganti uang saya 50 ribu”

Ivan lalu menghentikan motornya. Lalu membalikkan badanya. Dan mengatakan “DASAR!” sambil menempeleng kepala saya. Lalu kembali berjalan kembali.

Tuesday, August 14, 2007

GAM, D.I. Aceh, dan NKRI dalam "Nasionalisme"

Kembali penurunan bendera merah putih diturunkan oleh orang tak dikenal di Lhoksumawe. Ada 100 lebih bendera merah putih yang sengaja dikibarkan oleh penduduk lhoksumawe di rumah-rumahnya dalam rangka persiapan memperingati hari kemerdekaan, namun oleh orang-orang yang tidak dikenal bendera merah putih yang lebih dari 100 bendera sengaja diturunkan pada malam dini hari kemarin.

Berita di atas saya lihat di Headline News, Metro TV. Ini seperti suatu bukti bahwa masih banyak gerakan-gerakan separatis di Indonesia saat ini, tidak terkecuali di Lhoksumawe, D.I. Aceh. Seperti sudah kita ketahui dahulu di Daerah Istimewa Aceh ada gerakan separatis yang bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mempunyai misi merdeka atau lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun itu (tampaknya/kelihatannya) sudah selesai. GAM dan pihak RI sudah melakukan negosiasi perdamaian melalui Perjanjian Helsinki. Dan sekarang, memang sudah dapat kita lihat, D.I. Aceh sudah jauh lebih aman (walaupun saya masih ragu). Tapi kita sama-sama optimis bahwa NKRI harus benar-benar terjaga. Namun optimisme kita ini sudah seharusnya diimbangi dengan pelayanan pihak pusat dalam mengayomi atau memaksimalkan otonomi daerah kepada daerah-daerah di luarnya. Wah maaf, saya sok tahu soal ini!

Kita kembali ke berita penurunan bendera. Belum lama ini, kita ketahui lewat berita, GAM ingin membentuk suatu partai lokal. Jika membentuk partai lokal, saya pikir, itu adalah hak demokratis seseorang atau golongan. Dan itu sah. Itu adalah bukti demokrasi. Namun yang jadi permasalahan adalah nama dan bendera yang digunakan. Mereka menamakan partainya dengan GAM dengan bendera kebanggaannya sebagai identitas partainya.

Memang memberikan nama suatu partai, juga, adalah hak demokrasi suatu golongan. Namun jika pemberian nama itu bertendensi pada suatu yang sensitif baik pada tingkat lokal maupun tingkat nasional, wajar jika hal itu harus dihentikan. Gerakan Aceh Merdeka adalah suatu nama yang sangat sensitif bagi NKRI. Jadi menurut saya sudah seharusnya nama itu tidak dipakai untuk suatu partai lokal. Dan sepertinya NKRI juga sudah memperingati mantan para punggawa GAM yang ingin membentuk partai lokal itu, seperti banyak berita yang kita telah dengar. Jadi kira-kira apa yang bagus namanya yah??

Kalau pernyataan saya di atas kita hubungkan pada berita di Headline News, Metro TV. Sepertinya ada kekecewaan dari mantan punggawa dan masyarakat yang beridealisasi GAM terhadap banyaknya komentar yang mendiskreditkan mereka dalam pemberian nama partai lokal yang ingin mereka dirikan. Sehingga mereka merasa marah dan berang karena idelisme mereka ditentang, padahal menurut mereka hanya ingin membentuk partai lokal saja bukan memisahkan dari NKRI dan membentuk negara baru. Akhirnya terjadilah kejadian pembunuhan nasionalisme lewat tindakan penurunan bendera merah putih secara sembunyi-sembunyi.

“Pembunuhan Nasionalisme”! itu sih sebjektif banget yah. Padahal orang-orang yang setia dan siap mati pada idealisme golongannya adalah bentuk lain dari “Nasionalisme” yang kuat, walaupun sifatnya parsial (atau dalam konteks ini disebut – kedaerahan). Ah saya sok tahu lagi. Tapi bagaimana menurut kalian tentang berita di atas?

Thursday, August 2, 2007

Ungu : Ingin Surga, Tanam Ikhlas

”Mampukah kau untuk berbagi tanpa hasrat ingin diberi…”. Sengaja saya tempatkan potongan syair soundtrack sinetron ‘Soleha’ yang didendangkan oleh kelompok band ngetop saat ini, Ungu. Karena kata-katanya dalem banget.

Saya tertarik sekali membicarakan group band Ungu sebagai penyanyinya. Ungu adalah adalah salah satu kelompok band populer di Indonesia. Memang Ungu bukanlah Dewa dengan ke-Idealis-Teokratis-nya. Ungu bukanlah Letto dengan syairnya yang syarat Puitis-Dialektis. Dan juga bukan Nidji dengan stylenya yang mirip-mirip grup band luar. Ungu adalah Band ”biasa” namun tetap bisa menjaga tingkat popularitasnya, mungkin dengan menjual titel ”biasa”-nya itu.

Beberapa waktu yang lalu sempat tersebar kabar bahwa Ungu adalah band Setan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya dua tanduk dan sedikit ekor pada huruf ”g” dalam kata ungu. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak kontroversi. Bahkan banyak sekali yang menyetujui secara buta tuduhan ini. Namun mereka yang setuju, tidak hanya asal bicara. Mereka merasa ada kaitan antara isu tersebut dengan banyaknya korban yang meninggal ketika menonton grup band kenamaan ini. Ah ada-ada saja...!

Namun seiring waktu, isu itu akhirnya redup dengan sendirinya. Entah mungkin karena sempat digundulinya Pasha sang vokalis sebagai wejangan buang sial? Ah saya tidak mau terlalu serius menanggapi hal klenik seperti ini.

Setelah sempat menyayikan soundtracknya film coklat strawbery, band ini kembali menjadi pedendang soundtrack salah satu sinetron di TV. Ikhlas adalah judul lagu soundtrack sinetron SOLEHA. Memang lagu ini bukan sebagai lagu pertama Ungu yang berjender Religi. Karena tahun lalu mereka sempat mengeluarkan album untuk memeriahkan Bulan Suci Ramadhan yang beraliran religius.

Ini membuktikan bahwa hal-hal klenik tidak harus kita tanggapi dengan serius. Apalagi kalau kita mau sedikit memikirkan isi dari lirik lagunya IKHLAS - OST SOLEHA

-----------------

saat dunia berhenti berputar saat manusia tak sanggup lagi berharap ketika mentari tak sanggup lagi berjanji menyinari dunia yang tlah kau singgahi mampukah kau untuk berbagi tanpa hasrat ingin diberi dihadapanNya...dihadapanNya…
ya Allah sesungguhnya manusia tak kan bisa menikmati surga tanpa ikhlas di hatinya sesungguhnya manusia tak kan bisa menyentuh nikmatNya tanpa tulus dihatinya

----------------------

Bagaimana menurutmu liriknya? Apkah kita semua sudah ikhlas sehingga mau masuk surganya Gusti Alloh.

Thursday, July 12, 2007

So' Idealis atau Memang Perduli?

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Sudah hampir satu bulan. Memang suatu hal yang kita suka, namun seringkali rasa malas mengalahkan kesukaan kita itu. Tapi biarlah itu menjadi suatu yang alamiah. Bukankah perlu dalam kehidupan ini ada pasang surut. Buktinya pasang surut air laut dalam semesta kita ini punya pengaruh yang sangat luar biasa bagi menunjang sebuah kehidupan yang sejati. Ah, banyak ngelanturnya. Oke! Kita mulai saja lagi…

---

Kemarin sore saya mendapat telepon dari seorang teman. Ia adalah seorang pegawai dengan golongan, mungkin bisa dibilang paling, rendah di tempat kerjanya. Pembicaraan kita agak sedikit ngalor ngidul. Namun setelah perbincangan sudah agak lama, dia mulai menceritakan suatu hal yang menurutnya sangat mengganggunya.

“Id, aku kemarin dikasih duit oleh pegawai yang tingkatannya, baik jabatan maupun pendapatan kerja, lebih tinggi dari aku.” Dia mengakui hal itu baru terjadi, persis sebelum ia menelpon saya.

“Lalu kenapa, kan lumayan, dapet rejeki tambahan…” Saya menimpali.

“Justru itu, aku malah ngerasa ngga tenang, Id”

“Loh, kenapa malah ngga senang. Wong dapet rejeki tambahan ko.”

“Aku ngerasa ngga tenang aja. Karena memang aku ngga biasa menerima sesuatu yang sifatnya ’mengupahi’ pekerjaan. Ngerti kan maksud aku?”

“Ah, sampeyan terlalu idealis”

“Masa...!? Aku cuma ngerasa mereka salah dalam bertindak. Jelas-jelas masih banyak orang yang miskin dan butuh uang. Ko malah ngasih aku, yang notabene adalah pegawai tetap dan mempunyai penghasilan yang cukup. Kan ini namanya salah bertindak, salah infak. Aku malu sama diriku sendiri, Id. Apalagi sebenarnya masih banyak orang-orang miskin yang butuh infak dan sedekah di luar sana, atau di kantor sendiri. Cleaning Service atau Satpam, misalnya.”

“Lalu kenapa sampeyan terima?”

“Pertama-tama sempat aku tolak. Namun dengan macam paksaan dan alasan, akhirnya aku dengan terpaksa menerimanya dengan memberikan sedikit ultimatum bahwa ini adalah yang pertama dan terkahir. Besok-besok ngga ada lagi kejadian seperti ini.

“Tapi tentunya dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk aku menerimanya. Nah sekarang aku mau minta pendapat sama kamu, apa yang harus aku lakukan dengan uang ini?”

”Ambil aja. Apalagi kalau sampeyan lagi butuh uang itu. Itu kan halal, bukan proses yang haram.”

“Aku kan dari tadi memang tidak memperkarakan itu halal atau haram, Id. Aku tahu itu halal, tapi menurut aku tidak baik. Tidak baik, karena suatu yang halal tidak tepat dipergunakannya atau salah dalam mengaktualisasikannya.”

“Wong statusnya sudah halal, masih diperumit aja.”

“Kalo menurutku, agama itu tidak mengistimewakan ke-halal-an tok, tanpa mempedulikan apakah itu bertentangan dengan kehidupan kemanusiaan atau tidak? Boleh jadi suatu yang halal itu tidak membawa kebaikan terhadap proses kehidupan. Cerai, misalnya. Cerai adalah suatu yang dihalalkan oleh agama, namun sejatinya ia sangat tidak dianjurkan bahkan sangat dibenci oleh Tuhan. Kenapa…??? Karena perceraian itu adalah suatu yang dapat membawa dampak negatif terhadap keutuhan keluarga dan sangat berpengaruh terhadap psikologis seorang anak yang menjadi korban perceraian ayah ibunya.”

“Ya sudahlah buat saya aja, hehehe....”

“Aku salah juga jika memberi uang ini ke kamu. Wong kamu udah kaya. Malah seharusnya kamu harus sering memberi sedekah ke tetanggamu yang rumahnya gubuk kumuh itu.”

Saya hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya terakhir. Saya tapi tidak habis pikir dengan teman saya itu. Dia itu tampak terlalu idealis sehingga terkesan sombong dengan tidak mau menerima uang itu. Atau memang bener-benar peduli terhadap kemiskinan.

Ah, semoga saja benar kalau memang ia peduli dengan kemiskinan. Kan lumayan ada satu orang yang masih peduli terhadap kemiskinan diantara banyaknya orang yang sudah lupa bahwa masih banyak disekelilingnya kaum papa.